PENGARUH JENIS BONGGOL DAN KONSENTRASI BA (BENZILADENIN)TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca Linn) KEPOK KUNING.

Please download to get full document.

View again

of 39
239 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
PENGARUH JENIS BONGGOL DAN KONSENTRASI BA (BENZILADENIN)TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca Linn) KEPOK KUNING (Skripsi) Oleh Reza Utama Saputra FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
Document Share
Document Transcript
PENGARUH JENIS BONGGOL DAN KONSENTRASI BA (BENZILADENIN)TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca Linn) KEPOK KUNING (Skripsi) Oleh Reza Utama Saputra FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2016 ABSTRAK PENGARUH JENIS BONGGOL DAN KONSENTRASI BA (BENZILADENIN) TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca Linn) KEPOK KUNING Oleh REZA UTAMA SAPUTRA Pisang (Musa paradisiaca) merupakan salah satu komoditas buah unggulan Indonesia yang hampir semua lapisan masyarakat Indonesia mengenalnya, karena penyebarannya sangat luas dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik yang dibudidayakan di lahan khusus maupun yang ditanam sebagai pengisi pekarangan. Lebih dari 200 jenis pisang terdapat di Indonesia, dengan keragaman jenis yang tinggi. Kondisi ini memberikan peluang untuk dapat memanfaatkan dan memilih jenis pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui konsentrasi BA yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit pisang Kepok Kuning asal bonggol (2) Mengetahui perbedaan pertumbuhan bibit pisang asal bonggol anakan dan bonggol produksi (3) Mengetahui pengaruh konsentrasi BA terhadap pertumbuhan bibit pisang asal bonggol anakan dan bonggol produksi. Penelitian ini sudah dilaksanakan pada bulan September sampai bulan Desember 2013 di laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung, Bandar Lampung. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan yang sekaligus buat uji sebagai kelompok. Pengelompokan dilakukan berdasarkan waktu pengamatan dan ukuran bonggol. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial ( 2 x 4 ) yang terdiri dari dua faktor; faktor pertama adalah jenis bonggol yaitu bonggol anakan dan bonggol produksi. Faktor kedua adalah konsentrasi Benziladenin (BA) terdiri dari 4 taraf konsentrasi yaitu: 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa : (1) Jenis bonggol produksi menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan bonggol anakan dilihat pada variabel jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, dan diameter batang (2) Penggunaan BA dengan berbagai konsentrasi tidak menunjukkan adanya pengaruh pada semua variabel pengamatan kecuali pada jumlah akar (3) Pengaruh konsentrasi BA pada pertumbuhan tanaman pisang asal bonggol anakan berbeda dengan asal bonggol produksi. Pada bonggol produksi, penggunaan BA 50 ppm 100 ppm sudah mempengaruhi tinggi tunas, tetapi pada bonggol anakan BA yang dibutuhkan 150 ppm. Kata kunci: pembibitan, Benziladenin, bonggol produksi, bonggol anakan PENGARUH JENIS BONGGOL DAN KONSENTRASI BA (BENZILADENIN) TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca Linn) KEPOK KUNING Oleh REZA UTAMA SAPUTRA Skripsi sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2016 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tanjung Karang Kota Bandar Lampung pada tanggal 31 Juli 1991, penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Syamsuddin dan Ibu Elitapuri S.Pd. Pada tahun 2002 penulis menyelesaikan pendidikan di SD Kartika II-6 Bandar Lampung, tahun 2006 di SMP Kartika II-2 Bandar Lampung, dan tahun 2009 di SMA Perintis 1 Bandar Lampung. Pada tahun 2009 penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi setrata satu Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Batu Ketulis, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat pada bulan Juli Agustus Penulis juga melaksanakan Praktik Umum di PT. Sinar Abadi Cemerlang, Cianjur, Jawa Barat pada bulan Januari-Febuari Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi Ketua Bidang Eksternal Persatuan Mahasiswa Agroteknologi (PERMA AGT) Fakultas Pertanian Universitas Lampung periode Penulis juga pernah menjadi Staf Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM-U) periode PERSEMBAHAN Segala puji syukur milik Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Dengan segala kerendahan hati ku persembahkan skripsi ini kepada Kedua orang tua ku tercinta, yang tak pernah berhenti mendoakan ku untuk menjadi orang yang berguna. Dan adik adikku tersayang, yang selalu memberikan dorongan semangat untuk keberhasilanku, serta seluruh keluarga tersayang yang tidak pernah berhenti menyemangati maupun menasihati. Selalu bersyukur atas apa yang kita dapat SANWACANA Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Pengaruh Jenis Bonggol dan Konsentrasi BA (Benziladenin) Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Pisang (Musa paradisiaca Linn) Kepok Kuning, sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Agroteknologi Universitas Lampung. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Ir. Kushendarto M.S., selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, nasihat, kritik, dan saran yang membangun kepada penulis selama pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi; 2. Ibu Ir. Rugayah, M.P., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, nasihat, kritik, dan saran yang diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian skripsi; 3. Ibu Ir. Tri Dewi Andalasari, M.Si., selaku Pembahas atas segala kritik dan saran yang membangun dalam proses penyelesaian skripsi; 4. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung; 5. Bapak Dr. Ir. Kuswanta F. Hidayat, M.P., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi dan Pembimbing Akademik, untuk bimbingan dan pengarahan yang diberikan selama penulis menjadi Mahasiswa di Universitas Lampung; 6. Keluarga tercinta, Papa ( Syamsuddin), Mama (Elitapuri S.Pd.) dan adikku Meta Mutiara Putri Amd.AK serta Aqshal Raihan Syahrindra untuk kasih sayang, dukungan, dan doa yang diberikan kepada penulis; 7. Teman-teman AGT 09 yang selalu menemani dalam suka dan duka, Saede Nerotama, S.P., Dharma Mahardika, S.P., Ahmad Fajar Apriyaldi, S.P., Anggita Cheriany Tanjungan, S.P., Angga Sukowardana, S.P., Panji Perwira, I Gusti Putu Setiawan S.P., Rizki Amelia, S.P.,dan teman teman semua yang tidak bisa disebutkan satu per satu; 8. Kiyai Udin, Mas Rico, Mas Iwan selaku staf jurusan Agroteknologi serta seluruh pihak yang membantu penulis selama melaksanakan penelitian; Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bandar Lampung, Januari 2016 Penulis Reza Utama Saputra i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... iii ix I. PENDAHULUAN Latar Belakang dan Masalah Tujuan Penelitian Landasan Teori Kerangka Penelitian Hipotesis... 8 II. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Pisang Penyedian Bibit Zat Pengatur Tumbuh III. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pelaksanaan Penelitian Variabel Pengamatan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Waktu Muncul Tunas, Jumlah Mata Tunas... 20 ii Tinggi Tunas Jumlah Daun Panjang Daun Lebar Daun Diameter Batang Jumlah Akar Panjang Akar Pembahasan V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran PUSTAKA ACUAN LAMPIRAN Tabel Gambar iii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi tanaman pisang di Indonesia dari tahun 2002 sampai tahun Rekapitulasi hasil analisis ragam untuk pengaruh berbagai macam konsentrasi BA dan jenis bonggol terhadap pertumbuhan vegetative tanaman pisang Kepok Kuning Hasil pengukuran penggunaan BA dengan berbagai macam Konsentrasi dan jenis bonggol pada waktu muncul tunas dan jumlah mata tunas bibit pisang Kepok Kuning Hasil pemisahan nilai tunas dengan uji BNT pengaruh konsentrasi BA dan jenis bonggol pada tinggi tunas bibit pisang Kepok Kuning Hasil pemisahan nilai tunas dengan uji BNT pengaruh konsentrasi BA dan jenis bonggol pada jumlah akar bibit Pisang kapok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap waktu muncul tunas pada Perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata waktu muncul tunas pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap jumlah mata tunas pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata jumlah mata tunas pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap tinggi tunas(cm) pada perbanyakan Tunas pisang Kepok Kuning Uji Homogenitas ragam untuk tinggi tunas (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning... 34 iv 12. Analisis ragam untuk rata-rata tinggi tunas (cm) pada pembibitan pisang Kepok kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap jumlah daun (helai) pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata jumlah daun (helai) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata jumlah daun (helai) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap panjang daun (cm) pada Perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata panjang daun (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata panjang daun (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap lebar daun (cm) pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata lebar daun (cm) pada Pembibitan pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata lebar daun (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap lingkar batang (cm) pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata lingkar batang (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata lingkar batang (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap jumlah akar (helai) pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata jumlah akar (helai) pada pembibitan pisang Kepok Kuning... 39 v 27. Analisis ragam untuk rata-rata jumlah akar (helai) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Pengaruh jenis bonggol terhadap panjang akar (cm) pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning Uji homogenitas ragam untuk rata-rata panjang akar (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning Analisis ragam untuk rata-rata panjang akar (cm) pada pembibitan pisang Kepok Kuning... 40 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Rumus bangun benziladenin (BA) Pengaruh jenis bonggol terhadap jumlah daun pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning. Nilai yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 0,05 = 0, Pengaruh jenis bonggol terhadap panjang daun pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning. Nilai yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 0,05 = 0, Pengaruh jenis bonggol terhadap lebar daun pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning. Nilai yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 0,05 = 0, Pengaruh jenis bonggol terhadap lingkar batang pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning. Nilai yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 0,05 = 0, Pengaruh jenis bonggol terhadap panjang akar pada perbanyakan tunas pisang Kepok Kuning. Nilai yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 0,05 = 3, Bibit pisang bonggol produksi (a) dan bonggol anakan (b) Perendaman bonggol pisang dalam larutan fungisida Penyemprotan benziladenin pada bonggol pisang Pertumbuhan tunas pisang dari bonggol anakan Pertumbuhan tunas pisang dari bonggol produksi... 43 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pisang (Musa paradisiaca) merupakan salah satu komoditas buah unggulan Indonesia yang hampir semua lapisan masyarakat Indonesia mengenalnya, karena penyebarannya sangat luas dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik yang dibudidayakan di lahan khusus maupun yang ditanam sebagai pengisi pekarangan. Lebih dari 200 jenis pisang terdapat di Indonesia, dengan keragaman jenis yang tinggi. Kondisi ini memberikan peluang untuk dapat memanfaatkan dan memilih jenis pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen, salah satunya pisang Kepok Kuning (Satuhu dan Supriyadi, 2000). Pisang Kepok Kuning memiliki kulit yang tebal dan warna yang kuning jika sudah matang. Satu tandan terdiri dari sisir dengan berat kg. Kandungan nutrisi pada pisang Kepok Kuning kalori 79 kkal, karbohidrat 21,2 gram, protein 1,1 gram, lemak 0,2 gram, vitamin A 0,022 gram dan vitamin C. Di Indonesia, produksi tanaman pisang dari tahun 2002 hingga 2012 selalu menduduki tempat pertama di antara jenis buah buahan lainnya. Hal itu dapat dilihat dari total hasil produksi yang mencapai ton pada tahun 2002 dan ton pada tahun 2012 (Tabel 1). Dari total produksi tanaman pisang Indonesia pada tahun 2012 Lampung menyumbang ton atau 8,7% 2 menempati peringkat ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Timur (Badan Pusat Statistik, 2013). Tabel 1. Produksi pisang di Indonesia dari tahun 2002 sampai tahun 2012 Tahun Pisang (ton) Jeruk (ton) Pepaya (ton) Nanas (ton) ,384, , , , ,177,155 1,529, , , ,874,439 2,071, , , ,177,607 2,214, , , ,037,472 2,565, ,451 1,427, ,454,226 2,625, ,524 1,395, ,004,615 2,467, ,899 1,433, ,373,533 2,131, ,844 1,558, ,755,073 2,028, ,801 1,406, ,132,695 1,818, ,251 1,540, * 6,071,043 1,609, ,365 1,749,817 Sumber : Badan Pusat Statistik (2013) Secara umum produktivitas pisang yang dikembangkan masyarakat masih rendah, seperti di Lampung produksi pisang hanya ton/ha, padahal potensi produksinya bisa mencapai ton/ha. Perbedaan hasil produksi ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan petani dalam mengembangkan tanaman pisang, serta adanya serangan hama dan penyakit (Sunarjono, 2002). 3 Tanaman pisang termasuk tanaman yang serbaguna. Selain buahnya, bagian lainnya juga dapat dimanfaatkan. Bonggol pisangdapat dijadikan soda sebagai bahan baku sabun dan pupuk kalium. Batangnya dapat digunakan sebagai penghasil serat bahan baku kain dan makanan ternak, serta daunnya dapat digunakan sebagai pembungkus makanan tradisional (Rukmana, 1999). Salah satu pengembangan tanaman pisang perlu adanya dukungan oleh ketersediaan bibit yang berkualitas. Ketersediaan bibit pisang bermutu perlu dilakukan dengan teknik perbanyakan yang tepat. Perbanyakan bibit pisang yang dilakukan selama ini dengan cara pemisahan anakan. Jika pengembangan mengandalkan bibit yang berasal dari anakan saja maka kebutuhan tidak akan terpenuhi, karena membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh bibit dalam jumlah yang banyak. Di samping itu, cukup riskan untuk mengambil anakan dalam rumpun pisang karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama, juga dapat menimbulkan penyakit dari luka akibat pemotongan anakan. Selain anakan, pengembangan bibit tanaman pisang dapat dilakukan dengan cara kultur jaringan akan tetapi perlu ketrampilan khusus dalam menerapkannya dan harganya relatif mahal di tingkat petani. Untuk itu perlu adanya cara lain dalam pengembangan pembibitan pisang yang sehat dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang relatif singkat dengan biaya yang terjangkau. Salah satunya dengan menumbuhkan tunas dari bonggol yang sudah berproduksi. Diharapkan dengan menggunakan metode seperti ini petani dapat melakukan pembibitan sendiri dan mendapatkan bibit dengan mata tunas yang banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian perbanyakan pisang dengan menggunakan bonggol yang 4 sudah berproduksi atau anakan dengan menggunakan ZPT untuk memacu pertumbuhan tunas sehingga dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak. Beberapa percobaan menyebutkan bahwa pemberian berbagai zat pengatur tumbuh (ZPT) penting dalam perbanyakan tanaman karena mampu merangsang pembentukan akar maupun tunas. ZPT yang digunakan untuk menumbuhkan tunas adalah dari golongan sitokinin. Salah satu sitokinin yang paling banyak digunakan adalah benziladenin (Zulkarnain, 2009). Pengaruh aplikasi BA konsentrasi 0 ppm 200 ppm pada pisang Ambon Kuning dengan belahan bonggol tidak menunjukkan perbedaan dalam menghasilkan mata tunas, namun pada BA konsentrasi 50 ppm 100 ppm dapat menghasilkan tunas yang lebih banyak (Rugayah dan D. Hapsoro, 2010). Penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah pertumbuhan bibit pisang asal bonggol anakan berbeda dengan bibit asal bonggol produksi? 2. Apakah pemberian berbagai konsentrasi BA memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bibit pisang? 3. Apakah pengaruh konsentrasi pemberian BA pada pertumbuhan bibit pisang bonggol anakan berbeda dengan bonggol produksi? 5 1.2 Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengetahui perbedaan pertumbuhan bibit pisang asal bonggol anakan dan bonggol produksi. 2. Mengetahui konsentrasi BAyang berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit pisang Kepok Kuning asal bonggol. 3. Mengetahui perbedaan pengaruh konsentrasi BA terhadap pertumbuhan bibit pisang asal bonggol anakan dan bonggol produksi. 1.3 Landasan Teori Untuk meningkatkan produktivitas pisang salah satu teknik budidaya yang digunakan pada umumnya adalah dengan cara penggunakan bibit berkualitas. Bibit pisang dapat diproduksi dengan berbagai cara antara lain pemisahan anakan, pembelahan bonggol, dan kultur jaringan. Perbanyakan bibit pisang secara konvesional dengan pembelahan bonggol dapat menghasilkan bibit yang seragam dalam jumlah yang relatif banyak, namun masih kurang seragam dan kurang banyak dibandingkan dengan perbanyakan bibit pisang dengan kultur jaringan. Kelebihan dari perbanyakan bibit pisang dengan menggunakan belahan bonggol yaitu biaya yang digunakan tidak terlalu besar dan tidak membutuhkan keahlian khusus dalam kegiatan budidaya, sehingga metode tersebut lebih mudah diterapkan oleh petani. 6 Dalam beberapa pembibitan tanaman pisang disebutkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh dapat menghasilkan bibit pisang yang baik dan berkualitas. Sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang memacu pertumbuhan tunas. Beberapa macam sitokinin merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif pada akar, embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi pada akar selanjutnya diangkut melalui pembuluh xilem menuju sel sel batang (Wattimena, 1988). Menurut George (2008), untuk merangsang pembentukan dan perkembangan tunas, ZPT yang sangat berperan adalah sitokinin. Sitokinin yang sering digunakan adalah BA karena memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam merangsang pembentukan dan perkembangan tunas. Menurut Wuryaningsih (2010), benziladenin merupakan ZPT jenis sitokinin yang berfungsi memacu pembelahan sel dan pembentukan tunas. Pemberian BA akan diangkut oleh xilem menuju sel target pada batang kemudian mengakibatkan sitokinin endogen yang berada dalam tanaman meningkatkan sehingga pertumbuhan tunas aksilar dari potongan eksplan tunas apikal dapat dipacu. Benziladenin pada konsentrasi tertentu dapat mempengaruhi proses pembelahan sel, proliferasi tunas ketiak, penghambatan pertumbuhan akar tanaman dan induksi umbi mikro (Widyastuti dan Tjokrokusumo,2001). Zat tersebut memiliki karakteristik struktur bentuk basa bebas yang bersifat sangat aktif dengan rumus bangun yang terdiri dari basa adenin dengan rantai karbon dan hidrogen yang menempel pada nitrogen yang menonjol dari puncak cincin purin (Gambar 1). 7 Gambar 1.Rumus bangun benziladenin (BA) 1.4 Kerangka Pemikiran Tanaman pisang merupakan tanaman lokal yang banyak digemari oleh masyarakat luas khususnya Indonesia, pisang merupakan buah yang sangat bergizi dan merupakan sumber vitamin, mineral karbohidrat yang harganya yang relative murah. Oleh karena itu permintaan masyarakat terhadap pisang meningkat dari tahun ketahunnya. Akan tetapi produktivitas pisang yang dikembangkan di masyarakat masih rendah, hal ini terjadi di karenakan oleh teknik budidaya yang kurang tepat serta tingginya gangguan hama dan penyakit. Kendala tersebut dapat diatasi dengan pen
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks