TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Anak dan Penilaiannya Pertumbuhan Anak

Please download to get full document.

View again

of 25
43 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Anak dan Penilaiannya Pertumbuhan Anak Tumbuh berarti meningkatnya ukuran. Pertumbuhan terjadi apabila sel bertambah banyak atau bertambah besar ukurannya. Pertumbuhan anak
Document Share
Document Transcript
TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Anak dan Penilaiannya Pertumbuhan Anak Tumbuh berarti meningkatnya ukuran. Pertumbuhan terjadi apabila sel bertambah banyak atau bertambah besar ukurannya. Pertumbuhan anak (child growth) adalah proses perubahan jasmani secara kuantitatif pada tubuh seorang anak sejak pembuahan, berupa pertambahan ukuran dan struktur tubuh (Satoto 1990). Pertumbuhan yang dimaksud tidak hanya pada bagian luar tubuh saja tetapi juga pada organ dalam tubuh, termasuk jantung, hati dan otak. Berdasarkan definisi dalam The British Medical Dictionary, pertumbuhan merupakan perkembangan progresif mahluk hidup atau bagian organisme mulai dari tahap paling awal sampai dewasa, termasuk pertambahan dalam ukuran (Hurlock 1997). Pertumbuhan melibatkan suatu rangkaian perubahan, tidak hanya peningkatan dalam ukuran tetapi juga spesialisasi berbagai bagian tubuh untuk melakukan fungsi-fungsi yang berbeda. Proses pertumbuhan anak berlangsung pada sel, organ dan tubuh. Pertumbuhan tersebut terjadi dalam tiga tahap, yaitu hiperplasia (bertambahnya jumlah sel), hiperplasia dan hipertrofi (bertambahnya jumlah dan kematangan sel), dan hipertrofi (bertambahnya ukuran dan kematangan sel). Selanjutnya, setiap organ atau bagian tubuh lain mengikuti pola pertumbuhan yang berbeda dalam setiap tahapan tersebut (Solihin 1993, Anwar 2002). Pertumbuhan berlangsung sejak konsepsi sampai anak berusia 18 tahun. Tahapan pertumbuhan anak sejak konsepsi sampai berusia 18 tahun adalah sebagai berikut: Masa pralahir, yaitu masa mudigah (sejak pembuahan sampai dengan kehamilan 8 minggu) dan masa janin (usia kehamilan 8 minggu sampai dengan full term). Masa bayi, yaitu masa sejak lahir sampai dengan usia 1 tahun. Masa batita, yaitu bayi berusia 1-3 tahun. Masa prasekolah, yaitu anak yang berusia 3-6 tahun. Masa sekolah, yaitu anak yang berusia 6-12 tahun. 9 Masa remaja, yaitu masa pada saat anak berusia 12,5-18 tahun (pria) dan 10,5-18 tahun (wanita). Pertumbuhan pada usia 2 (dua) tahun pertama dicirikan oleh pertambahan gradual baik pada kecepatan pertumbuhan linier maupun laju pertambahan berat badan. Pada masa inilah anak memunculkan pola pertumbuhan yang konsisten dengan latar belakang genetiknya. Pertumbuhan cepat (catch-up growth) dimulai pada usia 3 (tiga) bulan dan berakhir pada usia bulan, sementara pertumbuhan lambat (lag-down growth) sedikit lebih belakangan dan dapat belum berakhir hingga usia 24 bulan (2 tahun). Satoto (1990) mengemukakan bahwa fase pertumbuhan lambat terjadi pada awal pertumbuhan, berupa hasil sintesis enzimatis awal dan perubahan faal dalam sel. Panjang pendeknya fase ini sangat tergantung pada masukan zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan keadaan faal ses-sel dalam tubuh. Sedangkan dalam fase eksponensial terjadi peningkatan jumlah sel yang berlipat ganda dalam setiap proliferasi. Keadaan ini terjadi bila masukan gizi optimal dan tidak ada faktor lain yang mengganggu. Fase pertumbuhan tetap (stationer) terjadi akibat pembatasan-pembatasan yang ada termasuk kemungkinan keterbatasan masukan zat gizi dan adanya gangguan lain. Pola pertumbuhan dibatasi oleh dua hal utama yaitu faktor genetis dan faktor lingkungan (Margen 1984). Kemampuan genetis dapat muncul secara optimal jika didukung oleh faktor lingkungan yang kondusif. Pertumbuhan akan berlangsung optimal jika kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan organ tubuh tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang tepat dan tubuh tidak terpapar infeksi yang dapat mengganggu proses pertumbuhan. Jika ada hal yang tidak mendukung pertumbuhan maka akan terjadi gangguan pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan terjadinya gagal tubuh. Gangguan tumbuh kembang dapat diartikan sebagai pertumbuhan mendatar yang menyimpang dari standar baku pertumbuhan WHO. Gangguan pertumbuhan banyak ditemui di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Asia Selatan sejak tahun 1975 sampai 1990 terdapat lebih 50% anak balita yang diklasifikasikan underwegiht dan stunted. Hampir selama 10 tahun pertumbuhan anak balita di Indonesia relatif tidak mengalami perbaikan. Meskipun pada saat 10 lahir status gizi anak baik yang ditunjukkan dengan ZBBU 0 namun semakin meningkat umur anak semakin menjauh dari standar ZBBU seharusnya. Setelah umur 12 bulan terjadi pertumbuhan mendatar pada ZBBU antara 1 sampai 2. Hasil kajian Jahari et al. (2000) terhadap data SUSENAS menunjukkan tingginya prevalensi gizi kurang di Indonesia sekitar 28% pada tahun 1998 dan terjadi peningkatan prevalensi gizi buruk dari 6% pada tahun tahun 1989 menjadi 9.5% pada tahun Penelitian tersebut juga menunjukkan masalah gangguan pertumbuhan sudah mulai muncul pada usia dini. Gangguan tumbuh kembang pada anak balita terjadi baik pada anak perempuan maupun anak laki-laki. Dari data Survei Gizi dan Kesehatan HAKI, tinggi badan rata-rata anak balita pada umumnya mendekati rujukan hanya sampai dengan usia 5-6 bulan, kemudian perbedaan tinggi badan menjadi melebar setelah usia 6 bulan, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Kondisinya sama dari tahun 1999 sampai dengan tahun Gangguan pertumbuhan yang dicerminkan dengan rendahnya tinggi badan menurut umur (stunting) erat kaitannya dengan kualitas anak tesebut. Kurang gizi yang dimanifestasikan dalam bentuk gangguan pertumbuhan akan berpengaruh terhadap perilaku dan kecerdasan anak (Dasen 1988). Pengaruh langsung adalah terganggunya fungsi sistem neuron dan susunan pusat syaraf; pengaruh tidak langsung adalah rendahnya aktivitas anak untuk melakukan eksplorasi sebagai adaptasi menghemat penggunaan energi. Hasil-hasil penelitian di Jamaica, Nepal dan West Bengal mengungkapkan bahwa anak yang kurang gizi selalu mendekap dengan ibunya dan lebih sedikit bermain dibanding dengan anak-anak yang gizinya baik (Grantham, McGregor, Walker, Chang, & Powel 1997). Walka dan Pollit (2000) menemukan tinggi badan berhubungan nyata dengan perkembangan motorik anak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan kekurangan gizi pada usia dini berdampak pada terganggunya tumbuh kembang, rendahnya kemampuan kognitif yang tercermin dari IQ, rendahnya kematangan sosial pada saat usia sekolah yang ditunjukkan dengan rendahnya perhatian. Kemampuan belajar dan pencapaian prestasi di sekolah (Martorell 1995). Disisi lain imunitas tumbuh anak juga rendah sehingga lebih rentan terhadap serangan penyakit infeksi. Dampak jangka pendek 11 dan jangka panjang dari keadaan gizi pada masa janin dan usia dini seperti terlihat pada Gambar 1. Dampak Jangka Pendek Dampak Jangka Panjang Keadaan gizi pada masa janin dan usia dini Perkembangan otak Pertumbuhan dan masa otot serta komposisi tubuh Kognitif dan performans pendidikan Imunitas Kapasitas Kerja Program metabolisme: glukosa, lemak, protein, hormon/reseptor/gen Diabetes, obesitas, jantung, hipertensi, kanker stroke dan penuaan dini Gambar 1. Dampak Jangka Pendek dan Panjang dari Keadaan Gizi pada Masa Janin dan Usia Dini (Sumber: ACC/SCN 2000). Berdasarkan Gambar 1 tersebut dapat dipahami bahwa masalah gizi tidak saja berdampak jangka pendek tapi berbekas sampai masa depan. Dampak jangka pendek gizi kurang dapat mengakibatkan hambatan pertumbuhan panjang badan sekitar 10 cm, berat badan sekitar 2 kg dan hambatan mental yang berpotensi turun sampai 10 poin, meningkatnya anemia dan kematian anak (Woodshouse dalam Kartika, Prihartini, Syafrudin, dan Jahari 2000). Gizi kurang dan buruk tidak hanya meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas prenatal dan bayi tapi juga mempengaruhi pertumbuhan fisik jangka panjang, perkembangan kognitif, kapasitas belajar, prestasi sekolah dan prestasi kerja di masa depan. Sehubungan dengan hal itu, Barker (1994) berhipotetis bahwa masalah gizi pada umur satu tahun dapat berdampak pada keterlambatan perkembangan kognitif dan meningkatnya kejadian penyakit degenarif atau penyakit non infeksi yang dikenal sebagai implikasi double burden. Pada awalnya orang masih beranggapan pertumbuhan dipengaruhi oleh tempat, budaya, etnik dan genetik. Namun dari hasil kajian terhadap data pertumbuhan anak balita di Pakistan, Swedia dan Hongkong di desa dan kota, 12 Kalberg, Jalal, Lam, Low, dan Yeung (1994) menyimpulkan bahwa gangguan pertumbuhan tidak disebabkan oleh genetik dan etnik tapi lebih disebabkan karena lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah gizi, infeksi, kualitas ibu dan interaksinya. Dalam hal ini Husaini (1999) menyatakan bahwa praktek pengasuhan berbeda antara budaya dan tempat namun kebutuhan anak terhadap makanan, kesehatan, perlindungan dan kasih sayang bersifat universal. Terjadinya gangguan pertumbuhan yang menyebabkan pertumbuhan mendatar (gangguan tumbuh kembang) berkaitan erat dengan dua faktor langsung yaitu: 1) intake gizi dan 2) infeksi. Kedua faktor langsung tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, pola asuh dan pelayanan kesehatan. Menurut Soekirman (2000) terdapat empat alasan mengapa terjadi gagal pertumbuhan pada anak yaitu : 1) Anak tidak cukup mendapat makan, khususnya makanan pendamping; 2) Anak bertambah aktif ketika mulai belajar berjalan sehingga kebutuhan makanan perlu ditambah, namun banyak ibu tidak memberikan tambahan. Hal ini mengakibatkan output tidak sesuai dengan input; 3) Penyakit dan infeksi mempengaruhi penggunaan zat gizi dalam makanan. Selain itu, juga menyebabkan nafsu makan berkurang sehingga zat makanan yang masuk dalam tubuh sedikit dan 4) Anak-anak memerlukan kata-kata lembut dan sentuhan-sentuhan penuh kasih sayang yang dapat merangsang peningkatan hormon pertumbuhan dan daya tahan tubuh. Gangguan tumbuh kembang dapat dicegah dan diperbaiki melalui: perbaikan konsumsi, suplemen dan penyuluhan gizi, peningkatan kualitas pola asuh, pelayanan kesehatan dan pencegahan terhadap infeksi. Menurut Husaini (1999) peningkatan pola asuh dapat dilakukan dengan empat pendekatan yaitu pendekatan motorik anak dengan KMS perkembangan motorik, pendekatan informasi, pendekatan keterampilan dan pendekatan sumberdaya keluarga. Penilaian Pertumbuhan Penilaian pertumbuhan dapat dilakukan dengan menggunakan metode antropometri melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, dan tebal lemak kulit. Berat badan digunakan untuk mengukur pertumbuhan menyeluruh dan tinggi badan atau panjang badan dipakai untuk mengukur pertumbuhan linier. Lingkaran organ tubuh tertentu (lengan atas, 13 kepala, dada, paha) atau panjang organ tertentu (tulang belakang, tulang paha, tulang lengan, rentang tangan, tinggi duduk) atau tebal lemak dibawah kulit dipakai sebagai ukuran pengganti tak langsung (Gibson 1990). Menurut Myers (1992), ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat adalah bobot badan atau tinggi badan. Pertumbuhan pada masa kanak-kanak adalah proses yang relatif stabil. Pertumbuhan yang dilihat dari kenaikan berat badan rata-rata pada 6 (enam) bulan pertama naik sebesar 0,5-1,0 kg per bulan. Peningkatan berat badan sampai akhir tahun pertama berkisar dari 0,35-0,50 kg per bulan. Selama tahun kedua, angka penambahan berat badan sekitar 0,25 kg per bulan, kemudian pada usia pra sekolah menjadi sekitar 2 kg per tahun sampai berusia 10 tahun (Jelliffe 1994). Pertumbuhan yang dilihat dari tinggi badan pada akhir tahun pertama bertambah 50% dari panjang badan ketika lahir. Dan menjadi dua kali lipat pada akhir tahun keempat. Hingga pada usia 4 tahun, wanita tumbuh sedikit lebih cepat daripada pria dan keduanya kemudian tumbuh dengan laju rata-rata 5-6 cm/tahun dan 2,5 kg/tahun sampai munculnya masa pubertas. Menurut Soetjiningsih (1998), rata-rata kenaikan tinggi badan pada anak usia prasekolah adalah 6-8 cm/tahun. Penilaian status gizi masyarakat dalam kegiatan yang berkaitan dengan program gizi di Indonesia, dianjurkan menggunakan secara seragam baku rujukan WHO-NCHS sebagai pembanding dalam penilain status gizi dan pertumbuhan perorangan maupun masyarakat. Kesepakatan pakar gizi Indonesia yang bekerjasama dengan UNICEF (WHO 1995) memberikan keseragaman istilah status gizi baku antropometri berdasarkan baku antropometri WHO-NCHS : a. BB/U : Gizi Lebih : 2 SD Gizi Baik : -2 SD z-skor 2 SD Gizi Kurang : -3 SD z-skor -2 SD Gizi Buruk : -3 SD b. TB/U : Normal : -2 SD Pendek/Stunted : -2 SD c. BB/TB : Gemuk : 2 SD Normal : -2 SD z-skor 2 SD Kurus/Wasted : -3 SD z-skor -2 SD Sangat kurus : -3,0 SD 14 Perkembangan Anak dan Penilaiannya Perkembangan Anak Menurut Monks, Knoers, dan Haditono (1992), perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat begitu saja diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat berputar kembali. Sedangkan Papalia dan Olds (1989) menyatakan bahwa perkembangan manusia adalah perubahan secara kualitatif dan kuantitatif pada seseorang. Perubahan kuatitatif adalah perubahan yang terjadi seperti tinggi badan, berat badan dan ukuran pada perbendaharaan kata. Sedangkan kualitatif adalah perubahan pada berbagai macam struktur atau organisasi, seperti perubahan alami pada intelegensi atau dalam cara berfikir. Menurut Yusuf (2000), ada beberapa prinsip perkembangan yaitu: 1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process). Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Perkembangan berlangsung secara terus-menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua. 2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi. Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan atau korelasi yang positif diantara aspek tersebut. Apabila seseorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kelambatan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti kecerdasannya kurang berkembang dan mengalami kelabilan emosional. 3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu. Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya. Contohnya, untuk dapat berjalan, seorang anak harus dapat berdiri terlebih dahulu dan berjalan merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya, yaitu berlari atau meloncat. 4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda 15 (ada yang cepat dan ada yang lambat). Umpamanya, (a) otak mencapai bentuk ukurannya yang sempurna pada umur 6-8 tahun; (b) tangan, kaki, dan hidung mencapai perkembangan yang maksimum pada masa remaja; dan (c) imajinasi kreatif berkembang dengan cepat pada masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada usia remaja. 5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Prinsip ini dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: (a) Sampai usia dua tahun, anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik dan belajar berbicara; (b) Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain). 6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidup yang normal dan berusia panjang, individu akan mengalami fase-fase perkembangan: bayi, kanakkanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua. Perkembangan anak usia pra sekolah terlihat pada Tabel 1. Ada empat aspek perkembangan yang perlu dibina dalam menghadapi masa depan anak (Yusuf 2000), yaitu: 1. Perkembangan gerakan (motorik) kasar dan halus. Gerakan kasar bila yang dilakukan melibatkan sebagaian besar bagian tubuh dan memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot-otot yang lebih besar. Gerakan halus bila hanya melibatkan bagian tubuh tertentu, dilakukan oleh otot kecil dan itu tidak memerlukan tenaga. Perkembangan motorik sangat penting bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Gangguan dalam perkembangan motorik dapat menghambat penyesuaian diri sehingga dapat mengakibatkan perasaan rendah diri. Gangguan motorik ini dapat disebabkan oleh kurang berfungsinya organ-organ fisik, tapi juga oleh gangguan psikis, seperti gangguan emosi, karena mendapat bentakan-bentakan dari orang tua yang sangat mengejutkan anak. 2. Bahasa/komunikasi pasif dan aktif. Komunikasi pasif adalah kesanggupan mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan oleh orang lain, sedangkan komunikasi aktif adalah kemampuan dalam berkata-kata. 16 3. Perkembangan kecerdasan (kognitif). Perkembangan kemampuan mengenai konsep atau pengertian, mulai dari mengenal warna, suara, rasa, nama hingga konsep yang lebih abstrak dan majemuk. 4. Perkembangan kemampuan menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial. Anak perlu berkawan, pergaulan yang luas, diajar aturan disiplin, sopansantun dan sebagainya agar tidak canggung dalam memasuki lingkungan baru. Tabel 1. Perkembangan Anak Usia Prasekolah a. Perkembangan Motorik Motorik Kasar Kebanyakan dapat meloncat dengan satu kaki dari 4-6 langkah Berlari, berputar, memanjat pohon dan tangga Duduk dengan kaki menyilang Dapat melompat turun dari ketinggian 2x tinggi kaki dengan kedua kaki mencapai tanah bersama-sama Motorik Halus Sudah dapat menggunakan gunting dengan baik Dapat melukis gambar manusia: kepala, tubuh, kaki, dan tangan Dapat mengopi huruf kapital berikut: O, V, H, dan T b. Perkembangan Sosial Perasaan yang kuat kepada keluarga Memberi perhatian pada saudara yang lebih muda Dapat lebih agresif pada saudara yang lebih tua Kerjasama yang kabur Tertarik pada aktivitas kelompok Kelompok bermain menjadi lebih besar; timbul persaingan di dalam kelompok Suka berbisik dan memiliki rahasia Cenderung bermain dengan kelompok sejenis, misalnya laki-laki dengan laki laki c. Perkembangan Kepribadian/Psikologis Sensitif kepada pujian dan cemoohan (disalahkan) Sangat ribut (berisik) Dapat mengambil benda yang bukan miliknya Tertarik pada perkawinan Suka bertanya bagaimana bayi keluar dari perut ibunya Mulai memperhatikan hal baik atau buruk Mulai mengkritik diri sendiri d. Perkembangan Bermain Menyukai bermain di luar rumah Menyukai bermain dengan air atau pasir Suka mengenakan pakaian orang dewasa Melukis dan mewarnai lebih baik Suka bermain dengan kartu, boneka e. Perkembangan Bahasa Pada usia 4 tahun dapat berbicara dengan perbendaharaan kata mencapai 1.500an Dapat mengatakan : halo, terimakasih, selamat tinggal, atau silahkan Ketertarikan menonton TV meningkat Dapat menyatakan dengan jelas namanya Dapat mengetahui jenis kelaminnya Menggunakan kalimat dengan 5-6 kata. Suka bertanya Sumber: Theresia, Caplan (1983) 17 Penilaian Perkembangan Anak Para ahli psikologi telah mengembangkan alat untuk menilai tingkat perkembangan dan sudah digunakan dalam berbagai penelitian ilmiah. Pengukuran outcome ini berdasarkan pengamatan terhadap milestone perkembangan. Menurut Pediatrics Neurologi terdapat enam kelompok milestone dalam developmental milestone yaitu cognitive milestone, language milestone, social milestone, social and emotional milestone, gross motor milestones, fine motor milestones, dan self help milestones. Skala Bayley merupakan alat pengukuran perkembangan yang cukup populer digunakan di banyak penelitian. Pada mulanya Bayley mengembangkan pengukuran perkembangan untuk berumur 3-24 bulan, kemudian Bayley mengembangkannya menjadi Bayley II Developmental Assesment untuk mengukur perkembangan anak berumur 1-42 bulan (Bayley 1993). Skala-skala Bayley dibagi dalam tiga bagian yang saling melengkapi, yaitu: 1. Skala Perkembangan Mental atau Mental Developmental Index (MDI) yaitu skala untuk diagnostik kemampuan intelektual, terdiri dari 163 tugas terbagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing kelompok mempunyai rentang 10 bulan. Pengukuran kecerdasan anak usia bayi ditekankan pada keterampilan sensorimotor. Skala tersebut mengevaluasi berbagai kegiatan dan proses yang meliputi ketajaman membedakan stimulus, perhatian, kemampuan memanipulasi benda, imitas
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks