Project Working Poper Series No PDF

of 33
79 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
ISBN : s Project Working Poper Series No. 02 DEFORESTASI DAN DEGRADASI LAHAN DAS CITANDUY Lilik Budi Proselyo Desember,2AQ4 Pusat Studi Pembangunan - lnstitut Pertanian Bogor Bekerjasama dengan
Document Share
Document Transcript
ISBN : s Project Working Poper Series No. 02 DEFORESTASI DAN DEGRADASI LAHAN DAS CITANDUY Lilik Budi Proselyo Desember,2AQ4 Pusat Studi Pembangunan - lnstitut Pertanian Bogor Bekerjasama dengan Partnership for Governance Reform in lndonesia - UNDP DEFORESTASI DAN DEGRADASI LAHAN DAS CITANDUY PENULIS: tilik Budi Prasetyo Cetakan Pertama Desember 2004 Diterbitkan oleh: Pusat Studi Pemhangunan - Institut Pertanian Bogor Bekerjasama dengan Partnership For Governance Reform in Indonesia - UNDP Bogor,20M Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Diperbolehkan mengutip dengan menyebutkan sumber KATA PENGANTAR Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu sistem ekologi yang tersusun atas komponen-komponen biofisik dan sosial (lttman systews) yang hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Namun secara administratif pemerintahan, wilayah DAS habis terbagi dalam satuan wilayah administrasi pembangunan kabupaten dan kota yang sangat terkotakkotak. Kondisi ini menyebabkan penanganan DAS menjadi tersekat-sekat dan sangat tidak efisien. Banyak program pemerintah yang dilakukan untuk menyelamatkan kondisi DAS dari kerusakan lingkungan yang semakin hari justru semakin bertambah sulit diatasi. Kenyataan ini juga seringkali memicu dan mempertajam konjlik sosial diantara stakeholders yang ada di dalamnya. Terlebih setelah UU No. 22 Tahun 1999 dan No. 25 tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah diberlakukan, jarak kepentingan antara satu daerah dengan lain daerah administratif semakin terasa sementara derajat tekanan terhadap sumberdaya DAS yang terdapat di wilayahnya semakin kuat. Akibatnya pengelolaan terhadap DAS juga semakin terpecah-pecah dan dilakukan sangat segmented menurut kepentingan masing masing pemangku otoritas wilayah administratif yangdilalui DAS tersebut. Akibat kelemahan integritas (kesatuan) penanganan DAS di setiap wilayah administrasi menyebabkan penanganan kerusakan sumberdaya alam memasuki wilayah politik-administrasi organisasional yang sulit penanganannya. DAS Citanduy merupakan salah satu dari 22 DAS yang tergolong kritis dan menghadapi masalah krisis-ekologi (erosi dan sedimentasi serta bahaya banjir) yang serius di Indonesia. Berkenaan dengan itu, Pusat Studi Pembangunan, Institut Pertanian Bogor didukung oleh Partnership for Governance Reform in Indonesia - UNDP melakukan studi - aksi Decentralisasi Pengelolaan dan Sistem Tata-pamong Sumberdaya Alam (Decentralized Natural Resources Management and Goaernance System Daerah Aliran Sungai Citanduy dengan mengedepankan konsep Emtironmental Governance Partnership System - EGPS atau Sistem Tata-pemerintahan Lingkungan Bermitra (STLB). Kegiatan ini mencoba menemukan sistem pengelolaan DAS secara bersama-sama (multipihak/multistakeholders) dengan pendekatan partisipatif. Empat prinsip yang hendak ditegakkan pada konsep tata-sumberdaya alam/lingkungan bermitra, adalah : (1) prinsip keberlanjrtan (sustainability); (2) partisipasi; (3) kemitraan (p ar tu er ship) ; dan (4) desentralisasi. Working Paper Series No. 02 yang berjudul Deforestasi dan Degradasi Lahan DAS Citanduy, mencoba untuk melihat tekanan penduduk pada levei kecamatan terhadap sumberdaya hutan, kemudian melihat jumlah lahan kritis yang dihasilkan dari perubahan penutupan dan penggunaan lahan. Studi diawali dengan membangun database dan mengevaluasi penutupan dan penggunaan lahan, membangun metodologi evaluasi lahan kritis, kemudian hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi tingkat degradasi lahan pada setiap kabupaten. Disadari bahwa masih banyak ha1 yang perlu dikaji lebih jauh sehingga permasalah yang terjadi pada DAS Citanduy dapat dilihat secara menyeluruh. Namun secara minimal working papff ini mampu memberi tambahan wawasan kepada pembaca terutama tentang deforestasi dan degradasi lahan di DAS Citanduy. Untuk itu, kitik dan saran sangat kami harapkan. Hormat kami, Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran Halaman t1 iv v vi vi L PENDAHULUAN L II. METODOLOGI 2.1,. Tempat dan Waktu Penelitian 2.2. Bahan dan Alat 2.3. Proses Pembangunan Data dan Analisis Pengolahan Data Peta Pembobotan Peringkatan Peta Tematik 3 J III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kondisi Biofisik DAS Citanduy Bentuk Lahan (Landform) Penutupan Lahan 3.L.3. Komponen Curah Hujan 3.2. Perubahan Sumberdaya Hutan dan Tekanan Penduduk Iv. KESIMPULAN 24 DAFTAR PUSTAKA 25 DAFTAR TABEL Nomor 1_. Pembagian Kelas dan (Larcdform) Teks Nilai Peringkat untuk Bentuk Lahan Halaman 6 2. J. 4. Nilai CP dan Peringkat untuk Tiap Kelas Penutupan Lahan Rincian Kelas Curah Hujan Tahunan dan Nilai Peringkat Rekapitulasi Bentuk Lahan DAS Citanduy Rekapitulasi Penggunaan Lahan DAS Citanduy Tahun 2003 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan di DAS Citanduy Rekapitulasi Lahan Kritis Rekapitulasi Lahan Kritis Dirinci menurut Sub DAS Rekapitulasi Lahan Kritis Dirinci menurut Kabupaten Rekapitulasi Kekritisan Lahan di Kabupaten Cilacap Rekapitulasi Kekritisan Lahan di Kabupaten Tasikmalaya Rekapitulasi Lahan Kritis dan Kritis Ringary di Kabupaten Ciamis Perubahan Penutupan dan Penggunaan Lahan Tahun \991, dan L A DAFTAR GAMBAR Nomor 1. DAS Citanduy 2. Diagram Alir Penelitian 3. Lanskap DAS Citanduy Teks Halaman ^J Bentuk Lahan DAS Citanduy 10 5. Penutupan Lahan DAS Citanduy Tahun Penutupan Lahan (L an d- coo er) Kabup aten Cilacap Penutupan Lahan (L an d-coo er) Kabup aten Tasikmalaya Penutupan Lahan (L an d- coo er) Kabupaten Ciamis Curah Hujan Tahunan (mm) Distribusi Lahan Kritis Hubungan antara Kepadatan Penduduk dan Prosentase Penutupan Hutan di DAS Citanduy 21. DAFTAR LAMPIRAN Nomar Teks 1. Rekapitulasi Penutupan Lahan Per Kecamatan di Kabupaten Cilacap, Ciamis dan Tasikmalaya Halaman 26 BAB I PENDAIIULUAN Proses kehilangan hutan alam tropis (deforestasi) telah menjadi sorotan internasional sejak beberapa dekade yang lalu. Diperkirakan tujuh juta hektar hutan tropis dihancurkan setiap tahunnya (Barbier et al. 1991). Banyak penelitian telah dilakukan, dan peneliti di banyak negara sepakat bahwa banyak faktor menjadi penyebab deforestasi yaitu : pertumbuhan populasi (Palo, 1994),logging (Kummer, 1991), pertanian ladang berpindah (Thapa & Weber, l99a), pembangunan jalan (Hirsch 198n, dan kebijakan pemerintah yang salah (Repetto & Cillis, 1988). Hampir semua penelitian tersebut menggunakan data pada level nasional/regional, sehingga karena perbedaan kondisi biofisik, sosial ekonomi dan se;'arah kawasan, maka solusi yang dihasilkan untuk mengatasi deforestasi tidak dapat dipraktekkan pada level lokal. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk melakukan kajian deforestasi pada level lokal kabupaten. Salah satu akibat dari konversi hutan adalah terjadinya lahan-lahan terdegradasi/ lahan kritis. Lahan terdegradasi (lahan kritis), merupakan hasil dari interaksi kondisi biologis, iklim, fisik sumberdaya lahan dan manusia sebagai pengelolanya. Lahan di suatu kawasan akan menjadi kritis apabila dipergunakan melampui kemampuan ekologisnya, yang disebabkan oleh alokasi penggunaan lahan yang tidak tepat, efektifitas kontrol pengelolaan sumberdaya alam yang lemah, intensitas pengelolaan ataupun tekanan penduduk yang sangat tinggi. Arifin (2002) menambahkan bahwa selain faktor intesitas penggunaan lahan dan tekanan penduduk faktor pendapatan per kapita dan tingkat keterjaminan kepemilikan iahan juga berpengaruh pada tingkat degradasi lahan. Paper ini mencoba untuk melihat tekanan penduduk pada level kecamatan kepada sumberdaya hutan, kemudian melihat luas lahan kritis yang dihasilkan dari perubahan penutupan dan penggunaan lahan. Studl diawali dengan membangun pangkalan data dan mengevaluasi penutupan dan penggunaan lahary membangun metodologi evaluasi lahan kritis, kemudian hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi tingkat degradasi lahan pada tiap kabupaten. Penilaian lahan kritis di suatu wilayah didasarkan kepada beberapa faktor, diantaranya adalah penutupan lahan, kemiringan lereng, curah hujan, dan jenis tanah. Faktor tersebut dibobot dan diberi nilai unruk tiap ke1as, sesuai dengan kontribusinya dalam proses erosi lahan. Skor kekritisan merupakan perkalian antara bobot dan nilai per kelas, dan dijumlah, kemudian dibagi menjadi kelas kekritisannya berdasarkan nilai maksimum dan minimum penjumlahan. Persamaan penghitungan Skor disajikan pada rumus di bawah (Prasetyo dan Setiawary 2001). SKOR = tzo x faktor kls lereng) + (15 x faktor k1s penutupan lahan) + (10 x faktor kls tanah; + (10 x faktor kls curah hujan) Metode di atas merupakan modifikasi dari metode yang dipergunakan Departemen Kehutanan dalam menentukan criteria kawasan lindung, dengan menambahkan factor penutupan lahan. Metoda ini membutuhkan input data spasial yang lengkap dan detail sehingga membutuhkan waktu lama dan dana yang besar. Badan Planologi Kehutanan untuk keperluan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, telah menyederhanakan penilaian lahan yang perlu direhabilitasi (indikasi kritis) dengan hanya memperhatikan penutupan lahan saja dan membagi kekritisan lahan menjadi 3 kelas indikatif, yaitu :. Indikatif kritis I adalah lahan yang mempunyai penutupan lahan terbuka, semak belukar/rumput, dan pertanian lahan kering,. Indikatif kritis II adalah lahan yang mempunyai penutupan lahan hutan r sekunder dan bekas tebangan, Indikatif kritis III adalah lahan yang mempunyai penutupan lahan pertambangan, savana, pemukiman, dan sawah. Menurut kriteria ini, faktor iklim dan kemiringan lereng tidak diperhitungkaru sehingga dinilai perkiraan lahan kritis metode ini cenderung lebih tinggi dari yang sebenarnya (oaer estimate). Data hasil dari analisis Badan Planologi, Departemen Kehutanan dicetak pada skala 1 : yang tidak mencukupi apabila digunakan untuk panduan di lapangan. Berdasarkan hal diatas maka untuk keperluan evaluasi secara cepat perlu dibangun metodologi yang sederhana dengan meman{aatkan publikasi peta dan data satelit yang ada, dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografi. BAB II METODOLOGI 2.1,. Tempat dan Waktu Penelitian Area studi adalah DAS Citanduy, yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Cilacap, sebagian kecil di Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan. DAS Citandup dapat dirinci lebih detail menjadi Sub DAS Citanduy Hulu, Cimuntur, Cikawung, Ciseel dan Kawunganten/Segara Anakan. Secara geografis kawasan ini berada diantara 108 - L09o 30 BT dan7 o - 8 o LS. Secara lengkap tempat dan waktu penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Studi-Aksi Sistem Tata- Pemerintahan Lingkungan Bermitra (STLB) f Enrsironmental GaCIernance Partnership System (EGPS) yang dilaksanakan selama satu tahun (April 20C4 - Maret 2005). Working Paper Series 02 sendiri merupakan hasil dari sttrdi (researcl) yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober t08:00 Gombor 1. DAS Ciionduy 2.2. Bahan dan Alat Metoda dibangun dengan menggunakan data Landsat Patffiaw 121/065 tahun 2003, Peta Curah hujan tahunan, peta topografi skala 1 : dan peta batas administrasi kecamatan serta kabupaten. Peta-peta tersebut telah tersedia/ menjadi milik publik, sehingga mudah diperoleh, baik dalam bentuk hardprint maupun dijital. Proses pembangunan data dan analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat Sistem Informasi Geografis (Arclnfo dan ArcViezu) serta perangkat lunak penginderaan jauh (Erdas Imagine). Sistem Informasi Geografi adalah seperangkat peralatan yang dipergunakan untuk mengoleksi, menyimpan, membuka, mentransformasi dan menampilkan data spasial dari sebuah kondisi geografis yang sebenarnya (real world) (Ozemoy et al. in Maguire, L986). Komponen penyusun sistem ini selain operator adalah hardware (seperangkat komputer dengan peripheralnya), dan perangkat lunak/software {Erdas Imagine, Arc-Info dan Arcoierr). Peripheral yang penting dalam sistem Informasi Geografi diantaranya adalah digitizer, scanner dan plotter. Prinsip dari Sistem Informasi Geografi adalah menggabungkan informasi berupa peta (data keruangan/spasial) dengan data numerik Proses Pembangunan Data dan Analisis Pengolahan Data Peta a. Pembangunan data penutupan lahan Data penutupan lahan dibangun berdasarkan data citra satelit Landsat tahun penyiaman Proses pengolahan data citra dimulai dengan melakukan koreksi geografi. Geokoreksi pada dasarnya adalah memproyeksikan data satelit kepada sebuah bidang data Q dimensi). Sistem koordinat dan proyeksi yang dipakai adalah Geografi dengan menggunakan datum WGS 84. Tingkat kesalahan (errol yang dipertahankan dalam proses g eokoreksi adalah lebih kecil dari ukuran 1 pixel (30 m x 30 m) Setelah proses geokoreksi data satelit dipergunakan untuk pengecekan penutupan lahan di lapangan. Perlengkapan yang diperlukan adalah GPS (Global Positioning System) dan kamera. Pengecekan dilakukan pada berbagai tipe penutupan lahan, terutama penutupan lahan yang masih belum bisa ditentukan secara pasti dengan data satelit Landsat saja. Pekerjaan setelah pengecekan lapang adalah proses interpretasi/klasifikasi data citra satelit. Metoda interpretasi yang dilakukan adalah maximum likelihood. Hasil dari klasifikasi adalah data penutupan lahan/peta penutupan lahan. Peta kemudian dipotong (clip) sewai dengan batas DA$ berdasar pada batas DAS yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan. b. Peta diiital curah hujan Peta dijital curah hu;'an dibangun berdasarkan peta curah hujan/ data analog curah hujan, melalui proses scaning Data dijital curah hujan kemudian di geokoreksi berdasarkan peta dasar. Proses selanjutnya adalah merubah data raster menjadi data vektor melalui proses on screen digitasi, berdasarkan kelaskelas curah hujan. Data vector curah hujan kemudian dirubah menjadi data raster dengan menggunakan perangkat lunak Arcrtiew. Data data raster curah hujan, yang dibedakan menjadi 6 kelas curah hujan Oabel3) c. Peta diiital landform Peta dijital landform dibangun berdasarkan pada peta topografi dan data citra landsat. Prosesnya dilakukan dengan cara oaerlay antara topografi dan landsat, kemudian diinterpretasi secara visual menjadi bentuk lahan (landform). Landform dibedakan menjadi 4 landform yaitu sangat datar hingga datar, bergelombang, curam/ dan sangat curam. Peta landform kemudian dipotong (clip) sesuai batas DAS Pembobotan Formula yang akan diterapkan dalam evaluasi lahan dalam studi ini adalah menggunakan metoda yang digunakan Departemen Kehutanan dalam menetapkan kawasan lindung (Sk Mentan no. 837/KptslII/1980 tentang kriteria dan tatacara penetapan kawasan lindung) yang dimodifikasi karena ketidaklengkapan data (Prasetyo dan Setiawan, 2003). Data kemiringan lereng diganti dengan data bentuk lahan (land form) dan diberi bobot 2Q kelas penutupan lahan diberi bobot 15 dan faktor curah hujan diberi bobot 10. Formula yang akan diplikasikan disajikan pada persamaan di bawah. SKOR = ( 20 x nilai peringkat landform ) + (15 x nilai peringkat kls penutupan lahan) + (1 0 x nilai peringkat kls curah hujan) Peringkatan Peta Tematik a. Bentuk lahan (landform) Bentuk lahan dibedakan menjadi 4 yaitu dat4 bergelombang, curam dan sangat curam. Rincian pembagian bentuk lahan dan nilai peringkat untuk masingmasing kelas disajikan pada Tabel1. Tabel1. Pembagian Kelas dan Nilai Peringkat untuk Bentuk Lahan (Landform\ No. Rincian Kelas Keterangan Nilai Peringkat 1. Datar Elevasi antara m 1 2. Bergelombanq Elevasi antara m 2,. Curam Elevasi antara9oo m 3 4. Sanqat curam Elevasi 12fi) m 4 b. Penutupan lahan Kelas penutupan lahan dibedakan menjadi 14 kelas. Peringkatan kelas didasarkan kepada besarnya nilai faktor tanaman (C) dan nilai pengelolaan lahan (P) pada persamaan Uniz;ersal Soil Loss Equation (USLE). Besaran CP mengacu kepada penelitian yang dilakukan di beberapa DAS di Indonesia (Asdak, 2002)- Nilai peringkat untuk tiap kelas disajikan pada Tabel 2. Nilai ini ditentukan berdasarkan perbandingan relatife nilai C dan P masing-masing kelas penutupan dan penggunaan lahan. No. Tabel 2. Nilai CP dan Peringkat untuk Tiap Kelas Penutupan Lahan Kelas penutupan dan Nilai faktor tanaman dan Nilai Peringkat penqgunaan lahan pengelolaan (C & P) 1. Tambak Daerah terbangun Air Tidak ada data Hutan alam Hutan mangrove Hutan tanaman Kebun campuran Sawah Belukar 0.1 i0 11. Rumput/alang Upland Bareland Tanah timbul Sumber : Asdak (2002) Catatan: frerdasarkan nilai Tanaman dan Pengelolaan Lahan (CP), pada perhitungan erosi dengan rumus USLE c. Curah hujan Curah hujan tahunan dirinci menjadi 6 kelas. Rincian dan nilai masing peringkat disaiikan pada Tabel3. Tabel3. Rincian Kelas Curah Huian Tahunan dan Nilai Peringkat. Nomor Rincian Kelas Nilai Peringkat L J 4 2s Proses pengambilan data dan analisis data secara lengkap ditampilkan dalam diagram alir pengolahan dan analisis pada Gambar 2. DATA /*torro*ori\ TERBIMBING PENUTUPAN LAHAN RECI}ISS KELAS BERDASAR FAKTORTANAMAN DAN PENCELOLAAN/ TOPOGRA Y or rro'o\ vlr/ripr A _/ It--;;;-= / Y '* 'l /-; ;\ ' PErA slope) ( sll: ) I,4,NDF DIGITASI PETA II \::-/ / ^trr'it mcue.avnq^n,/ + - EVALUASI KECAMATAN Gambar 2. DiagramAlir Penelitian d. Analisis Oaerlay dengan Sistem Informasi Geografi Kelebihan dari Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah mampu mengolah secara bersamaan informasi spasial dengan cepat dan tepat, walaupun input peta analog yang digunakan mempunyai tingkat ketelitianlskala yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena SIG mampu memproyeksikan data spasial tersebut menjadi satu sistem proyeksi yang sama. Selain itu SIG menggabungkan data dengan format yang berbeda, misalnya format raster dari klasifikasi data satelit dengan vektor dari proses digrtasi. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kondisi Biofisik DAS Citanduy Bentuk Lahan (L andform) DAS Citanduy membentang dari utara ke selatan, dari deretan pegunungan Gunung Cakrabuana (1,.721, mdpl), hingga kawasan Segara Anakan. Di bagian barat dibatasi oleh Gunung Galunggung Q.1,68 mdpl) dan Telaga Bodas Q.201, mdpl) dan Gunung Sadakeling (7.676 mdpl), di bagran timur terdapat Gunung Simpang Tiga sedangkan di bagian tengah DA$ di bagian hulu terdapat Gunung Sawal (7.784 mdpl) (Gambar 3). Struktur lanskap demikian menyebabkan landfarm DAS di bagian selatan ftilir) hingga ke bagian tengah DAS relatit datar, sedangkan di bagian ttara, timur dan barat merupakan daerah yang bergelombang hingga bergunung, dengan kemiringan lereng yang curam (Cambar 4). Daerah dengan bentuk lahan datar diperkirakan sebesar 69,5 % dari luas DAt sedangkan bergelombang, curam dan sangat curam berturut-turut sebesar 19%, 1A,4% danl% (Tabel ). abel 4. Reka tulasl Bentuk Lahan AN DAS L'AD \-I[ANUU Citand Bentuk lahan Luas (Ha) o/ /o Datar ,14 69,5 Bergelombang 91351,62 L9,0 Curam 54146, ,4 Sangat curam 4882,68 1,0 Sumber : Data primer (diolah), Tahun20(X s5 100,0 Gambar 3. Lanskap DAS Citanduy lffielo'&t 106:?0rE loa::ooe loai ot to8cwot Gambar 4. Bentuk Lahan DAS Citanduy 3.1.5.Penutupan Lahan Penutupan lahan dan penggunaan lahan didominasi oleh hutan tanaman dan kebun campuran, masing-masing 15,5 % dan26,87 %. Rincian detail untuk setiap kelas disajikan pada Tabel5. Sementara itu, distribusi penutupan lahan disajikan pada Gambar 5. Informasi penutupan dan penggunaan lahan dapat memberikan informasi mengenai tingkat pengelolaan lahan masyarakat di DAS Citanduy. Berdasarkan pengolahan dan analisis data, meskipun lahan sebagian besar bertopografi datar, tampaknya masyarakat lebih memilih kebun campuran dibandingkan dengan pertanian lahan kering ataupun sawah, baik di Kabupaten/ Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Cilacap. Keuntungan pilihan ini adalah bahwa selain masih dapat bercocok tanam palawija, petani masih dapat mengambil hasil tanaman buah-buahan ataupun kayu. Strategi ini dipilih petani mungkin karena lebih aman karena diversifikasi hasil panen. Faktor lain yang menyebabkan antara lain tingginya permintaan akan kayu sengon. Selain dari itu faktor tidak langsung yang mungkin mempengaruhi adalah tingginya harga input produksi untuk tanaman padi dan palawija. abel5. Rekapitulasi Penssunaan Lahan DAS
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x