UPAYA ISOLASI DRAKORODIN DARI RESIN Daemonorops draco SITY ADHITIA SARMAN

Please download to get full document.

View again

of 42
180 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
i UPAYA ISOLASI DRAKORODIN DARI RESIN Daemonorops draco SITY ADHITIA SARMAN DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 ii i PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
Document Share
Document Transcript
i UPAYA ISOLASI DRAKORODIN DARI RESIN Daemonorops draco SITY ADHITIA SARMAN DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 ii i PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Upaya Isolasi Drakorodin dari Resin Daemonorops draco adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2014 Sity Adhitia Sarman NIM G ii ABSTRAK SITY ADHITIA SARMAN. Upaya Isolasi Drakorodin dari Resin Daemonorops draco. Dibimbing oleh BUDI ARIFIN dan SUMINAR S ACHMADI. Jernang merupakan hasil sekresi dari buah rotan. Jernang yang biasa digunakan ialah jenis Daemonorops draco yang memiliki kadar drakorodin tertinggi, tetapi kadarnya secara kuantitatif belum dapat ditentukan. Drakorodin adalah senyawa flavilium alami, turunan antosianin, dan pemberi warna alami pada jernang. Senyawa ini berpotensi sebagai bahan obat dan bahan pewarna alami. Drakorodin yang diisolasi dari ekstrak kasar jernang dianalisis menggunakan spektrofotometer ultraviolet-tampak (UV-Vis) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan kolom C18 (5 µm, mm id, Dikma). Sampel diberi 2 perlakuan, yakni dalam medium tanpa asam dan dalam medium asam (HClO 4 60%). Spektrum UV-Vis menunjukkan bahwa drakorodin dapat dideteksi pada panjang gelombang nm. Pada kromatogram KCKT, drakorodin dihasilkan pada waktu retensi menit ke-5 dengan eluen etil asetat 1% dalam metanol, laju alir 0.5 ml/menit, dan dideteksi pada 475 nm. Kadar drakorodin yang diperoleh pada ekstrak metanol jernang tanpa asam sekitar 55.6% lebih tinggi daripada ekstrak metanol jernang yang ditambah HClO 4, yaitu sekitar 37.4% dari bahan awal yang direfluks selama 1 jam. Isolat ini dapat digunakan untuk penetapan kadar drakorodin dalam jernang komersial. Kata kunci: Daemonorops draco, drakorodin, flavilium, jernang, kromatografi cair kinerja tinggi ABSTRACT SITY ADHITIA SARMAN. Attempt to Isolate of Dracorhodin from Daemonorops draco. Supervised by BUDI ARIFIN and SUMINAR S ACHMADI. Dragon s blood is a secretion of rattan fruits. The commonly used rattan species is Daemonorops draco that contain the highest dracorhodin, but the content has not been determined quantitatively. Dracorhodin is a natural flavylium compound, anthocyanin derivative, and provides the natural color of dragon s blood. This compound is potential as drug materials and natural dye. Dracorhodin isolated from dragon s blood crude extract were analyzed using ultraviolet-visible (UV-Vis) spectrophotometric and high performance liquid chromatography (HPLC) with C18 column (5 µm, mm id, Dikma). The samples were treated in acidic (60% HClO 4 ) and non-acidic medium. UV-Vis spectra showed that dracorhodin was also detected at nm. Dracorhodin was detected in HPLC chromatogram at retention time of 5 minutes, using ethyl acetate 1% in methanol as eluent, 0.5 ml/min flow rate, and detection wavelength at 475 nm. Dracorhodin content obtained from non-acidic medium crude methanol extract was 55.6%, which was higher than that in the acidic medium, namely 37.4% from the starting materials that was refluxed for about 1 hour. The isolates can be used as standard for quantifying dracorhodin in commercial dragon s blood. Key words: Daemonorops draco, dracorhodin, dragon s blood, flavylium, high performance liquid chromatography i iv UPAYA ISOLASI DRAKORODIN DARI RESIN Daemonorops draco SITY ADHITIA SARMAN Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi Kimia DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 iii vi Judul Skripsi : Upaya Isolasi Drakorodin dari Resin Daemonorops draco Nama : Sity Adhitia Sarman NIM : G Disetujui oleh Budi Arifin, SSi, MSi Pembimbing I Prof Ir Suminar Setiati Achmadi, PhD Pembimbing II Diketahui oleh Prof Dr Dra Purwantiningsih Sugita, MS Ketua Departemen Kimia Tanggal lulus: Judul Skripsi : Upaya Isolasi Drakorodin dari Resin Daemonorops draco Nama : Sity Adhjtja Sannan NlM : G , Disetujui oleh Rudi Arifin. SSi.. MSi ProfTr Suminar Setiati Achmadi, PhD Pembimbing I Pembimbing 11 Tanggallulus: 13 JAN 2014 v v PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat melaksanakan tugas akhir sarjana dengan baik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai November 2013 di Laboratorium Kimia Organik dan Laboratorium Bersama, Departemen Kimia, IPB. Skripsi yang berjudul Isolasi dan Penentuan Kadar Drakorodin dari Resin Daemonorops draco ini disusun sebagai laporan tugas akhir tersebut. Laporan tugas akhir ini dapat terselesaikan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik moral maupun spiritual. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Budi Arifin, SSi, MSi selaku pembimbing I dan Prof Ir Suminar Setiati Achmadi, PhD selaku pembimbing II. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sabur, Ibu Yenny, dan Ibu Nia di Laboratorium Kimia Organik. Penulis juga berterima kasih kepada Drs M Farid, MSi, Umar Toriq, Rika Kurnia, Nisfiyah Maftuhah, Febrina Miharti, dan Rahmi Puspita Sari yang telah membantu selama penelitian. Penelitian ini disponsori oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Hibah Kerja Sama Antarlembaga dan Perguruan Tinggi yang diraih oleh Prof Ir Suminar S Achmadi, PhD pada tahun Terima kasih taklupa diucapkan kepada Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan beasiswa selama saya menjadi mahasiswa. Akhir kata, penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Bogor, Desember 2014 Sity Adhitia Sarman vii DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... vii PENDAHULUAN... 1 BAHAN DAN METODE... 2 Alat dan Bahan 4 Prosedur Percobaan 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 5 Kondisi Optimum Ekstraksi dan Pemisahan Drakorodin 5 Identitas Drakorodin Berdasarkan Spektrofotometer UV-Vis 6 Pengaruh Pengasaman pada Kadar Drakorodin 7 Kondisi Kerja Sistem Eluen dan Laju Alir pada KCKT 9 Identitas dan Kadar Drakorodin Berdasarkan KCKT 9 SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 11 vii DAFTAR GAMBAR 1 Buah rotan jernang 1 2 Struktur drakorodin 2 3 Diagram alir penelitian 3 4 Kromatogram KLT ekstrak etanol jernang dengan eluen n-heksana-etil asetat (1:3) (a) dan 7 fraksi hasil pemurnian dengan KLT preparatif 6 5 Kromatogram KLT ekstrak etanol jernang dengan penambahan HCl 0.1 M pada eluen n-heksana-etil asetat (1:3) (a), n-heksana-mtc (1:1) (b), n-heksana-etil asetat-air (2:3:1) (c), dan metanol (d) 7 6 Skema reaksi kimia kation flavilium (AH + ) 7 7 Spektrum UV-Vis ekstrak metanol jernang tanpa pengasaman (a) dan yang diasamkan dengan H 2 SO 4 ke ph 1 (b) 9 8 Spektrum UV-Vis ekstrak metanol jernang yang diasamkan dengan HClO 4 10 DAFTAR TABEL 1 Absorbans puncak serapan spektrum UV-Vis yang diduga drakorodin dari 7 fraksi hasil pemurnian ekstrak etanol jernang dengan KLT preparatif 6 2 Data spektrum UV-Vis ekstrak metanol jernang tanpa pengasaman 8 3 Data spektrum UV-Vis ekstrak metanol jernang yang diasamkan dengan H 2 SO Data spektrum UV-Vis ekstrak metanol jernang yang diasamkan dengan HClO 4 10 DAFTAR LAMPIRAN 1 Spektrum UV-Vis ekstrak etanol jernang 13 2 Kromatogram hasil penentuan eluen terbaik 15 3 Spektrum UV-Vis fraksi-fraksi hasil pemurnian ekstrak etanol jernang dengan KLTP 16 4 Spektrum KCKT ekstrak metanol jernang tanpa pengasaman pada berbagai eluen 19 5 Spektrum KCKT ekstrak metanol jernang yang ditambahkan dengan berbagai jenis asam 22 6 Spektrum KCKT eluen etil asetat 1% dalam metanol ekstrak jernang tanpa asam dan ekstrak yang ditambah HClO Perhitungan kadar drakorodin 26 1 PENDAHULUAN Jernang adalah resin hasil sekresi buah rotan jernang (Daemonorops draco) (Gambar 1) yang endemik di Asia Tenggara. Resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan, dan untuk mendapatkannya diperlukan proses ekstraksi (Toriq 2013). Jenis rotan D. draco merupakan yang terbaik karena kandungan resinnya paling banyak dibandingkan dengan spesies rotan jernang yang lain (Rustiami et al. 2004; Soemarna 2009). Jernang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama dragon s blood. Gambar 1 Buah rotan jernang Komponen kimia utama pada resin jernang adalah kelompok ester dan drakoresinotanol (57 82%). Selain itu, resin tersebut mengandung berbagai senyawa seperti drakoresena (14%), drakoalban (hingga 2.5%), resin taklarut (0.3%), residu (18.4%), asam abietat, drakorodin, drakorubin, dan beberapa pigmen terutama nordrakorodin dan nordrakorubin (Purwanto et al. 2005). Ada 59 komponen kimia yang ditemukan dalam jernang (Toriq 2013). Resin jernang memiliki ciri berwarna merah, berbentuk amorf, dengan bobot jenis Bilangan asamnya rendah, bilangan ester sekitar 140, titik cair sekitar 120 C, serta larut dalam alkohol, eter, minyak lemak, dan minyak atsiri, larut sebagian dalam kloroform, etil asetat, metanol, karbon disulfida, dan tidak larut dalam air (Coppen 1995). Menurut Toriq (2013), drakorodin (Gambar 2) merupakan komponen utama dan juga sebagai penciri jernang. Drakorodin merupakan senyawa flavonoid turunan antosianin, pemberi warna alami pada jernang. Berbagai manfaat senyawa ini dalam bidang kesehatan, meliputi potensi sebagai bahan obat secara biologis dan aktivitas farmakologis seperti antimikrob, antivirus, antitumor, dan aktivitas sitotoksik (Shi et al. 2009; Rondao 2012), bahan obat seriawan, sakit perut, maupun untuk mengatasi gangguan pencernaan (Rustiami et al. 2004; Soemarna 2009). Manfaat medis, terutama jenis Daemoronops, berasal dari keberadaan asam benzoat yang bersifat antiseptik (Edwards et al. 2003). Manfaat lainnya ialah sebagai bahan pewarna alami (Winarni et al. 2005; Soemarna 2009), bahan campuran kosmetik, bahan astringen, dan serbuk pasta gigi (Soemarna 2009). Buah ini tidak memiliki kandungan senyawa beracun (Shi et al. 2009). 2 Gambar 2 Struktur drakorodin Senyawa antosianin maupun drakorodin telah diisolasi oleh beberapa peneliti. Hillebrand et al. (2009) mengisolasi senyawa antosianin dari kentang biru spesies Solanum tuberosum, menggunakan beberapa cara seperti kromatografi arus lawan-kecepatan tinggi (KALKC), kromatografi arus lawanrotasi kecepatan rendah (KALRKR), kromatografi cair kinerja tinggi-detektor susunan diode (KCKT-DSD), spektrometer massa-ionisasi semprotan elektron (SM-ISE), dan spektrometer resonans magnetik inti (SRMI). Sousa et al. (2008) mengisolasi drakorodin menggunakan KCKT-DSD dari spesies D. draco, tetapi rendemen yang didapat tidak dijelaskan. Shi et al. (2009) memisahkan drakorodin menggunakan KALKC. Rendemen yang didapat 6.6% dengan kemurnian di atas 98%. Drakorodin pada ekstrak kasar juga diidentifikasi oleh Toriq (2013) dengan menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (KG-SM) dari berbagai jenis jernang dan didapatkan kadar sekitar %. Sejauh ini, mutu komoditas jernang belum dapat ditentukan secara kuantitatif berdasarkan kadar drakorodin dan masih secara kualitatif. Penelitian sebelumnya hanya membedakan dan mengelompokkan jernang dalam 3 jenis mutu, yaitu Mutu Super, Mutu A, dan Mutu B (Toriq 2013). Diharapkan dengan penelitian ini, kadar pasti drakorodin pada jernang akan dapat ditentukan secara kuantitatif. Penelitian ini berupaya mengisolasi drakorodin dalam jernang. BAHAN DAN METODE Penelitian diawali dengan mengekstraksi sampel bubuk jernang spesies D. draco mutu terbaik yang berasal dari daerah Sarolangun (Jambi) dan didapat dari (Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah)). Sampel diekstraksi dengan cara refluks dan maserasi dalam pelarut etanol, aseton, dan etil asetat (modifikasi Shi et al. 2009; Toriq 2013). Ekstrak terbaik berdasarkan rendemen dan spektrum ultraviolet-tampak (UV-Vis) kemudian dimurnikan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif. Noda-noda yang didapat dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis untuk mendeteksi keberadaan drakorodin. Metode tersebut juga dimodifikasi dengan menambahkan HCl 0.1 M pada ekstrak pekat yang terbaik sebelum dimurnikan menggunakan KLT preparatif (modifikasi Shi et al. 2009). Metode ekstraksi selanjutnya merujuk Sousa et al. (2008): sampel direfluks dengan metanol 100%, lalu dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan KCKT. Sampel dibuat dalam 2 kondisi, tanpa asam dan dengan penambahan 3 + H2SO % asam.. Berbagai jenis asam diujikan, yaitu HCl 37%, HNO 3 65%, dan HClO 4 60%. Kadar drakorodin ditetapkan dari luas puncak diduga drakorodin yang dihasilkan pada spektrum KCKT (modifikasi Sousa et al. 2008). Diagram alir penelitian ditunjukkan pada Gambar 3. (3) Metanol Serbuk jernang + HCl 37% + HNO3 65% + HClO4 60% Refluks 1.5 jam dipekatkan Dilarutkan dalam etanol (1) Dilarutkan dalam etanol, aseton, atau, etil asetat dipekatkan Maserasi 3 jam Direfluks 1 jam Analisis UV-Vis dan KCKT Ekstrak pekat etanol, aseton, dan etil asetat Ekstrak pekat etanol, aseton, dan etil asetat Analisis spektrum UV-Vis Perhitungan kadar drakorodin Metode ekstraksi dan pelarut terbaik (2) Ekstrak pekat terbaik + HCl 0.1 hingga ph Keterangan alur tahapan: 1) : Isolasi drakorodin modifikasi Shi et al. (2009); Toriq (2013) 2) : Isolasi drakorodin modifikasi Shi et al. (2009) 3) : Isolasi drakorodin modifikasi Sousa et al. (2008) Gambar 3 Diagram alir penelitian Penentuan eluen terbaik KLT Fraksionasi ekstrak KLT Preparatif Analisis UV-Vis dan KCKT 4 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain radas refluks, KCKT Shimadzu, spektrofotometer UV-Vis Shimadzu, dan indikator ph universal. Bahan-bahan yang digunakan adalah jernang asal Jambi yang dihaluskan menjadi serbuk, silika gel GF 254 untuk KLT preparatif dan pelat silika gel GF 254 (Merck ); etanol, aseton, etil asetat, metilena klorida, dan n-heksana yang merupakan pelarut teknis; serta metanol, HClO 4 60%, etil asetat, asam asetat glasial, H 2 SO %, HCl 37%, dan HNO 3 65% p.a (Merck ). Prosedur Percobaan Ekstraksi dengan Metode Refluks (modifikasi Shi et al. 2009) Serbuk jernang ditimbang 5 g lalu dicampurkan dengan etanol 96%, aseton, atau etil asetat masing-masing sebanyak 30 ml dan direfluks selama 1.5 jam. Ekstraksi dilakukan triplo, setiap ekstrak disaring, digabungkan, lalu dipekatkan. Ekstrak pekat yang diperoleh merupakan resin jernang yang berwarna merah. Bobot akhir ekstrak ditimbang dan rendemen yang didapat dihitung. Ekstraksi dengan Metode Maserasi (modifikasi Toriq 2013) Sebanyak 5 g serbuk jernang dimaserasi dengan etanol, aseton, atau etil asetat masing-masing sebanyak 50 ml. Ekstraksi dilakukan selama 3 jam, lalu ekstrak disaring. Maserasi diulangi 3 kali dengan jumlah pelarut yang sama, lalu ekstrak hasil penyaringan digabungkan. Ekstrak gabungan dipekatkan dengan penguap putar dan diperoleh resin jernang yang berwarna merah. Bobot akhir ekstrak ditimbang dan dihitung rendemennya. Pemilihan Ekstrak Terbaik untuk Tahap Pemurnian Ekstrak kasar diuji pada panjang gelombang nm dengan spektrofotometer UV-Vis (Shi et al. 2009). Pelarut yang dipilih ialah yang tidak menghasilkan banyak puncak serapan pada panjang gelombang di bawah nm. Senyawa drakorodin dideteksi pada panjang gelombang nm (Toriq 2013). Sementara metode ekstraksi yang dipilih ialah yang memberikan rendemen ekstrak tertinggi. Ekstrak kasar terbaik kemudian dimurnikan dengan KLT preparatif. Sebelumnya eluen terbaik ditentukan dengan menguji eluen tunggal etil asetat, diklorometana, dan n-heksana serta beberapa campuran 2 eluen. Noda-noda yang didapat dipisahkan, lalu masing-masing dianalisis dengan spektrofotometer UV- Vis. Isolasi dan Pemurnian Drakorodin (modifikasi Shi et al. 2009) Sampel ditimbang 5 g lalu dicampurkan dengan etanol sebanyak 30 ml dan direfluks selama 1.5 jam. Ekstraksi dilakukan triplo. Setiap ekstrak disaring, lalu digabungkan dan dipekatkan. Ekstrak pekat yang diperoleh ditambah dengan HCl 0.1 M sebanyak 6 ml hingga ph 1, lalu dimurnikan dengan menggunakan KLT preparatif. Isolasi Drakorodin (modifikasi Sousa et al. 2008) Sampel ditimbang 2.5 g lalu dicampurkan dengan 50 ml metanol yang telah ditambahkan H 2 SO % hingga ph 1 dan direfluks selama 1 jam. Kemudian ekstrak metanol jernang disaring dan filtrat yang diperoleh dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis dan KCKT. Prosedur tersebut diulangi lagi dengan mengganti asam yang digunakan menjadi HCl 37%, HNO 3 65%, dan HClO 4 60%, masing-masing hingga ph 1. Ekstrak metanol jernang tanpa pengasaman juga disiapkan sebagai kontrol. Penentuan Drakorodin dengan KCKT (modifikasi Sousa et al. 2008) Semua ekstrak metanol jernang dianalisis kemurniannya dengan menggunakan KCKT. Tipe kolom yang digunakan Diamonsil C18 (5 µm, mm id, Dikma). Deteksi dilakukan pada panjang gelombang 353, 375, 387, 413, 415, 475, 489, dan 490 nm. Fase gerak yang digunakan adalah sistem isokratik asetonitril, metanol, etil asetat 1% dalam metanol, etil asetat 3% dalam metanol, etil asetat 1% dalam asetonitril, asam asetat 1% dalam metanol dengan laju alir 1.5 dan 0.5 ml/menit, serta suhu kolom 31.5 C. 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Optimum Ekstraksi dan Pemisahan Drakorodin Ekstraksi telah dilakukan dengan cara refluks dan maserasi dalam pelarut etanol, aseton, dan etil asetat. Metode terbaik ialah menggunakan refluks dengan pelarut etanol berdasarkan spektrum UV-Vis yang tidak menunjukkan banyak puncak selain drakorodin di bawah panjang gelombang nm (Lampiran 1). Ekstrak yang dihasilkan dengan metode terbaik kemudian dimurnikan menggunakan KLT preparatif dengan eluen n-heksana-etil asetat (1:3). Eluen ini dipilih karena memberikan banyak noda dengan pemisahan yang baik ketika dianalisis dengan KLT (Lampiran 2). Kromatogram KLT menunjukkan 5 noda dengan R f ~ 0.82, 0.65, 0.45, 0.15, dan 0.02 pada eluen n-heksana-etil asetat (1:3) (Gambar 4). Sementara itu, kromatogram KLT preparatif menunjukkan 7 noda dengan 2 noda tambahan pada R f ~ 0.81 dan Semua noda yang diperoleh dipisahkan, kemudian masingmasing dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. 6 R f a b Gambar 4 Kromatogram KLT ekstrak etanol jernang dengan eluen n-heksana-etil asetat (1:3), diamati di bawah sinar UV 254 nm (a) dan 7 fraksi hasil pemurnian dengan KLT preparatif (b) Identitas Drakorodin Berdasarkan Spektrum UV-Vis Spektrum UV-Vis yang diperoleh menunjukkan bahwa semua noda diduga mengandung drakorodin karena menghasilkan puncak serapan pada panjang gelombang sekitar nm (Toriq 2013). Berdasarkan Tabel 1, noda dengan R f ~ 0.15 diduga mengandung drakorodin terbanyak, diikuti oleh noda dengan R f ~ Sementara itu, noda dengan R f ~ 0.45 paling kecil kemungkinan mengandung drakorodin, diikuti oleh noda dengan R f ~ Tiga noda yang lain masih berpotensi mengandung cukup banyak drakorodin sehingga tidak mungkin mengkuantifikasi kadar drakorodin dalam sampel jernang hanya dengan menganalisis salah satu noda. Data spektrum UV-Vis selengkapnya diberikan di Lampiran 3. Tabel 1 Absorbans puncak serapan spektrum UV-Vis yang diduga drakorodin dari 7 fraksi hasil pemurnian ekstrak etanol jernang dengan KLT preparatif R f Konsentrasi (ppm) λ (nm) Absorbans Dalam perlakuan selanjutnya, ditambahkan sejumlah asam HCl 0.1 M pada ekstrak pekat etanol jernang hingga ph 1. Penambahan asam diharapkan akan menyebabkan semua senyawa antosianin dalam ekstrak, termasuk drakorodin, terprotonasi menjadi garam flavilium. Sifat ionik garam ini menyebabkan ekstrak tidak menghasilkan pemisahan noda ketika dianalisis dengan KLT pada berbagai eluen (Gambar 5). 7 a b c d Gambar 5 Kromatogram KLT ekstrak etanol jernang dengan penambahan HCl 0.1 M pada eluen n-heksana-etil asetat (1:3) (a), n-heksana-mtc (
Search Related
Previous Slide

Changement de statut

Next Slide

KBA PENGHAWAAN

Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks