PERENCANAAN BISNIS JASA PELATIHAN PENDIDIKAN ENTREPRENEUR SMART ENTREPRENEUR. Ratna Sari Wongwa 1

Please download to get full document.

View again

of 18
220 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
PERENCANAAN BISNIS JASA PELATIHAN PENDIDIKAN ENTREPRENEUR SMART ENTREPRENEUR Ratna Sari Wongwa 1 Abstract : Business planning services entrepreneurship education training is intended to determine whether
Document Share
Document Transcript
PERENCANAAN BISNIS JASA PELATIHAN PENDIDIKAN ENTREPRENEUR SMART ENTREPRENEUR Ratna Sari Wongwa 1 Abstract : Business planning services entrepreneurship education training is intended to determine whether or not a service business entrepeneurship educational training is run. Data collection techniques used in business planning services entrepreneurship education training these by conducting surveys directly to the site by using a questionnaire that is, quantitative research, qualitative be concluded in the form of a bar chart, questionnaire submitted to the 119 students of the school, results showed that 55 students felt not satisfied with the educational training of entrepreneurs in the extracurricular activities of the school, 89 students expressed wish to open their own businesses, training 100 students stated entrepreneur education was important, 91 students expressed need for training entrepreneur education outside of school. This business planning services entrepreneurship education training have a business concept canvas models and unbundling pattern 3 in 1 education, explore, experience, equipped with the facilities and services. In capital investment of 1.5 M with a total net profit of Rp , - and financial returns in a period of 9 months and 3 days Keywords : Business planning, services training education entrepreneur, business model canvas, pattern unbundling. PENDAHULUAN Dunia pendidikan yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu bangsa juga tersentak dengan segala kemajuan ini karena bagaimanapun dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara khusus dalam menghadapi abad 21 negara-negara di Eropa, USA dan sekitarnya melihat dan mempersiapkan generasi mereka dengan model pendidikan yang mampu menjawab tantangan ke depan yang sulit diprediksi dan model pendidikan tersebut adalah Pendidikan Entrepreneurship. Di Indonesia sendiri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah mengimplementasikan Pendidikan Entrepreneurship sebagai salah satu wujud nyata untuk menumbuhkan jiwa kreatif, inovatif, sportif, dan wirausaha dalam metodologi pendidikan sebagai penjabaran dari pengembangan Ekonomi Kreatif Perpres Nomor 6 Tahun Dalam artikel Jakarta yang berjudul Wirausaha Mahasiswa padukan teori dan praktek, pendidikan entrepreneurship ini juga merupakan salah satu program yang digalakkan pemerintah, program ini bahkan telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi oleh Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Tujuan Pendidikan Entrepreneurship tersebut antara lain memberi bekal kemampuan dalam wujud kompetensi 1 Alumnus Program Studi Magister Manajemen Universitas Tarumanagara 142 Wongwa : Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan... dasar terkait dengan kemandirian lulusan agar mampu bekerja secara mandiri, di dalam Perpres No. 5 tahun 2010 tentang rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional bahwa substansi inti program aksi bidang pendidikan diantaranya adalah Penerapan Metodologi yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian. Sepanjang sepuluh tahun ini Ir. Ciputra juga memperkenalkan konsep Entrepreneur biasa diartikan sebagai Pendidikan Entrepreneurship untuk diajarkan di sekolah. Tujuan diperkenalkannya konsep Entrepreneur adalah untuk membuka wawasan peserta didik untuk berusaha mencari dan menciptakan peluang usaha untuk dirinya sendiri serta menciptakan lapangan kerja untuk orang lain di sekitarnya. Pendidikan Entrepreneurship itu sangat penting. Menurut Global Entrepreunership Monitor, sepertiga pertumbuhan ekonomi dihasilkan melalui kegiatan entrepreneur. Di Amerika Serikat (AS), setiap tahun penduduknya menciptakan 600 sampai 800 ribu usaha baru dengan pegawai tetap dan kirakira 2 juta penduduk melalui usaha sendiri (self-employment ventures). Di sisi lain, kurangnya Pendidikan Entrepreneurship di Indonesia masih kurang mendapat perhatian dari pihak dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan pertumbuhan sikap, karakter, dan perilaku wirausaha. Mereka hanya menyiapkan siswanya untuk menjadi tenaga kerja. Kenyataan yang ada di Indonesia banyak lulusan yang tidak mampu mengisi lowongan pekerjaan karena tidak cocoknya kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan yang dibutuhkan oleh dunia kerja serta belum mampu untuk menghasilkan dan memenuhi kebutuhan sumber daya manusia berkompeten yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, yang kebanyakan hanya menunggu diberi pekerjaan oleh industri. Hal ini di tandai dengan adanya kesulitan mencari kerja dengan masa tunggu yang cukup lama, over supplied lulusan secara kuantitas tetapi under supplied lulusan secara kualitas, perilaku jiwa entrepreneur lulusan masih rendah, relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja masih kurang, kecakapan hidup rendah ditandai dengan lemahnya komunikasi verbal dan memalui media tulis, lemahnya penguasaan bahasa asing dan lemahnya peggunaan teknologi informasi, kurang mampu bersaing dengan global, masih lemahnya jalinan kemitraan dengan dunia industri. Ini memberi dampak jumlah pengangguran di Indonesia semakin banyak. Padahal dengan Pendidikan Entrepreneurship dapat diperoleh mindset inovasi yang memberikan peluang untuk sukses sehingga tercapailah kemajuan. McGrath dan MacMillan (2000) mengatakan Once entrepreneurial thinking becomes second nature, you will able to continously identify uncertain yet high business opportunities, and exploir these opportunities with speed and confidence Tilaar (2012) mengatakan bahwa salah satu kelebihan sistem pendidikan barat adalah kemampuannya mendorong lahirnya kreativitas peserta didik, tidak hanya itu lembaga pendidikan juga melahirkan peserta didik yang kritis dan kreatif, dua elemen inilah yang paling penting didapatkan oleh setiap peserta didik begitu lepas dari lembaga pendidikan formal, tak heran jika tanpa kurikulum entrepreneur pun, lembaga pendidikan secara aktif menjadi pemasok pengusaha pengusaha baru sesuai harapan. Sebaliknya strategi pembelajaran di Indonesia tidak memungkinkan lahirnya entrepreneur baru sesuai harapan. Penyebabnya, karena strategi pembelajaran kita masih condong pada strategi pedagogi. 143 JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN/Volume 52/No.11/November : Menurut pada sistem ini, hampir tidak mungkin dapat terlahir peserta didik yang memiliki kreativitas tinggi, sebab mereka sepenuhnya bergantung kepada guru. Itu sebabnya tak mengherankan jika spektrum pikir peserta didik sepenuhnya merupakan pantulan dari pengajaran satu arah yang diterima sekolah. Namun, pola pikir konsep entrepreneur tampaknya harus terus ditanamkan agar peserta didik terus memiliki pandangan lebih luas untuk menentukan karier sebagai pekerja atau pengusaha, dan dimulai dengan masuknya pelajaran entrepreneurship dalam Kurikulum 2013 yang diajarkan pada siswa SMA. Dalam hal ini, untuk perencanaan bisnis pendidikan entrepreneurship di sekolah dapat diinternalisasikan melalui berbagai aspek yaitu pendidikan entrepreneurship terintegrasi dalam mata pelajaran dan pendidikan entrepreneurship dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan entrepreneurship dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang telah ada masih hanya dalam sistem pedagogi bahkan ada yang belum berjalan, maka dari itu berdasarkan latar belakang permasalahan ini. maka penulis membuat judul makalah Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan Pendidikan Entrepreneur dan diperlukan sekali kegiatan pengembangan model pembelajaran yang mengarah pada upaya perbaikan, melalui pengembangan model pembelajaran kewirausahaan, sehingga peserta didik langsung dapat mengaplikasikan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap-sikap dan perilaku bekerja (employability). Cara berpikir yang sistematis dianggap sebagai pendekatan yang cukup bagus dalam proses pembelajaran. Cara berpikir sistematis dapat dijelaskan sebagai berikut: Gambar 1: Cara Berpikir Sistematis (Sumber: Jurnal Kependidikan, Vol. 42, No. 1 Mei 2012, Hal. 48) Tujuan penulisan ini untuk menyusun dan menganalisis studi kelayakan Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan Pendidikan Entrepreneur. Penulisan makalah ini mempunyai manfaat sebagai perencana dan pemilik bisnis jasa pelatihan pendidikan entrepreneurship untuk sekolah, menjadi sumber inspirasi bagi pihak sekolah untuk terus mengembangkan program pendidikan entrepreneurship dengan metode pembelajaran yang modern, mengembangkan mindset dan jiwa entrepreneur untuk peserta didik sekolah level SMA sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan pasar, mempunyai manfaat bagi pengusaha bisnis jasa pelatihan pendidikan entrepreneur. 144 Wongwa : Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan... TELAAH KEPUSTAKAAN Pemahaman terhadap entrepreneurship perlu memperhatikan sejarah perkembangan konsep entrepreneurship. Kuratko dan Hodgetts (2007) menjelaskan bahwa entrepreneuship sebenarnya telah berkembang sejak abad ke 11 sebelum Masehi di Phoenicia kuno. Pada saat itu telah terjadi arus perdagangan dari Syria sampai Spanyol yang dilakukan oleh orang-orang yang telah berani mengambil resiko, menghadapi ketidakpastian, dan mengeksplorasi sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Menurut Zimmerer, Scarborough dan Wilson (2008), istilah entrepreneuship baru mulai terkenal dalam kosakata bisnis pada tahun 1980-an, walaupun sejak abad 17 istilah Entrepreneurship pertama kali diperkenalkan oleh Richard Cantilon ahli ekonomi Perancis pada tahun 1755, berasal dari kata Entreprende dalam bahasa perancis, berarti berusaha. Dalam hal bisnis, maksudnya adalah memulai sebuah bisnis. Sedangkan di Indonesia istilah entrepreneurship baru dikenal pada akhir abad ke-20. Richard Cantilon mengaitkan entrepreneur dengan aktivitas menanggung resiko dalam perekenomian. Pada tahun 1803, Jean Baptise Say juga memperkenalkan istilah entrepreneuship dalam diskusi entrepreneur sebagai orang yang memindahkan sumber daya ekonomi dari area yang produktivitasnya rendah ke area yang produktivitasnya tinggi. Menurut Hendro (2011) dari survei tentang sumber kekayaan orang-orang didunia, dapat disimpulkan dari mana mereka bisa menjadi kaya. Berdasarkan hasil survei itu disimpulkan kekayaan itu diperoleh karena mayoritas (80%) menjadi entrepreneur, sebagian kecil menjadi top eksekutif dan hanya sedikit yang berasal dari warisan atau hibah dari orang tua dan leluhurnya. Penulisan makalah ini didukung dengan teori konsep model Bisnis Kanvas, teori fungsi manajemen, analisis lingkungan eksternal menggunakan Porter s Five Force, Matriks TWOS, strategi dan rencana pengembangan bisnis. konsep model Bisnis Kanvas menurut Osterwalder dan Pigneur (2010) adalah bahasa yang sama untuk menggambarkan, menvisualisasikan, menilai, dan mengubah model bisnis. Osterwalder dan Pigneur membuat sebuah pendekatan model kanvas yaitu setiap dari Nine Building Blocks dapat menjadi langkah awal yang memudahkan bagi para pebisnis untuk membangun dan mengembangkan bisnis mereka. Nine Building Blocks terdiri dari : Value Proportitions, Customer Segments, Customer Relationship, Channels, Key Activitiy, Key Partnership, Cost Structure, Revenue Stream. Model ini berhasil mengubah konsep model bisnis yang rumit menjadi sederhana. Pendekatannya, model bisnis ditampilkan dalam satu lembar kanvas, berisi peta sembilan elemen (kotak). Lantaran dirancang sederhana, metode kanvas dapat mendorong sebanyak mungkin karyawan terlibat dalam pengembangan model bisnis organisasinya. 145 JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN/Volume 52/No.11/November : Gambar 2. Template Model Bisnis Kanvas (Sumber : Osterwalder dan Pigneur (2010). Business Model Generstion,) Model yang dikembangkan Osterwalder dan Pigneur, secara terperinci dapat digambarkan dalam suatu kerangka yang disebut dengan nama Business Model Canvas (BMC) yang bertentuk kanvas dan terdiri dari sembilan blok ini berisikan elemen-elemen penting yang menggambarkan bagaimana organisasi menciptakan manfaat bagi dan mendapat manfaat dari para pelanggannya. Gambar 3. Komponen Model Bisnis kanvas (Sumber : Osterwalder dan Pigneur (2010). Business Model Generstion,) 146 Wongwa : Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan... Pattern menurut Osterwalder dan Pigneur (2010) adalah suatu gagasan untuk menangkap ide-ide desain sebagai suatu pola dasar dan deskripsi yang dapat digunakan secara berkesinambungan. Pattern atau pola membantu mendeskripsikan bisnis model yang memiliki kesamaan karakteristik, kesamaan pengaturan building blocks, atau kesamaan perilaku. Pola ini akan membantu dalam memperjelas dinamika dalam bisnis model dan akan menjadi dasar inspirasi untuk berjalannya suatu bisnis model. Dengan mendefinisikan dan menjelaskan pola bisnis model ini dapat ditetapkan format standar yang digunakan dalam konsep bisnis yang terkenal saat ini agar berguna ketika mendesain suatu bisnis model. Osterwalder dan Pigneur (2010) membuat sketsa lima pola bisnis model yaitu Unbundling business models pelaku bisnis membagi bisnisnya secara terpisah sehingga masing-masing fokus di pasarnya masing-masing. Ada tiga tipe bisnis dalam unbundling business model yaitu (Customer relation business, Product Innovation business, Infrastructure business), The long tail bisnis model mengenai fokus dalam menjual produk yang menjadi hit di pasaran, yaitu fokus ke product line yang luas, tetapi masing-masing dijual dalam volume relatif kecil, contohnya adalah Lego, Multi-side platform bisnis model yang terdiri dari dua atau lebih group pelanggan yang saling tergantung, bisnis yang ada di fasilitasi oleh interaksi diantara dua group yang berbeda tersebut, Free as a business model (freemium) menawarkan penawaran yang gratis, pelanggan yang tidak membayar di subsidi oleh bagian lain bisnis model atau oleh segmen pelanggan yang berbeda, Open business model menciptakan atau menangkap values dengan kolaborasi yang sistematis dengan partner diluar bisnis. Penulis memilih pola model bisnis Unbundling untuk digabungkan ke dalam konsep model bisnis kanvas. Menurut Robbins dan Coulter (2007) fungsi manajemen terdiri dari merencanakan, mengorganisasi, memimpin, mengendalikan. Analisis lingkungan ini meliputi dari kegiatan memonitor, evaluasi, dan mengumpulkan informasi dari lingkungan eksternal dan internal perusahaan. Tujuannya yaitu untuk mengidentifikasi faktor strategis, elemen eksternal dan internal akan memutuskan strategi dimasa yang akan datang bagi perusahaan Wheelen dan Hunger (2010). Analisis Eksternal merupakan langkah yang menentukan keberhasilan proses strategi, peluang yang dapat digunakan organisasi, dan ancaman yang harus dihadapi. faktor-faktor strategis eksternal perusahaan yang menjadi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan, lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan makro dikaji yaitu melalui Analisis PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal dan Environment Analysis). dan mikro meliputi analisis industri dengan menggunakan analisis Five Force Porter (Porter s Forces Model of Industri Competition), analisis Internal membawa penilaian yang jelas tentang sumber daya organisasi (seperti modal keuangan, keahlian teknis, karyawan yang ahli, manajer yang berpengalaman dan sebagainya) dan kemampuan dalam melakukan berbagai kegiatan fungsional yang berbeda seperti: Pemasaran (Marketing) diawali analisis STP menurut Kotler dan Keller (2012) dalam bukunya yang berjudul Marketing Management STP (Segmenting,Targetting, Postioning) merupakan esensi dari pemasaran yang strategis dengan menggunakan 7p Marketing Mix Kotler dan Keller (2012) : product (brand merek, citra merek), price, place, promotion, people, process, physical evidence, Menurut Duncan (2007), menganalisa lingkungan internal dan eksternal merupakan hal penting dalam proses perencanaan strategi faktor-faktor lingkungan internal di dalam perusahaan biasanya dapat 147 JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN/Volume 52/No.11/November : digolongkan sebagai strengths (S) atau Weakness (W), dan lingkungan eksternal perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai Opportunities (O) atau Threat (T). Analisis SWOT menjadi tidak berguna jika tidak diperluas menjadi matrix TOWS, Untuk dapat membangun strategi yang mempertimbangkan hasil dari analisis SWOT, dibangunlah TOWS Matriks hanya kebalikan atau kata lain dalam ungkapan SWOT mengilustrasikan bagaimana peluang dan ancaman pada lingkungan eksternal dapat dipadukan dengan kekuatan dan kelemahan dari perusahaan, sehingga hasil yang diperoleh dapat digambarkan melalui empat set alternatif strategi Wheelen dan Hunger (2010). Gambar 4. Analisis SWOT (Sumber: Fred, R. David. (2009). Konsep Manajemen Strategis) 148 Wongwa : Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan... Gambar 5. TOWS Matrix (Sumber : Lancaster, Geoff. Paul Reynolds (2013) Marketing Made Simple) Merumuskan Strategi, mengevaluasi alternatif strategi, memilih strategi yang menekankan pada kekuatan organisasi dan menggunakan peluang lingkungan atau yang memperbaiki kelemahan organisasi dan penahan terhadap ancaman dengan Porter s Five Forces (2008) dibuat pada tahun 1979 oleh Michael Eugene Porter dari Harvard Business School sebagai kerangka analisa untuk menjelaskan ketatnya kompetisi dan potensi pasar. persaingan itu menurut Porter adalah sebagai berikut persaingan antar perusahaan pesaing, Potensi masuknya pesaing baru, Potensi pengembangan produk pengganti, Daya tawar pemasok, Daya tawar konsumen. Gambar 6. Analisis Porter s Five Forces (Sumber: Hill, Charles. Gareth Jones (2009) Strategic Management Theory Book) 149 JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN/Volume 52/No.11/November : Setelah strategi dirumuskan, strategi harus diimplementasikan. Strategi hanya bagus jika implementasinya bagus. Tanpa peduli betapa efektifnya perusahaan telah merencanakan strateginya, perusahaan tersebut tidak dapat berhasil jika strategi itu tidak diimplementasikan dengan semestinya Implementasi strategi adalah sebuah proses yang mana strategi dan kebijakan diarahkan kedalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran, dan prosedur. Menurut Porter dalam buku management strategic karangan David (2010) ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi dalam memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu:, berdasarkan skema yang dikembangkan oleh Michael E. Porter adalah strategi keunggulan biaya, strategi diferensiasi, strategi fokus. strategi bersaing Porter merupakan hierarki business level strategy yang memfokuskan bagaimana perusahaan bersaing dalam industrinya dan bila perusahaan ingin menjadi produsen biaya rendah maka perusahaan dapat menggunakan kepemimpinan biaya menyeluruh (overall cost leadership). Bila perusahaan ingin menjadi unik dan berbeda dari pesaing, dapat menggunakan diferensiasi (differentiation). Jika perusahaan ingin menggarap segmen pasar tertentu saja, perusahaan dapat menggunakan fokus (focus). Gambar 7. Strategi Generik Model Porter (Sumber : Kreitner, Robert. Charlene Cassidy. Management, 2012) Proses ini memerlukan perubahan dalam budaya, struktur, dan sistem manajemen pada seluruh organisasi atau perusahaan Wheelen dan Hunger (2010) yaitu Program, financial, Prosedur (SOP) Pengertian SOP menurut Puspitasari, Rosmawati dan Melfrina (2012), Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan suatu standar / pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Griffin (2011), Standard Operating Procedure is a standard plan that outlines the steps to be followed in particular circumstances. menurut Puspitasari, Rosmawati dan Yusniar (2012), terdapat beberapa tujuan dibuatnya SOP antara lain mempertahankan konsistensi kerja karyawan, mengetahui peran dan fungi kerja di setiap bagian, memperjelas langkah-langkah tugas, wewenang dan tanggung jawab, menghindari kesalahan administrasi, menghindari kesalahan/kegagalan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi. Manfaat Standar Operasional Prosedur (SOP) Menurut Puspitasari, Rosmawati 150 Wongwa : Perencanaan Bisnis Jasa Pelatihan... dan Yusniar (2012), beberapa manfaat penerapan Standar Operasional Prosedur
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks