PERAN PENILAIAN KEADILAN TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI (TELAAH PSIKOLOGI SOSIAL DAN KEISLAMAN) Fathul Lubabin Nuqul

Please download to get full document.

View again

of 18
288 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
PERAN PENILAIAN KEADILAN TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI (TELAAH PSIKOLOGI SOSIAL DAN KEISLAMAN) Fathul Lubabin Nuqul Abstract The aim of the research are, to explore the influence of distributive justice
Document Share
Document Transcript
PERAN PENILAIAN KEADILAN TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI (TELAAH PSIKOLOGI SOSIAL DAN KEISLAMAN) Fathul Lubabin Nuqul Abstract The aim of the research are, to explore the influence of distributive justice and procedural justice toward organizational commitment. Data collection in this research has done by surveying method. The scales of organizational comitment, Distributive justice and Procedural justice were used as a parameters. Research was conducted at Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, with the employess as a subject. The total number of the subjects were 43. the result shown that Procedural justice was founded significantly influenced to the organizational commitment, and distributive justice not influenced to the organizational commitment. Key Word: Organizational Commitment, Distibutive Justice, Prosedural Justice. A. Latar Belakang Komitmen organisasi adalah bagian aspek yang penting dari organisasi, karena komitmen organisasi berkaitan dengan hasil kerja organisasi yang cukup penting. Penelitian yang dilakukan oleh Cohen mengemukakan bahwa komitmen organisasi berhubungan dengan tingkat keluarnya karyawan yang lebih rendah. 1 Dengan kata lain perusahaan yang rata-rata karyawan yang mempunyai komitmen tinggi akan mempunyai tingkat turn over yang rendah. Steers & Porter juga menyebutkan bahwa komitmen organisasi berhubungan dengan tingkat absensi yang rendah 2. Dengan demikian komitmen organisasi yang baik akan menurunkan perilaku negatif yang ada di perusahaan Bhuian et al. menyatakan bahwa komitmen organisasi berhubungan dengan performansi kerja yang lebih tinggi. 3 Porter et al, menyebutkan bahwa individu yang memiliki komitmen organisasi tinggi akan memiliki keyakinan dan penerimaan yang kuat akan nilai-nilai dan tujuan organisasi, kemauan untuk memberikan upaya keras bagi kepentingan organisasi, serta keinginan kuat untuk bertahan atau memelihara keanggotannya dalam organisasi 4. Dari hasil-hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa pengaruh komitmen perusahaan terhadap perilaku karyawan atau anggota organisasi sangat penting guna menciptakan iklim organisasi atau perusahaan yang baik. Di sisi lain, Karyawan yang bekerja mempunyai kebutuhan untuk dihargai dan diakui. Pemenuhan kebutuhan karyawan akan penghargaan dan pengakuan akan mendorong mereka berprestasi sebaik-baiknya. Perusahaan tidak boleh hanya menuntut karyawan untuk memberikan segenap upayanya Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 39 bagi perusahaan, tetapi juga perlu memenuhi kebutuhan karyawan. Berkaitan dengan hal tersebut Sommer mengatakan relasi perusahaan dengan karyawan perlu dibangun pada kerangka saling membutuhkan. Kesepakatan dalam pemenuhan kebutuhan kedua belah pihak secara adil akan mampu menumbuhkan komitmen tinggi pada perusahannya, yang akhirnya menjadikan karyawan terangsang untuk bekerja baik dan mampu bersaing dalam kondisi persaingan yang sangat ketat pada masa sekarang ini 5. Perilaku organisasi atau perilaku karyawan ditempat kerjanya dipengaruhi oleh faktor psikologis karyawan tersebut, seperti faktor persepsi, sikap, belajar dan kepribadian. Hal ini didukung oleh pendapat Dessler bahwa persepsi keadilan karyawan adalah bagian penting dari kesungguhan perusahaan atau organisasi dalam menghargai karyawan sebagai bagian dari perusahaan 6. Dalam pandangan Equity Theory, karyawan yang memiliki penilaian negatif mengenai seberapa jauh mereka diperlakukan adil di tempat kerjanya, dapat berakibat pada menurunnya masukan mereka kepada organisasi atau perusahaan, misalnya dengan absen atau keluar dari pekerjaan, untuk meningkatkan rasio keluaran terhadap masukan. Karyawan yang merasa diperlakukan adil secara interpersonal akan memberikan reaksi positif terhadap organisasinya, salah satunya dengan lebih berkomitmen terhadap organisasinya. Dapat diambil kesimpulan bahwa penilaian keadilan yang positif atau tinggi dari karyawan akan dapat meningkatkan komitmen organisasi. Penilaian keadilan sering menjadi kambing hitam dalam setiap permasalahan yang muncul dalam masyarakat adalah suatu fenomena yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Sementara itu masing-masing orang berbeda dalam mengartikan kata keadilan. Fenomena-fenomena tersebut dapat kita lihat dalam protes-protes buruh terhadap perusahaan tentang upah, dan tunjuangan setelah pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh perusahaan. Perlakuan oleh perusahaan yang demikian itu sering dinilai tidak adil. Dikatakan tidak adil karena pihak perusahaan memperlakukan pekerja tanpa mempertimbangkannya sebagai manusia yang memiliki berbagai kebutuhan. Produk yang dihasilkan memalui tangan para pekerja memberi keuntungan kepada perusahaan tetapi perusahaan tidak memberi imbalan kepada pekerja sebanding dengan kebutuhan dasarnya. Oleh karena itu dikatakan juga tidak adil, sebab dalam konteks keadilan komulatif transaksi antar karyawan dengan perusahaan tidak fair. 7 Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 40 Masterson, dalam penelitiannya menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa ketika individu merasa diperlakukan adil, akan menghasilkan sebuah komitmen yang tinggi 8. Schminke dkk menyimpulkan bahwa ketika individu merasa diperlakukan secara tidak adil, mereka akan menunjukkan penurunan kepuasan kerja 9, penurunan komitmen organisasi 10, penurunan kemauan bekerjasama 11, penurunan organizational citizenship behavior dan penurunan performansi kerja. 12 Permasalahannya dalam hubungan antara keadilan dan perilaku organisasi, termasuk di dalamnya komitmen organisasi, memunculkan perbedaan hasil jika membandingkan penilaian keadilan antar budaya. Penelitian-penelitian di atas kebanyakan dilakukan pada sampel di Amerika dan Eropa yang notabene berbudaya individualis dimana dalam budaya tersebut self interest sangat ditonjolkan. Berbeda dengan masyarakat yang berbudaya collectivism termasuk Indonesia lebih menonjolkan kolektifitas dan mengutamakan kepentingan kelompok diatas kepentingan individu, yang diperkirakan mempunyai perbedaan dalam penilaian keadilan. Penelitian yang menunjukkan perbedaan penilaian keadilan dalam kontek budaya dilakukan oleh Murphy-Berman & Berman, yang membedakan tentang penilaian keadilan antara budaya kolektivis yang diwakili oleh orang Indonesia dan budaya individualis yang diwakili orang Hong Kong, ditemukan bahwa ada perbedaan orientasi penilain keadilan antar kedua bangsa tersebut. 13 begitu juga dengan penelitian yang dilakukan pada budaya modern dan tradisionalism pada masyarakat Taipe juga menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaian keadilan dan komitmen organisasi. 14 Berkaitan dengan kontradiksi tersebut menurut hemat penulis masih releven untuk meneliti sejauh mana pengaruh penilaian distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi. B. Kajian Pustaka 1. Komitmen Organisasi Terdapat beberapa definisi komitmen organisasi, namun Definisi yang paling sering dijadikan rujukan adalah yang dikemukakan oleh Porter et al yang mengartikan komitmen organisasi sebagai sifat hubungan seorang individu dengan organisasi yang memungkinkan orang tersebut memiliki 1) ikatan yang tinggi; 2) memperlihatkan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan; 3). Mempunyai kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin; serta 4) mempunyai rasa penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi 15. Hal ini diperkuat oleh Kreiner Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 41 & Kinicki yang mengacu pada pendapatnya tentang komitmen, dimana komitmen organisasi merefleksikan seberapa besar individu mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi tempatnya bekerja dan komit pada tujuan organisasi tersebut. 16 Mayer et. al, mengemukakan 3 (tiga) bentuk komitmen organisasi yang terdiri atas: a. Komitmen Afektif, Komitmen Afektif, yaitu ikatan emosional, identifikasi dan keterlibatan dalam suatu organisasi. Artinya dengan adanya suatu ikatan psikologis antara individu dengan organisasinya, sehingga mempengaruhi perilakunya terhadap tugas-tugas yang diterimanya. b. Komitmen Berkelanjutan, Komitmen Berkelanjutan yaitu komitmen individu yang berdasarkan pada pertimbangan untung rugi atau pertimbangan tentang apa yang harus dikorbankan bila ia meninggalkan organisasi. Individu memutuskan untuk menetap pada suatu organisasi karena menganggap sebagai suatu pemenuhan kebutuhan. c. Komitmen Normatif Komitmen Normatif yaitu keyakinan individu tentang tanggung jawab terhadap organisasi. Individu tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk loyal pada organisasi tersebut 17. Efek dari karyawan yang memiliki komitmer organisasi yang tinggi, akan meningkatkan kinerja, menurunkan absensi kehadiran, menurunkan turn over dan lain lain yang pada dasarnya akan memberikan dampak positif pada perusahaan atau lembaga. Komitmen organisasi dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Dessler, bahwa tingginya komitmen organisasi dipengaruhi antara lain oleh nilai-nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama. 18 Faktor lain yang dapat mempengaruhi komitmen adalah: komunikasi dua arah, rasa kebersamaan dan kerukunan, visi dan misi, nilai sebagai dasar perekrutan, kestabilan kerja, dan penghargaan finansial. Atau dengan kata lain komitmen organisasi sangat tergantung oleh sejauh mana perusahaan atau lembaga memenuhi kebutuhan psikologis karyawan. 2. Penilaian Keadilan. Keadilan sering kali dikaitkan dengan kejujuran (fairness), kebenaran (right), kepantasan atau kelayakan sesuai hak (deserving) dan lainnya yang banyak digunakan baik untuk memutuskan pembagian imbalan atau sumber Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 42 daya. istilah keadilan (justice) memang tidak mempunyai makna yang tunggal Cropanzano & Greenberg menyatakan bahwa dalam kajian ilmu-ilmu organisasi, keadilan sering kali dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, yaitu suatu tindakan didefinisikan adil jika banyak individu mempersepsikannya seperti itu (adil) atas dasar riset empiris 19. Sehingga apa yang adil berasal dari keterkaitan antara sisi objektif dari pengambilan keputusan dengan persepsi subjektif tentang keadilan. Dengan kata lain individu menilai suatu keputusan itu adil atau tidak, merupakan proses psikologis ditingkat individu. Misalnya individu A menganggap keputusan tersebut adil belum tentu dengan individu B. Fiske & Taylor menyatakan bahwa dalam Psikologi, proses penilaian secara singkat meliputi pengodean, pengorganisasian dan penuangan. 20 Informasi atau stimulus berupa keputusan tertentu yang diterima individu pertama akan diberi kode-kode tertentu kemudian diatur atau diorganisir dalam susunan tertentu untuk kemudian dituangkan dalam bentuk respon penilaian terhadap stimulus tersebut. Lind & Tyler menyatakan bahwa keadilan pada dasarnya merupakan bagian dari moralitas, tetapi pada sisi lain keadilan telah dirumuskan dalam aturan-aturan baku yang dilaksanakan secara ketat 21. Secara umum keadilan digambarkan sebagai situasi sosial ketika norma-norma tentang hak dan kelayakan telah dipenuhi. Dari dua hal tersebut terdapat benang merah, bahwa penilaian keadilan merupakan proses kognisi sosial. Dimana dalam kognisi sosial tidak hanya proses kognisi (pengodean, pengorganisasian dan penuangan) saja yang bekerja tetapi juga pengaruh kontek sosial sangat mempengaruhi proses kognisi individu. 22 Dalam penilaian keadilan dapat dipengaruhi juga oleh norma kelompok, kebenaran bersama, identitas sosial, perbandingan sosial, internal audience dan lain-lain. Dalam Psikologi ada beberapa konsep tentang keadilan yaitu keadilan distributif, keadilan prosedural, dan keadilan Interaksional. keadilan distributif merupakan penilaian keadilan pada pembagian alokasi atau sumber daya, dalam keadilan distribustif ada tiga bentuk yaitu equity (proporsional), equality (pemerataan) dan needs (atas dasar kebutuhan), Keadilan prosedural menyangkut apa yang dipersepsikan sebagai keadilan prosedur atau aturan yang digunakan untuk mengalokasikan keuntungan, yaitu cara memutuskan pembagian hasil-hasil. Bila seseorang merasa bahwa dia mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan menyuarakan Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 43 keluhannya selama proses pengambilan keputusan, mereka jauh lebih cenderung menganggap prosedurnya adil. Keadilan interaksional mengacu pada pertimbangan dan kepedulian yang ditunjukkan oleh orang-orang yang memiliki wewenang dalam membagi hasil 23. Namun beberapa ahli menganggap bahwa keadilan interaksional merupakan bagian dari keadilan prosedural. 3. Pengaruh Penilaian Keadilan terhadap Komitmen organisasi Dari dimensi keadilan dalam Psikologi maka beberapa telah mengaplikasikannya dalam berbagai bidang salah satu diantaranya adalah konsep Greenberg sebagai keadilan organisasional (organizational justice) yang merupakan konsep tentang bagaimana pembagian sumberdaya dan prosedurnya dalam perusahaan maupun organisasi diangggap adil. 24 Banyak yang telah melakukan penelitian tentang keadilan dalam dunia kerja sebut saja penelitian tentang Keadilan prosedural dengan kesehatan yang dilakukan oleh Elovainio, et al menyimpulkan bahwa karyawan yang bekerja dengan suasana organisasi yang tidak adil sangat berisiko mengalami penurunan kesehatan baik secara fisik maupun psikis, daripada karyawan yang bekerja dengan keadilan yang tinggi. 25 Keadilan prosedural juga berkorelasi dengan kepercayaan terhadap managerial dan kepercayaan terhadap organisasi. 26 Beberapa penelitian tentang keadilan organisasi dan komitmen organisasi juga telah banyak dilakukan, jika sekali menganggap sebuah organisasi melakukan prosedur yang adil maka karyawan akan menganggap bahwa perusahaan tersebut mempunyai budaya yang adil. Tyler menyatakan dalam modelnya bahwa keadilan prosedural mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan dukungan terhadap organisasi dari pada keadilan distributif. 27 Statement ini juga didukung oleh penelitian-penelitian yang lain seperti Schappe, 28 Naumann & Bennett, 29 Masterson et al, 30 Masterson, 31 Colquitt. 32 Tetapi dipihak lain ditemukan juga penelitian yang menemukan hasil yang bertolak belakang dimana keadilan distributif lebih dominan terhadap komitmen terhadap organisasi. 4. Keadilan dalam Islam Faktor terpenting dan yang paling utama dalam memperbaiki seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi politik sosial ekonomi adalah keadilan. Dalam hal ini, keadilan merupakan salah satu dasar konsep Islam mengingat kebaikan, kebahagiaan hidup, ketertiban, kesetaraan dan kesejahteraan masyarakat tidak akan tercipta tanpa adanya keadilan. 33 Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 44 Keberadaan alam semesta dan diutusnya para rasul serta diturunkannya kitab-kitab Allah berlandaskan prinsip keadilan. 34 berdasarkan surat al Hadiid ayat 25.: Hal ini Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)nya dan rasul-rasul-nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al Hadiid: 25) 35 Dalam Al-Qur an, Allah mewajibkan manusia berbuat adil dalam surat An-Nahl ayat 90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl: 90) 36 Dari ayat tersebut di atas jelas Allah SWT memerintahkan untuk berbuat adil sama halnya dengan berbuat kebajikan. Karena itu, keadilan yang diwajibkan oleh Nya bersifat mutlak dan kehidupan manusia, meliputi : dalam aplikasinya bagi keluruh aspek a. Adil dalam bidang hukum yang diterangkan dalam surat An-Nisa 58 Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS An-Nisa : 58) 37 b. Adil dalam ucapan dan kesaksian yang diterangkan dalam surat An-An am 152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah.Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat (QS An-An aam:152) 38 c. Adil dalam perjanjian (Al-Baqoroh 282) Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, Jurnal Psikoislamika Volume 5 Nomor 1 Tahun 2008 Halaman 45 dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Baqoroh: 282) 39 d. Adil dalam mendamaikan pihak yang bertikai (Al-Hujurat 9) Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS: Al Hujuraat:9). 40 Dalam kaitannya dengan penegakan keadilan Al Quran telah mengatakan bahwa dalam penegakan keadilan harus ditegakkan dengan tidak membedakan golongan, seperti dalam ayat berikut: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS: Al Maidah: 8) 41 Dalam kaitannya dengan keadilan di dunia kerja, Allah juga telah dengan jelas mengatakan bahwa seseorang yang berkerja dengan baik maka dia akan mendapat inbalan yang positif atas kerjanya dan sebaliknya. Hal ini tergambar dalam surat Al-Fushsh
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks