Sylvia Madusari Program Studi Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi Bekasi

Please download to get full document.

View again

of 17
197 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
KAJIAN APLIKASI MIKROORGANISME LOKAL BONGGOL PISANG DAN MIKORIZA PADA MEDIA TANAM TERHADAP KARAKTER PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Program Studi Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit
Document Share
Document Transcript
KAJIAN APLIKASI MIKROORGANISME LOKAL BONGGOL PISANG DAN MIKORIZA PADA MEDIA TANAM TERHADAP KARAKTER PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Program Studi Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi Bekasi Abstrak Mikroorganisme lokal (MOL) bonggol pisang dan mikoriza memiliki potensi untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara yang berguna untuk tanaman dan meningkatkan penyerapan unsur hara, serta meningkatkan pertumbuhan tanaman, seperti pada pembibitan awal kelapa sawit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakter pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pre-nursery dengan pemberian MOL bonggol pisang dan mikoriza pada media tanam campuran subsoil dan pupuk kandang. Penelitian ini menggunakan metoda Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: P0 100% subsoil; P1 - subsoil dan pupuk kandang (1:1); P2 - subsoil dan pupuk kandang (1:1) + 100% dosis pupuk anorganik; P3 - subsoil dan pupuk kandang (1:1) + MOL bonggol pisang 40 ml/bibit + Mikoriza 10 gr/bibit. Hasil analisis kimia media tumbuh yang dilakukan sebelum penelitian memperilihatkan kandungan hara C 2,81%; N 0,27%; P 1,12 mg/kg; K 6,77 cmol/kg; Mg 2,03 cmol/kg; dan KTK 18,24 cmol/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, diameter tanaman, jumlah daun, dan total luas daun tertinggi dihasilkan pada perlakuan dengan pemberian pupuk anorganik. Pemberian kombinasi MOL bonggol pisang dan Mikoriza pada media tanam tanpa pupuk anorganik menghasilkan peningkatan pada parameter tingkat kehijauan daun dan kerapatan stomata jika dibandingkan dengan kontrol, namun demikian masih lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan pemberian pupuk anorganik. Hasil terbaik pada pertumbuhan vegetatif dan respons fisiologis tanaman dihasilkan pada media tanam dengan penambahan dosis 100% pupuk anorganik. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menentukan kombinasi MOL bonggol pisang dan Mikoriza yang optimal untuk pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit. Kata Kunci Bonggol pisang, Pupuk organik cair, Mikoriza, Kelapa sawit. Jurnal Citra Widya Edukasi Vol VIII No. 1 Mei 2016 ISSN Copyright 2016 Abstract Indigenous Microorganisms (IMO) of the banana corm and mycorrhiza, each has a potential to increase the availability and the absorption of the nutrient by plant and also increasing the plant growth, as pre-nursery of palm oil. The aim of this study is to analyze the character of the oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) seedling growth by applying the combination of the mycorrhiza and the liquid of banana corm (IMO) organic fertilizer to the plant media which contained subsoil and cow dung. The study was performed in four of treatments including the control and were arranged in completely randomized design (CRD). The treatment dose of liquid organic fertilizer and mycorrhiza applied at a single dose. The whole treatments were P0 = 100% subsoil; P1 = subsoil and cow dung (1:1); P2 = subsoil and cow dung (1:1) + dose 100% inorganic fertilizers; P3 = subsoil and cow dung (1:1) + organic fertilizer 40 ml/polybag + Mycorrhiza 10 g/polybag. The chemical properties of the media was analyzed prior to the trial and the result showed mean amount of 2.81% C, 0.27% N, 1.12 mg/kg P, 6.77 cmol/kg K, 2.03 cmol/kg Mg, and cmol/kg CEC. Plant height, plant diameter, leaf number and leaf area was the highest in plant treated with inorganic fertilizer. The leaf greeness and the density of stomata in plant treated with liquid organic fertilizer and mycorrhiza was slightly higher than control but lower than inorganic fertilizer treatment. Futher study are needed to determine optimal rates of applying combination of liquid organic fertilizer and mycorrhiza for proper growth of oil palm seedlings. Keywords Banana tree corm, Liquid organic fertilizer, Mycorrhizal, Palm oil. 1 Pendahuluan M ikroorganisme lokal (MOL) atau yang juga dikenal dengan pupuk organik cair atau pupuk mikroba cair adalah larutan yang berisi mikrobia yang ditambahkan ke dalam tanah, yang bermanfaat mempercepat pertumbuhan akar, pucuk, kuncup dan bunga, menyediakan nutrisi bagi tanaman, meningkatkan kesehatan tanaman, serta dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik cair mampu menghemat pemakaian pupuk kimia hingga 50% dan dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman di berbagai ekosistem pertanian. Aryantha, et al menyebutkan bahwa berbagai senyawa organik yang dihasilkan oleh mikroba dalam proses dekomposisi di alam berperan dalam memacu merangsang pertumbuhan, mempercepat proses perbungaan, meningkatkan proses biosintesis senyawa biokimia, menghambat patogen, bahkan juga meningkatkan produksi senyawa metabolit sekunder sebagai bahan baku obat, pestisida dan sebagainya. Oleh karena itu, pengunaan mikroba dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah dan juga meningkatkan pertumbuhan tanaman, dan hal ini juga dapat digunakan sebagai kandidat biofertilizer yang bertujuan untuk mengurangi dampak dari penggunaan pupuk kimia. Pemberian mikroba berupa larutan mikro organisme lokal (MOL) yang disemprotkan secara berkala pada tanaman atau tanah di sekitar tanaman dan penambahan inokulan mikoriza adalah salah satu cara untuk dapat meningkatkan daya dukung tanah dan efisiensi penyerapan unsur hara tanah. Salah satu jenis mikroorganisme lokal yang mengandung substansi dan mikroorganisme yang berguna bagi pertumbuhan tanaman adalah MOL bonggol pisang. Pada beberapa literatur disebutkan bahwa dalam MOL bonggol pisang mengandung zat pengatur tumbuh Giberellin dan Sitokinin. Selain itu dalam mol bonggol pisang juga mengandung 7 mikroorganisme yang sangat berguna bagi tanaman, yaitu: Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba pelarut phospat dan mikroba selulotik (Sari et al. 2012). Mikroorganisme lokal tersebut dapat berfungsi sebagai bioaktivator perombakan bahan organik yang ada guna menambah ketersediaan hara makro dan mikro secara optimal bagi tanaman. Kajian Pemberian Mikroorganisme Lokal Bonggol Pisang dan Mikoriza Pada Media Tanam Terhadap Karakter Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Mikoriza adalah jenis jamur obligat yang dapat hidup bersimbiosis dengan akar pada hampir 80% jenis tanaman di muka bumi, termasuk tanaman kelapa sawit. Dalam beberapa publikasi dijelaskan bahwa mikoriza berperan untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara, melindungi tanaman dari penyakit basal stem corm. Selain itu disebutkan pula bahwa mikoriza berperan dalam mengendalikan penyakit dan meningkatkan kualitas tanah (Rillig and Mummey, 2006). Hampir 80% Mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan, logam-logam berat Al dan Fe dan meningkatkan serapan hara terutama unsur hara P. Inokulasi mikoriza yang secara alami dapat bersimbiosis dengan akar tanaman, diharapkan dapat membantu meningkatkan daya absorbsi hara, air dan membantu agregasi tanah. Selain itu jamur mikoriza dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen (Sunarti et al., 2004). 2 Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi JCWE Vol VIII No. 1 (1 17) Kelapa sawit adalah tanaman yang secara alami bersimbiosis dengan Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) (Widiastuti 2003). Inokulasi CMA pada kelapa sawit dapat meningkatkan efesiensi pemupukan (Blal dkk 1990). Pertumbuhan dan serapan hara dan meningkatkan daya tumbuh tanaman. Keefektifan simbiosis secara maksimal seringkali bervariasi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang konsisten perlu dilakukan optimasi antara CMA dan bibit kelapa sawit. Penggunaan mikoriza komersil dan pupuk organik cair telah banyak dilakukan di bidang pertanian. Cozzolino et al. (2013) menyebutkan bahwa inokulan Glomus intraradices banyak digunakan dalam mikoriza komersil dan diaplikasikan di tanah, dengan tujuan untuk meningkatkan potensi inokulum di tanah serta meningkatkan produktivitas tanaman. Dalam penelitiannya disebutkan, bahwa penggunaan mikoriza komersil dapat meningkatkan mobilitas P dan tanaman dapat mengikat P pada tanah dengan lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakter fisiologis bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada pembibitan awal (prenursery) dengan pemberian kombinasi MOL bonggol pisang dan mikoriza pada media tanam campuran subsoil dan pupuk kandang. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Bekasi, pada periode November 2014 sampai Februari Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan, yaitu: P0 = 100% subsoil, P1 = subsoil + pupuk kandang (1:1), P2 = subsoil + pupuk kandang (1:1) + pupuk anorganik dosis 100%, P3 = subsoil + pupuk kandang (1:1) + pupuk organik cair 40 ml/polybag + Mikoriza. Subsoil dan pupuk kandang ditimbang dan dicampur dengan perbandingan 1:1. Campuran media tersebut dimasukkan ke dalam polybag ukuran 20 x 20 cm. Isolat mikoriza (diperoleh dari PT. Esha Flora) dan diaplikasikan ke dalam lubang tanam dengan dosis 10 g/bibit. Setelah daun pertama membuka dilakukan aplikasi pupuk cair bonggol pisang dengan dosis 40 ml/bibit setiap dua minggu sekali dan dilakukan secara berkelanjutan hingga akhir waktu penelitian. Bonggol yang digunakan pada penelitian ini adalah bonggol dari jenis tanaman pisang kepok. Pembuatan pupuk cair bonggol pisang adalah sebagai berikut: (1). 1 kg bonggol pisang di cacah hingga berupa potongan bonggol kecil-kecil, (2). Potongan bonggol yang sudah disiapkan dimasukkan ke dalam jerigen dan ditambahkan gula sebanyak 1/2 kg dan ditambahkan air cucian beras sebanyak 2 L, (3). Setelah tercampur semua, jeringen ditutup dengan plastik dan dibiarkan selama 7 hari. Cairan yang telah siap untuk diaplikasikan ditandai dengan bau alkohol yang tajam, yang menunjukkan keberhasilan proses fermentasi (Faridah et al. 2014). Pertumbuhan vegetatif diamati setiap 4 minggu selama tinga bulan, yaitu 4, 8, dan 12 minggu setelah tanam (4-MST, 8-MST, 12-MST), yang Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi 3 terdiri dari tinggi tanaman (cm), diameter batang (mm), jumlah daun (lembar), and total luas daun (cm 2 ). Pengukuran tinggi batang dilakukan dari pangkal batang di permukaan tanah sampai ujung daun tertinggi dengan menggunakan penggaris logam. Pengukuran diameter batang diukur 1 cm dari permukaan tanah bibit dengan menggunakan jangka sorong, lalu diberi tanda dan pengukuran selanjutnya diukur dari tanda yang telah dibuat di pengukuran awal. Jumlah daun dihitung berdasarkan jumlah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan pertambahan jumlah daun dilakukan setelah bibit berumur satu bulan dan dilakukan satu bulan sekali sampai akhir percobaan. Jumlah stomata diamati daun ketiga, pengamatan dilakukan dengan teknik pengecatan menggunakan larutan kuteks bening. Larutan tersebut dioleskan pada permukaan daun bagian permukaan atas dan bawah kemudian diberi isolasi transparan selanjutnya diambil dan ditempelkan pada kaca preparat. Jumlah stomata dihitung dengan mikroskop pada pembesaran objektif 40X10 kali. Total luas daun diukur dengan menggunakan alat leaf area meter (LI-3100, Lincoln Inc, USA). Pada 12-MST, dilakukan pengamatan parameter fisiologis yaitu tingkat kehijauan daun menggunakan SPAD-502 chlorophyll meter (Konica Minolta Sensing, Inc. Japan). Penggunaan SPAD yaitu pada bagian ujung, tengah dan pangkal daun yang kemudian dirata-ratakan untuk setiap bibit (Law et al. 2014). Estimasi kadar Nitrogen dihitung berdasarkan konversi hasil SPAD menggunakan rumus y = X (Law et al. 2014) Kajian Pemberian Mikroorganisme Lokal Bonggol Pisang dan Mikoriza Pada Media Tanam Terhadap Karakter Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Analisis media tanam dilakukan pada awal penelitian dan akhir penelitian untuk menentukan tingkat kandungan unsur C, N, P, K, Mg. Analisis kimia dan mikrobiologi tanah dan pupuk cair dilakukan di Balai Penelitian Tanah, Bogor. Analisis statistik dilakukan pada setiap perlakuan dengan menggunakan SAS analytical package of 9.2 version. Hasil Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Kelapa Sawit Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pemberian kombinasi MOL bonggol pisang dan Mikoriza tidak berbeda nyata terhadap semua peubah yang diamati. Hasil pengukuran tinggi bibit kelapa sawit (Tabel 1) memperlihatkan bahwa tinggi bibit pada pengamatan 4 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 10,68 + 1,58 cm; P1 9,15 + 0,79; P2 10,60 + 1,38 cm; P3 10,77 + 0,98. Tinggi tanaman pada pengamatan 8 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 16,47 + 5,61 cm; P1 17,55 + 2,71; P2 21,82 + 1,92 cm; P3 19,17 + 1,72. Tinggi tanaman pada pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah; yaitu pada perlakuan P0 21,08 + 4,79 cm; P1 22,05 + 4,48; P2 26,18 + 1,96 cm; P3 22,18 + 1,36. 4 Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi JCWE Vol VIII No. 1 (1 17) Tabel 1 Rata-rata Tinggi Bibit Tanaman Kelapa Sawit Pada 4, 8, dan 12 MST Komposisi Media Tinggi Tanaman (cm) 4 MST 8 MST 12 MST P0 10,68 1,58 a 16,47 5,61 a 21,08 4,79 a P1 9,15 0,79 a 17,55 2,71 a 22,05 4,48 a P2 10,60 1,38 a 21,82 1,92 a 26,18 1,96 a P3 10,77 0,98 a 19,17 1,72 a 22,18 1,36 a Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam Hasil pengukuran diameter batang kelapa sawit (Tabel 2) memperlihatkan bahwa diameter batang pada pengamatan 4 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 0,42 + 0,06 cm; P1 0,35 + 0,06; P2 0,43 + 0,06 cm; P3 0,41 + 0,04. Diameter pada pengamatan 8 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 0,56 + 0,10 cm; P1 0,50 + 0,03; P2 0,65 + 0,07 cm; P3 0,54 + 0,07. Tinggi tanaman pada pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah; yaitu pada perlakuan P0 0,64 + 0,08 cm; P1 0,59 + 0,08; P2 0,82 + 0,10 cm; P3 0,63 + 0,09. Tabel 2 Rata-rata Diameter Bibit Tanaman Kelapa Sawit Pada 4, 8, dan 12 MST Komposisi Media Diameter Tanaman (cm) 4 MST 8 MST 12 MST P0 0,42 0,06 a 0,56 0,10 a 0,64 0,08 a P1 0,35 0,06 a 0,50 0,03 a 0,59 0,08 a P2 0,43 0,06 a 0,65 0,07 a 0,82 0,10 a P3 0,41 0,04 a 0,54 0,07 a 0,63 0,09 a Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam Hasil penghitungan rata-rata jumlah daun yang telah membuka sempurna pada bibit kelapa sawit diperoleh, yaitu pada pengamatan 4 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 1,83 + 0,29 cm; P1 1,83 + 0,29; P2 2,00 + 0,00 cm; P3 2,00 + 0,00. Jumlah daun pada pengamatan 8 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 3,17 + 1,04 cm; P1 3,17 + 0,29; P2 3,83 + 0,29 cm; P3 3,50 + 0,00. Jumlah daun pada pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah; yaitu pada perlakuan P0 3,70 + 1,04 cm; P1 4,3 + 0,29; P2 4,3 + 0,29 cm; P3 4,2 + 0,29. Tabel 3 Rata-rata Jumlah Daun Bibit Tanaman Kelapa Sawit Pada 4, 8, dan 12 MST Komposisi Media Jumlah Daun Tanaman (helai) 4 MST 8 MST 12 MST P0 1,83 0,29 a 3,17 1,04 a 3,7 1,04 a P1 1,83 0,29 a 3,17 0,29 a 4,3 0,29 a P2 2,00 0,00 a 3,83 0,29 a 4,3 0,29 a P3 2,00 0,00 a 3,50 0,00 a 4,2 0,29 a Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi 5 Hasil pengukuran luas daun menggunakan Leaf Area Meter pada bibit kelapa sawit diperoleh, yaitu pada pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 27,69 + 8,40 cm; P1 30,31 + 5,89; P2 36, ,69 cm; P3 26,73 + 2,65 (Tabel 4). Hasil perhitungan kerapatan stomata pada bibit kelapa sawit diperoleh, yaitu pada pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P ,12; P ,41; P ,66 cm; P ,71 (Tabel 4). Kajian Pemberian Mikroorganisme Lokal Bonggol Pisang dan Mikoriza Pada Media Tanam Terhadap Karakter Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tabel 4 Rata-rata Luas Daun dan Jumlah Stomata Bibit Tanaman Kelapa Sawit Pada 12 MST Komposisi Media Luas Daun Jumlah Stomata (cm 2 ) (cm -2 ) P0 27,69 8,40 a ,12 a P1 30,31 5,89 a ,41 a P2 36,96 14,69 a ,66 a P3 26,73 2,65 a ,71 a Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam Berdasarkan Tabel 1, 2, 3 dan 4, didapatkan bahwa pemberian pupuk anorganik memberikan pengaruh yang tertinggi terhadap semua peubah yang diamati. Hal tersebut tercermin pada rata-rata tinggi tanaman mencapai 26,18 + 1,96 cm; rata-rata diameter batang tanaman mencapai 0,82 + 0,10 cm; rata-rata jumlah daun tanaman mencapai 4,3 + 0,29 cm; rata-rata luas daun 36, ,69 cm dan rata-rata kerapatan stomata tanaman mencapai ,66 cm. Pemberian MOL bonggol pisang dan mikoriza memperlihatkan bahwa hasil pertumbuhan vegetatif berdasarkan peubah yang diamati memiliki kecenderungan lebih rendah daripada perlakuan dengan pemberian pupuk anorganik, namun lebih tinggi dari perlakuan tanpa pemberian pupuk anorganik dan pada media tanpa pencampuran pupuk kandang. Hal tersebut tercermin pada rata-rata tinggi tanaman mencapai 22,18 + 1,36 cm; rata-rata diameter batang tanaman mencapai 0,63 + 0,09 cm; rata-rata jumlah daun tanaman mencapai 4,2 + 0,29 cm; dan rata-rata kerapatan stomata tanaman mencapai ,71 cm. Terkecuali pada parameter luas daun, dicapai 26,73 + 2,65 cm 2. Nilai tersebut merupakan nilai terendah dari ketiga perlakuan lainnya. Tingkat Kehijaunan Daun dan Estimasi Total Nitrogen Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pemberian kombinasi MOL bonggol pisang dan Mikoriza tidak berbeda nyata terhadap semua peubah tingkat kehijauan daun dan estimasi kadar nitrogen pada tanaman kelapa sawit. Hasil pengukuran tingkat kehijauan daun menggunakan SPAD pada bibit kelapa sawit diperoleh, yaitu pada pengamatan 12 minggu setelah 6 Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi JCWE Vol VIII No. 1 (1 17) penanaman kecambah, yaitu pada perlakuan P0 44, ,90 cm; P1 49, ,51; P2 60,59 + 1,48; P3 50, ,27. Hasil perhitungan estimasi kandungan N pada bibit kelapa sawit pada waktu pengamatan 12 minggu setelah penanaman kecambah, diperoleh yaitu pada perlakuan P0 1,94 + 0,29 cm; P1 2,08 + 0,58; P2 2,37 + 0,04 cm; P3 2,09 + 0,49. Hasil penelitian pada Tabel 5, menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pupuk anorganik memberikan pengaruh yang tertinggi pada parameter tingkat kehijauan daun dan estimasi kadar nitrogen total. Hal tersebut tercermin pada tingkat kehijaun dicapai yaitu sebesar 60,59 + 1,48 dan estimasi kadar N total sebesai 2,37 + 0,04. Tabel 5 Rata-rata Tingkat Kehijauan Daun dan Estimasi Total N Bibit Tanaman Kelapa Sawit Pada 12 MST Komposisi Media Tingkat Kehijaun Daun (SPAD Readings) Estimasi Total N (%) P0 44,91 10,90 a 1,94 0,29 a P1 49,81 21,51 a 2,08 0,58 a P2 60,59 1,48 a 2,37 0,04 a P3 50,17 18,27 a 2,09 0,49 a Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam Pemberian MOL bonggol pisang dan mikoriza memperlihatkan bahwa tingkat kehijaun daun dan estimasi kadar nitrogen total memiliki kecenderungan lebih rendah daripada perlakuan dengan pemberian pupuk anorganik, namun lebih tinggi daripada perlakuan tanpa pemberian pupuk anorganik dan pada media tanpa pencampuran pupuk kandang. Hal tersebut tercermin nilai tingkat kehijauan daun yang dicapai sebesar 50, ,27 dan estimasi kadar nitrogen total sebesar 2,09 + 0,49. Komposisi Kimiawi dan Mikroba Pada Sampel Pupuk Organik Cair Bonggol Pisang Hasil analisis kandungan mikroba pada sampel pupuk organik cair bonggol pisang (Tabel 6) memperlihatkan bahwa pada pupuk cair tersebut terdapat bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat dan bakteri selulotik, aktivitas perombak bahan organik yang positif. Namun tidak ditemukan adanya jamur pelarut fosfat. Jumlah bakteri penambat N yaitu sebanyak 341 x 10 5 cfu.ml -1, bakteri pelarut P sebanyak 2.71 x 10 6 cfu.ml -1 dan bakteri selulotik sebnayak 7.18 x 10 6 cfu.ml -1. Adapun tingkat keasaman dari pupuk organik cair yang berasal dari MOL bonggol pisang ini tergolong tinggi. Nilai ph dari pupuk organik cair tersebut adalah 3,62. Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi 7 Tabel 6 Komposisi Kimiawi dan Mikroba Pada Sampel Pupuk Organik Cair Bonggol Pisang Mikroba Jumlah (cfu.ml -1 ) Hasil Analisis Bakteri Penambat N 341 x 10 5 Bakteri Pelarut P 2,71 x 10 6 Bakteri Selulotik 7,18 x 10 6 Fungi Pelarut P ttd Aktivitas Perombak Bahan organik Positif ph 3,62 Kajian Pemberian
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks