Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Ditinjau dari Aspek Bidan Desa sebagai Pelaksana di Kabupaten Jepara

Please download to get full document.

View again

of 7
323 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Volume 01 No. 01 April 2013 Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Ditinjau dari Aspek Bidan Desa sebagai Pelaksana di Kabupaten
Document Share
Document Transcript
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Volume 01 No. 01 April 2013 Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Ditinjau dari Aspek Bidan Desa sebagai Pelaksana di Kabupaten Jepara Sokhiyatun *, Laksmono Widagdo **, Ayun Sriatmi ** * Akademi Kebidanan Islam Al Hikmah, Mayong, Jepara, Desa Welahan RT/RW 001/003, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, ** Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK Kematian ibu di Kabupaten Jepara tahun 2011 sebesar 24 orang (AKI 113/ Kelahiran Hidup), terutama pada periode kehamilan dan persalinan yang diakibatkan perdarahan. Program P4K sebagai terobosan untuk mengurangi kematian ibu telah dilaksanakan di Kabupaten Jepara sejak tahun Survey pendahuluan menunjukkan meski cakupan indikator P4K sudah baik, namun tidak semua kolom stiker diisi, bidan hanya memberikan stiker pada ibu hamil dan seringkali tidak mendiskusikan rencana persalinan dengan ibu hamil dan keluarga. Tujuan penelitian yaitu menjelaskan pelaksanaan P4K dari aspek bidan desa sebagai pelaksana di wilayah puskesmas Kabupaten Jepara tahun Jenis penelitian deskriptif observasional dengan metode kualitatif. Populasi seluruh bidan desa yang ada di Kabupaten Jepara, Informan utama 8 bidan desa dari 4 puskesmas terpilih dengan kriteria puskesmas di daerah perkotaan sebanyak 2 puskesmas dan 2 puskesmas daerah pedesaan. Informan triangulasi yaitu ibu hamil (8 orang), kader kesehatan (8 orang), Bidan Koordinator (4 orang ) dan Kasie Kesga Dinas Kesehatan. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam.. Analisis data dilakukan dengan content-analysis. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi umur bidan desa antara tahun, berpendidikan D3 Kebidanan dan masa kerja 3-15 tahundengan rata-rata kerja 9 tahun. Pengetahuan dan sikap bidan tentang P4K sudah baik karena dari 8 bidan sudah memahami tujuan dari P4K dan mendukung P4K dengan alasan program tersebut dapat membantu pencapaian program KIA, meski pelatihan khusus P4K tidak ada, hanya penunjang dari P4K yaitu APN dan BBLR, namun dana khusus penunjang kegiatan P4K, tidak tersedia. Buku KIA dan stiker P4K sebagai sarana dan prasarana tersedia cukup, namun bidan kit belum lengkap. Tidak ada SOP khusus P4K, kecuali SOP penapisan awal dan deteksi bumil resti. Indikator keberhasilan yang dipahami bidan bahwa stiker harus terpasang di setiap rumah ibu hamil yang ada di wilayahnya. Bidan desa melakukan aspek perencanaan persalinan cukup baik, serta melakukan koordinasi dan komunikasi melalui sosialisasi dan pertemuan rutin. Kata kunci : Program P4K, Bidan Desa. PENDAHULUAN Proses pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah, terutama tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang merupakan salah satu indikator status kesehatan suatu bangsa. 1 Angka Kematian Ibu di Indonesia pada tahun 2007 menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) sebesar 228/ kelahiran hidup. Pencapaian tersebut masih jauh dari pencapaian target Milenium Development Goal s (MDG s) yaitu diharapkan AKI pada tahun 2015 sebesar 47 102/ kelahiran hidup. 2 Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah diketahui bahwa AKI di Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar 114,42/ kelahiran hidup sedangkan tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 104/ kelahiran hidup. 3 Pencapaian tersebut dirasakan cukup menggembirakan pada satu sisi, namun sisi lain ternyata menunjukkan bahwa penurunan tersebut tidak terjadi pada semua kabupaten yang ada di provinsi Jawa Tengah. 3 Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, AKI Kabupaten Jepara dari tahun 2009 sampai 2010 mengalami penurunan, namun pada tahun 2011 cenderung mengalami peningkatan. Jumlah absolut kematian ibu pada tahun 2009 di Kabupaten Jepara sebesar 26 orang (AKI 123/ kelahiran hidup), mengalami penurunan di tahun 2010 sebesar 23 orang (AKI 108/ kelahiran hidup). Namun demikian, terjadi sedikit peningkatan jumlah ibu yang mengalami kematian di tahun 2011 menjadi 24 orang (AKI 113/ kelahiran hidup). 4 Kasus kematian di Kabupaten Jepara tahun 2011 yaitu 24 kasus kematian, jumlah tertinggi kematian ibu terjadi di Puskesmas Jepara sebesar 5 orang (20,8 %), 3 orang (12,5 %) dari Puskesmas Bangsri II dan Puskesmas Donorojo, dan masing-masing 2 orang (8,4 %) dari Puskesmas Mayong I, Batealit, dan Tahunan, serta masing-masing 1 orang (4,1 %) dari Puskesmas Welahan I, Mayong II, Keling I, Keling II, Nalumsari, Kalinyamatan dan Kembang. Berdasarkan periode waktu diketahui 54,2 % kematian pada periode kehamilan dan 41,7 % pada periode nifas. 5 Berdasarkan faktor penyebab kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Jepara, terutama karena faktor penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung yaitu pre eklamsi (38 %), perdarahan post partum (15 %), infeksi (19 %), persalinan macet/lama (4 %), abortus (4 %) dan lainnya (4 %), penyakit infeksi/parasit (8 %) dan tidak spesifik (8 %). 5 Penyebab tidak langsung kematian yang terjadi antara lain karena rendahnya tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kedudukan dan peran perempuan, faktor sosial budaya serta transportasi. Hal tersebut berdampak pada terjadinya keterlambatan dalam pengambilan keputusan di masyarakat untuk merujuk, apalagi ditunjang dengan sarana transportasi yang belum memadai, penanganan kasus kegawatdaruratan obstetri di tempat rujukan yang tidak sesuai standar dan ketidaksiapan fasilitas kesehatan untuk melakukan penanganan kegawatdaruratan. 4 Pada tahun 2007 Menteri Kesehatan dalam upayanya menurunkan kematian ibu di Indonesia telah mencanangkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker yang berfungsi sebagai alat bantu untuk memantau kondisi dan perkembangan ibu hamil dalam rencana persalinannya. Program P4K merupakan upaya terobosan dalam percepatan AKI melalui kegiatan peningkatan akses dan kualitas pelayanan, yang sekaligus merupakan kegiatan yang bertujuan membangun potensi masyarakat, khususnya kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindakan dalam menyelamatkan ibu, khususnya ibu hamil yang ada di wilayahnya. 2 Sedangkan stiker itu sendiri merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pemantauan ibu dalam proses kehamilannya dari tahap pemeriksaan (antenatal care), persalinan dan nifas serta penanganan resiko komplikasi. Dalam program P4K dengan stiker, bidan diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator dan dapat membangun komunikasi persuasif dan setara di wilayah kerjanya agar dapat mewujudkan kerjasama dengan ibu, keluarga dan masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu. Melalui program P4K dengan stiker, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan norma sosial bahwa cara yang aman untuk menyelamatkan ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir ke bidan adalah dengan memeriksakan kehamilan secara rutin, bersalin, melakukan perawatan 48 nifas dan perawatan bayi baru lahir pada bidan atau tenaga kesehatan terampil di bidang kebidanan. 2 Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Kabupaten Jepara telah dilaksanakan sejak tahun Pelaksana dan penanggungjawab program P4K adalah bidan dan bidan desa yang ada di Poliklinik Kesehatan Desa (PKD). Hasil laporan evaluasi program/kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara menunjukkan bahwa jumlah sasaran ibu hamil Kabupaten Jepara tahun 2011 sejumlah orang Dari total sasaran ibu hamil tersebut, keseluruhannya (100%) telah mendapat stiker. Kondisi ini sesuai target yang ditentukan (100%). Dari total ibu hamil yang mendapat stiker, diketahui sebanyak ibu hamil (96,4%) yang mendapatkan pelayanan ANC sesuai standar. Pencapaian ini lebih tinggi dari target yang ditetapkan (95%). Terdapat ibu hamil (92,9%) yang bersalin di tenaga kesehatan dan ternyata cakupan ini lebih rendah dari target yang ditetapkan (95 %). 5 Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan P4K di Kabupaten Jepara secara kuantitatif untuk indikator ibu hamil mendapat stiker dan ibu hamil berstiker yang mendapat pelayanan ANC sesuai standar sudah menunjukkan keberhasilan, namun untuk pencapaian indikator ibu hamil berstiker yang bersalin di tenaga kesehatan masih di bawah target. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa semua indikator capaian program P4K belum sepenuhnya tercapai. Kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara untuk meningkatkan pelaksanaan program P4K tersebut antara lain dengan pelaksanaan program Kelas Ibu Hamil sebagai penunjang pelaksanaan P4K, dengan upaya mengumpulkan ibu hamil setiap bulan untuk diberi penjelasan 0leh bidan desa tentang manfaat P4K dan membahas buku KIA sekaligus melakukan pemeriksaan kehamilan. Selain itu DKK Jepara secara intensif juga telah mengadakan pelatihan-pelatihan untuk bidan desa dan upaya pengembangan Desa Siaga. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Maret 2012 terhadap 8 orang bidan desa diperoleh informasi bahwa belum semua stiker ditulis oleh bidan desa dan tidak semua kolom stiker tersebut diisi secara benar. Yang paling sering tidak diisi / dituliskan dalam stiker terutama adalah kolom calon pendonor darah, dengan alasan karena pasien tidak mengetahui golongan darahnya. Dari hasil wawancara ada 6 orang bidan yang menyatakan tidak pernah menempelkan sendiri stiker di rumah ibu hamil secara langsung, tetapi hanya memberikan stiker tersebut pada ibu hamil saat periksa hamil untuk ditempelkan di rumah masing-masing. Sedangkan 2 orang bidan lainnya menyatakan hanya memasang stiker di rumah ibu hamil yang jarak rumahnya dekat dengan rumah bidan dan atau dekat dengan Posyandu. Untuk ibu hamil yang rumahnya jauh, stiker diberikan kepada pasien / ibu hamil untuk ditempel sendiri di rumah. Sesuai dengan ketentuan Standart Operating Procedure (SOP) P4K, seharusnya stiker diisi / ditulis serta ditempel sendiri oleh bidan dan bidan juga harus selalu memantau stiker tersebut sesuai kebutuhan dan datadata perubahan yang mungkin terjadi pada ibu hamil terkait rencana persalinannya. Bidan diharapkan mengisi semua kolomkolom yang ada pada stiker P4K yang berisi lokasi tempat tinggal ibu, identitas ibu, taksiran persalinan, penolong persalinan, pendamping dan fasilitas persalinan. Khusus untuk pengisian kolom data penolong persalinan, pendamping dan fasilitas persalinan, bidan harus melakukan kesepakatan terlebih dahulu dengan ibu dan atau keluarga. Hal tersebut bertujuan agar persalinan dapat terencana dengan baik, sehingga kemungkinan komplikasi dan kasus resiko dalam kehamilan serta persalinan dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Pada kenyataannya, hasil survey juga menunjukkan dari 8 bidan yang diwawancarai, diperoleh informasi bahwa untuk menuliskan pada kolom data penolong, pendamping dan fasilitas tempat bersalinan, hanya 5 orang bidan yang benar-benar 49 menanyakan hasil kesepakatan ibu dan keluarga, sedangkan yang 3 orang bidan lainnya hanya mengisi dan menuliskan tanpa menanyakan pada ibu ataupun keluarga. Hasil wawancara dengan bidan desa tersebut diatas didapatkan informasi bahwa kolom data calon pendonor darah tidak diisi oleh bidan desa dengan alasan karena ibu dan keluarga tidak mengetahui golongan darahnya sehingga sulit bagi ibu dan keluarga untuk menentukan calon-calon pendonor darah. Menurut bidan, sebenarnya bidan sudah berupaya dengan menganjurkan ibu datang ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan golongan darah, namun belum semua ibu hamil bersedia melakukannya dengan alasan malas ke Puskesmas ataupun ketiadaan biaya pemeriksaan maupun biaya transportasi. Hasil wawancara diketahui sebanyak 5 orang bidan desa tidak pernah mendiskusikan rencana pemakaian alat KB pasca persalinan. Hanya 3 orang bidan saja yang menanyakan tentang perencanaan pemakaian metode kontrasepsi pada setiap ibu hamil. Selanjutnya berdasarkan hasil wawancara pada 8 orang ibu hamil sebagai cross-check, diketahui bahwa sebanyak 2 orang ibu menyatakan stiker ditempel oleh bidan di rumahnya, namun 1 (satu) ibu hamil yang rumahnya sudah dipasang stiker oleh bidan, ternyata melepas kembali stiker tersebut dengan alasan malu karena anaknya banyak dan malu kepada tetangga karena sedang hamil. Sedangkan 6 ibu hamil lainnya menyatakan bahwa stiker diberikan bidan desa saat melakukan pemeriksaan kehamilan dan stiker tersebut tidak dipasang di rumah dengan alasan malu apabila tetangga tahu bahwa dirinya sedang hamil. Dari wawancara dengan ibu hamil tersebut, semuanya tidak mengetahui golongan darahnya. Hanya sebagian dari ibu hamil yang menyatakan diminta bidan untuk periksa golongan darah ke Puskesmas tetapi hampir semua ibu dan keluarga tidak melakukan dengan alasan malas untuk periksa dan merasa repot bila harus ke puskesmas. Sebanyak 3 orang, menyatakan tidak ditanya oleh bidan tentang rencana penolong persalinan, pendamping persalinan, tempat persalinan dan rencana transportasi yang akan dipakai ke fasilitas kesehatan pada saat persalinan atau apabila terjadi kegawatdaruratan. Sebagian besar ibu (5 orang) juga menyatakan tidak ditanya oleh bidan tentang rencana metode kontrasepsi yang akan dipakai setelah persalinan. Berdasarkan berbagai gambaran di atas, diketahui bahwa keberhasilan program pelayanan kesehatan sangat tergantung dari berbagai komponen. Dalam konsep sistem, komponen tersebut antara lain meliputi aspek masukan (input), proses (process) dan keluaran (output). Aspek masukan terdiri dari SDM, dana, sarana, metode, alat, pasar. Aspek proses meliputi berbagai kegiatan yang dimulai dari perencanaan sampai evaluasi, sedangkan aspek keluaran merupakan hasil yang diperoleh. 6 METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional dengan metode kualitatif, pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan desa yang ada di Kabupaten Jepara, sejumlah 223 bidan desa. Subyek penelitian yang menjadi informan utama ditentukan dengan menggunakan kriteria Puskesmas yang mempunyai kasus kematian ibu tinggi di Kabupaten Jepara tahun 2011 dan mewakili kondisi geografis yang terbagi atas area perkotaan dan area pedesaan, sehingga terpilih 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Jepara (5 kasus kematian) dan Puskesmas Tahunan yang mewakili area perkotaan serta Puskesmas Donorojo dan Puskesmas Mayong II yang mewakili area pedesaan. Sedangkan sebagai informan triangulasi adalah Bidan Koordinator dari setiap Puskesmas (4 orang), Kasie Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara (1 orang) dan ibu hamil sebanyak 8 orang dan kader kesehatan sebanyak 8 orang dari 8 desa yang terpilih. 50 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Informan Penelitian Tabel 1. Karakteristik Informan Utama (Bidan Desa) UMUR PENDIDIKAN MASA PEKERJAAN BIDAN KERJA 1 IU 1 26 tahun D3 Kebidanan 4 tahun Bidan Desa 2 IU 2 36 tahun D3 Kebidanan 15 tahun Bidan Desa 3 IU 3 33 tahun D3 Kebidanan 10 tahun Bidan Desa 4 IU 4 36 tahun D3 Kebidanan 13 tahun Bidan Desa 5 IU 5 35 tahun D3 Kebidanan 12 tahun Bidan Desa 6 IU 6 25 tahun D3 Kebidanan 3 tahun Bidan Desa 7 IU 7 33 tahun D3 Kebidanan 9 tahun Bidan Desa 8 IU 8 32 tahun D3 Kebidanan 7 tahun Bidan Desa Umur bidan desa yang menjadi informan utama berada pada kisaran tahun, dengan pendidikan D3 Kebidanan. Masa kerja aktif sebagai bidan desa bervariasi dengan rata-rata 9 tahun dengan kisaran terpendek 3 tahun dan masa kerja terlama 15 tahun. Berdasarkan karakteristik di atas, diketahui bahwa semua bidan dianggap sudah mempunyai pengalaman yang mencukupi dalam memberikan pelayanan KIA, dilihat berdasarkan umur, pendidikan dan masa kerja yang dimilikinya. Tabel 2. Karakteristik Informan Triangulasi (Kader Kesehatan) UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN MASA KERJA 1 IT-K1 36 tahun SMP Buruh tani 7 tahun 2 IT-K2 31 tahun SMA IRT 5 tahun 3 IT-K3 28 tahun SMA Swasta 1 tahun 4 IT-K4 46 tahun SD Buruh tani 9 tahun 5 IT-K5 49 tahun SMP Swasta 9 tahun 6 IT-K6 40 tahun SMP IRT 2 tahun 7 IT-K7 46 tahun SMP Buruh tani 4 tahin 8 IT-K8 30 tahun SMA IRT 5 tahun Informan triangulasi kader kesehatan berumur sekitar tahun, semuanya berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar kader kesehatan berpendidikan menengah (SMP dan SMA), meskipun ada yang lulus SD. Pekerjaan kader bervariasi, tetapi terbanyak adalah buruh tani/buruh swasta diikuti dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Dilihat dari masa kerja / tugas sebagai kader cukup lama, rata-rata 5 tahun, paling lama menjadi kader 9 tahun. Tabel 3. Karakteristik Informan Triangulasi (Ibu Hamil) UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN UMUR KEHAMILAN 1 IT-B1 19 tahun SMP IRT 6 bulan 2 IT-B2 27 tahun SMP Swasta 8 bulan 3 IT-B3 30 tahun SMP IRT 3 bulan 4 IT-B4 26 tahun SMA Swasta 8 bulan 5 IT-B5 23 tahun SMA IRT 5 bulan 6 IT-B6 22 tahun SMP Swasta 9 bulan 51 Lanjutan Tabel 3. UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN UMUR KEHAMILAN 7 IT-B7 32 tahun SMP Swasta 6 bulan 8 IT-B8 28 tahun SMA IRT 7 bulan Informan ibu hamil berumur tahun dengan pendidikan SMP dan SMA. Rata-rata pekerjaan mereka adalah ibu rumah tangga dan swasta (buruh pabrik/karyawan). Umur kehamilan ibu berkisar antara 3 9 bulan. Tabel 4. Karakteristik Informan Triangulasi (Bidan Koordinator) UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN MASA KERJA 1 IT-Bikor1 42 tahun D3 Kebidanan Bikor 15 tahun 2 IT-Bikor2 40 tahun D3 Kebidanan Bikor 12 tahun 3 IT-Bikor3 42 tahun D4 Kebidanan Bikor 13 tahun 4 IT-Bikor4 53 tahun D3 Kebidanan Bikor 28 tahun Berdasarkan karakteristik Bidan Koordinator diketahui bahwa umur Bikor termuda 40 tahun dan tertua 53 tahun dengan sebagian besar telah berpendidikan D3 Kebidanan. Masa kerja sebagai bidan cukup bervariasi, dari tersingkat 12 tahun dan terlama 28 tahun. SIMPULAN Di simpulkan bahwa ditinjau dari aspek input, diketahui bahwa secara umum pengetahuan dan sikap bidan sudah baik terkait program P4K. Dari segi kualitas dan kuantitas tenaga sudah baik, meskipun diakui bahwa pelatihan khusus tentang P4K tidak ada, kecuali berupa refreshing dan penguatan saja. Ditinjau dari aspek dana, selama ini tidak tersedia dana khusus untuk program P4K, untuk dana khusus dari P4K tidak ada. Sarana prasarana yang tersedia dalam program P4K adalah buku KIA dan stiker P4K yang harus diisi oleh bidan desa dan ditempelkan di depan rumah ibu hamil. Stiker dan buku KIA sudah tersedia dan mencukupi kebutuhan, sementara untuk sarana prasarana pemeriksaan dan pelayanan kehamilan, bidan desa memiliki bidan kit, meski diakui oleh bidan ada beberapa alat yang belum ada dan kadang kalaupun ada, kondisinya kurang baik, seperti alat untuk periksa HB dan protein urin, Sebagian besar bidan juga tidak memiliki sarana untuk pemeriksaan golongan darah. Berdasarkan SOP diketahui bahwa sebagian besar bidan merasa bahwa SOP khusus P4K tidak tersedia dan kurang jelas karena selama ini indikator yang dipahami bidan desa hanyalah bahwa stiker harus terpasang di setiap rumah ibu hamil yang ada di wilayahnya. Yang tersedia selama ini hanyalah SOP untuk penapisan awal dan SOP untuk penatalaksanaan ibu hamil resiko tinggi. Berdasarkan aspek proses diketahui bahwa sebagian besar bidan desa sudah melakukan perencanaan persalinan terkait program P4K dengan baik. Bidan desa juga sudah melakukan koordinasi dan komunikasi dengan baik melalui sosialisasi dan pertemuan-pertemuan rutin yang diselenggarakan di desanya masing-masing terkait program P4K. Namun demikian, memang masih ada kendala terkait kurangnya keterlibatan pihak-pihak terkait dalam mencapai keberhasilan program P4K, khususnya dari masyarakat dan perangkat desa, karena adanya anggapan bahwa masalah kesehatan ibu hamil merupakan tanggung jawab dan wewenang tenaga kesehatan, khususnya bidan desa. Fungsi pemantauan dan pengawasan juga sudah dilaksanakan oleh bidan desa dengan baik (termasuk penempelan stiker P4K dan pemantauan dan penjaringan deteksi ibu 52 hamil beresiko serta melalui kunjungan rumah). Ditinjau dari aspek output program P4K, sebagian besar bidan sudah berhasil mencapai target kinerja program P4K, khususnya pada pembagian stiker dan penempelan stiker di depan rumah ibu hamil. Selain itu target pencapaian kinerja pel
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks