\' KONDISI EKONOMI GLOBAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEREKONOMIAN INDONESIA KONDISI EKONOMI MAKRO GLOBAL

Please download to get full document.

View again

of 8
33 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
Oleh: Dr. Rina Oktaviani 0) \' KONDISI EKONOMI GLOBAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEREKONOMIAN INDONESIA Semakin terbukanya ekonomi negaranegara di dunia menyebabkan perubahanperubahan yang terjadi
Document Share
Document Transcript
Oleh: Dr. Rina Oktaviani 0) \' KONDISI EKONOMI GLOBAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEREKONOMIAN INDONESIA Semakin terbukanya ekonomi negaranegara di dunia menyebabkan perubahanperubahan yang terjadi di suatu kawasan regional maupun global akan mempengaruhi keragaan ekonomi domestik negara-negara tersebut. Hal ini didukung oleh semakin lancar dan efisiennya fasilitas transportasi dan informasi yang memperlancar hubungan antar Negara. Dengan demikian, perubahan perekono-mian di suatu kawasan dapat dengan mudah mempengaruhi perubahan kondisi ekonomi suatunegara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara lang sung melalui perubahan posi-si neraca perdagangan dan keuangan karena aliran barang, jasa dan uang. Secara tidak langsung melalui perubahan permintaan dan penawaran suatu barang, jasa, dan uang yang akan mempengaruhi faktor-faktor produksi, konsumsi dan kelembagaan. Perundingan dan kesepakatan perdagangan menuju perdagangan bebas antara negaranegara di beberapa kawasan sudah dilakukan untuk mempercepat aliran barang dan jasa antar negara tersebut. Kesepakatan terse but bisa kesepakatan bilateral seperti antara Singapura dan Jepang, multilateral di suatu kawasan tertentu seperti AFTA untuk negara-negara ASEAN dan NAFTA untuk negara-negara di Amerika, maupun kesepakatan yang diikuti oleh hampir semua negara di, dunia seperti WTO. Kesepakatan perdagangan bebas tersebut antara lain dilakukan dengan menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan baik hambatan tarif maupun bukan tarif. Tentu saja kesepakatan ini akan mempengaruhi perekonomian dunia dan negara secara individu. Perkembangan ekonomi kawasan dan global bukan merupakan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi suatu negara. Faktor lain yang juga berpengaruh dan mempunyai peranan penting adalah faktor politik, sosial, kemanan dan faktor-faktor non ekonomi lainnya. Faktor-faktor tersebut pada akhimya akan mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh suatu negara untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan negara tersebut. Beberapa peristiwa non ekonomi yang telah terjadi pada awal dan pertengahan tahun 2003 dan memberikan pengaruh terhadap perekonomian suatu kawasan bahkan perekonomian dunia adalah berjangkitnya SARS dan perang Iraq. Dampak berjangkitnya SARS yang melanda kawasan Asia, sempat mempengaruhi perekonomian dunia karena wabah tersebut melanda negara-negara pusat perdagangan Asia seperti Singapura, Hongkong, Taiwan dan China. Demikian pula dengan invasi Amerika Serikat ke Iraq yang sangat berpengaruh terhadap stok minyak dunia sehingga mempengaruhi harga minyak dunia. Makalah ini mencoba menelaah kondisi makroekonomi global dan implikasinya bagi perekonomian Indonesia. Tentu saj a kebijakan yang akan diambil Indonesia hams juga sesuai dengan kerangka kesepakatan intemasional yang telah disetujui Indonesia seperti ASEAN dan WTO. Bahasan dimulai dengan menganalisis kondisi ekonomi,makro negara-negara maju dan berkembang dan country risk ekonomi regional. KONDISI EKONOMI MAKRO GLOBAL Secara umum pertumbuhan output dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun baik di kelompok negara maju, berkembang dan transisi (Tabel 1). Diantara negara maju, Amerika Serikat diperkirakan mengalami laju pertumbuhan output yang lebih tinggi 'pada tahun Sementara itu di kelompok negara berkembang, laju pertumbuhan output negara Cina adalah yang tertinggi. Pemulihan ekonomi setelah dampak wabah SARS cepat ditanggulangi sehingga diperkirakan dapat mempertahankan pertumbuhan output pada tahun Pertumbuhan ouput yang lebih tinggi di negara berkembangan temyata masih diikuti dengan pertumbuhan tingkat inflasi yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tingkat daya beli masyarakat di negara berkembang tidak meningkat dengan cepat. Semakin terbukanya ekonomi negaranegara maju maupun berkembang dapat dilihat dari laju pertumbuhan volume perdagangan dunia. Tabel ') Ketua Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya IPB dan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB..t.6BnIEVIA Volume 9, No, 1 - Maret 1 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan VOIUme\L ekspor dan impor kelompok negara maju, internasioanal, ekspor bersih yang negatif berkembang dan transisi semakin meningkat dari menunjukkan bahwa tingkat konsumsi negara tahun ke tahun. Laju pertumbuahan ekspor negara berkembang lebih besar dari tingkat produksi yang maju lebih tinggi dibandingkan dengan laju dapat dihasilkan negara tersebut dan mempunyai pertumbuhan impor sehingga ekspor bersih negara dampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat maju bemilai positif. Akan tetapi, ekspor bersih negara tersebut. Akan tetapi, ketergantungan yang negara berkembang bemilai negatif dan semakin semakin tinggi terhadap komoditas impor terutama besar. Dengan demikian dapat dilihat bahwa untuk komoditas strategis suatu negara akan ketergantungan negara berkembang terhadap impor mempengaruhi stabilitas ekonomi negara tersebut. semakin tinggi. Dari sisi teori perdagangan Tabel 1. Kondisi Umum Kelompok-kelompok Negara di Dunia (perubahan persentase) Item World Output (% change) Advanced Economies United States Euro Area Jepang Developing Countries Afrika China India ASEAN Countries in transition Rusia World Trade Volume Imports Advanced Economies Developing Countries Countries in transition Export Advanced Economies Developing Countries ,3 6.9 Countries in transition Commodity Prices (US $) Oil* -14.0, Nonfuel Consumer Prices Advanced Economies Developing Countries Countries in transition Six-month London interbank offered rate (LIB OR, percent) On US $ deposits On euro deposits On Japanesse yen deposits Sumber: Ket: * Simple average of spot prices of UK Brent, Dubai & West Texas Intermediate crude oil,f6r1ma'dia Volume 9, No.1 - Maret Tabel 1 juga memmjukkan bahwa barga minyak \' kembali ke posisi semula setelah invasi Amerika dengan negara-negara maju lainnya seperti Serikat dan sekutunya ke Irak. Negara-negara Australia dan Jepang yang segera mulai bangkit penghasil minyak merespon lagi perekonomiannya. dengan cepat kelangkaan Bahkan prediksi IMF HARGA MINYAK KEMBALI KE POSISI minyak bumi dunia memperkirakan pada SEMUlA SETElAH INVASI AMERIKA sehingga harga minyak tahun 2004, Amerika SERIKAT DAN SEKUTUNYA KE IRAK. diperkirakan kembali turun Serikat akan tumbuh NEGARA-NEGARA PENGHASll pada tahun Kembali sebesar 3,9 persen, MINYAK MERESPON DENGAN CEPAT stabilnya harga minyak Australia tumbuh 3,5 KElANGKAAN MINYAK BUMI DUNIA akan berdampak pada persen dan J epang SEHINGGA HARGA MINYAK kembali stabilnya kondisi tumbuh sebesar 1,4 DIPERKIRAKAN KEMBALI TURUN ekonomi dunia karena persen. PADA TAHUN KEMBALI beberapa negara Negara-negara di STABllNYA HARGA MINYAK AKAN mempunyai ketergantungan Eropa juga mengalami BERDAMPAK PADA KEMBALI yang besar pada komoditas pertumbuhan ekonomi STABllNYA KONDISI EKONOMI minyak bumi, baik sebagai yang semakin meningkat. DUNIA KARENA BEBERAPA NEGARA negara pengekspor maupun Apresiasi nilai tukar Euro MEMPUNYAI KETERGANTUNGAN negara pengimpor. terhadap mata uang YANG BESAR PADA KOMODITAS Mata uang Euro Amerika Serikat tumt MINYAK BUMI, BAlK SEBAGAI semakin kuat pada tahuntahun terakhir dan ekonomi di Eropa. Hal ini memacu pertumbuhan NEGARA PENGEKSPOR MAUPUN diprediksikan semakin NEGARA PENGIMPOR. meningkatkan permintaan menguat. Deposito mata domestik tidak hanya pada uang Euro selama enam bulan meningkat dengan barang-barang konsumsi, tetapi juga barang-barang laju dibawab Dollar Amerika. Adanya mata uang investasi dan barang an tara yang akan Euro ternyata mempengaruhi permintaan uang meningkatkan daya saing industri di Eropa. Angka Dollar Amerika sehingga untuk meningkatkan daya pertumbuhan China, Hongkong dan Singapura pada tarik menyimpan uang dalam mata uang Dollar tahun 2003 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya Amerika, tingkat sukubunga depositonya dinaikkan. sebagai akibat dari munculnya wabah SARS di awal Tentu saja ini akan mempengaruhi pengeluaran tahun yang berasal dari negara tersebut. Dampak investasi dalam Dollar Amerika. dari wabab tersebut secara langsung mempengaruhi Kondisi umum perekonomian dunia perekonomian ketiga Negara tersebut dari sisi berdasarkan beberapa variable ekonomi makro pariwisata dan penjualan retail. Negara Singapura pada tahun dan prediksi tahun 2004 dan Hong Kong terkena imbasnya karena kedua dapat dilihat pada Tabel 2. Dari tabel terse but negara merupakan negara transit dan sangat rentan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang terhadap masuknya wabab penyakit. Menjangkitnya cukup nyata diantara negara-negara maju dan wabah penyakit tersebut juga berdampak pada negara berkembang. Negara maju seperti Amerika ditundanya investasi asing di Negara tersebut. dengan cepat meningkat perekonomiannya dengan Namun pertengahan tahun 2003 pertumbuhannya tingkat pertumbuhan yang semakin tinggi setelah menunjukkan peningkatan dan diprediksi pada tahun mengalami kelesuan ekonomi karena peristiwa 2004 akan menguat. Hal ini lebih dipicu oleh adanya hancurnya WTC pada tahun 2001 jika dilihat dari recovery global dan perbaikan di sektor IT pertumbuhan GOP riil per tahunnya. Demikianjuga (information technology). A.6RIMEDLt Volume 9, No.1 - Maret \' Tabel 2. Data Ekonomi Makro, perbandingan internasional (perubaban persentase) GDP Riil (%) Amerika United States Canada Argentina Brazil Chile Colombia Ecuador Mexico Peru Venezuela Asia Japan Australia New Zealand Hong Kong Singapore China India Indonesia Korea Malaysia Philippines Taiwan Thailand Eropa Germany France United Kingdom Netherlands Russia CPI(%) Current Account Balances (% ofgdp) Sumber: IMF Home Page: org/extemal/ Stimulus fiskal yang digunakan' oleh beberapa negani untuk mengantisipasi dampak SARS adalah meningkatkan hutang publik atau memperbaiki kelemahan sektor perbankan dan restrukturisasi perusahaan. Misalnya saja China, Indonesia, Philipina dan Thailand, melakukan renegosiasi pembayaran hutang, dan negara India,.Korea, Philipina dan Thailand, memperketat penggunaan pinjaman dan restrukturisasi perusahaan. Korea melakukan perubahan pada pt rusahaan pemerintah, termasuk juga melakukan akunting dan audit. Sementara ito, negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN, pertumbuhan GDP Riil-nya pada tahun 2003 ratarata mengalami penurunan pula dibanding tahun sebelumnya. Hanya Malaysia yang terus menunjukkan peningkatan. Kebijakan-kebijakan ekonomi Malaysia terutama setelah krisis ekonomi sete1ah tahun 1997 dan kestabilan politik Malaysia apalagi setelah suksesi Perdana Menteri mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Malaysia yang lebih pesat dari negara ASEAN lainnya seperti Indonesia dan Filipina yang mengalami gejolak politik setelah krisis ekonomi. Selain variable ekonomi GDP riil, keadaan ekonomi regional juga dapat dilihat dari indeks harga konsumen (CPI). Tabellapat dilihat pada Tabell pengeluaran investasi dalam Dollar Amerika.ehingga untuk meningkatkan daya tarik menyimpan uang menunjukkan bahwa pertumbuhan indeks harga di negara-negara maju relatif lebih rendah dan relatif stabil dibandingkan di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Pada beberapa negara, justo pertumbuhan indek harga konsumen cenderung menurun bahkan A.6IUMEDIA Volume 9, No.1 - Maret negatif seperti di Jepang. Hal ini menunjukkan laju\l inflasi yang rendah atau bahkan negatif., Dengan pertumbuhan GDP riil yang semakin meningkat, hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat semakin tinggi. Hal ini sebenarnya merupakan potensi pasar bagi negara-negara berkembang untuk dapat memanfaatkan peluang ini untuk dapat memasarkan produk-produknya yang memiliki dayasaing yang tinggi. berlebihan juga akan menimbulkan masalah seperti sulitnya dunia usaha memprediksi biaya produksinya, kesulitan menentukan harga terutama di pasar internasional, dan besarnya resiko yang harus ditanggung oleh konsumen dan produsen karena perbedaan nilai tukar. Disamping itu, akan banyak orang yang tidak bekerja pada sektor riil tapi menggunakan uangnya untuk berputar di pasar Pertumbuhan persentase neraca valuta asing. Indonesia adalah negara yang pembayaran terhadap GDP untuk negara-negara maju lebih tinggi dibandingkan dengan negaranegara berkembang.. Hal ini menunjukkan peran perdagangan terhadap pertumbuhan GDP lebih tinggi di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang. Kontribusi konsumsi domestik terhadap pertumbuhan GDP lebih besar di negara berkembang. mempunyai nilai tukar terhadap dolar Amerika yang paling berfluktuasi dan paling lemah (lmf 18 Desember 2003, pubs). Hal ini dapat menstimulus perkembangan ekspor Indonesia karena keuntungan dari nilai tukar yang lemah. Akan tetapi, fluktuasi yang besar juga menimbulkan kerugian karena akan meningkatkan resiko ketidakpastian dalam produksi dan konsumsi. Hampir semua negara di Asia, kecuali Hong Kong menggantungkan pertumbuhan ekonominya dari permintaan domestik. Walaupun relatiflebih kecil kontribusinya dibandingkan dengan Apabila dilihat dari rasio cadangan bank di wilayah Asia Pasifik, maka selama periode , India memiliki cadangan yang tertinggi hingga kontribusi konsumsi domestik terhadap mencapai 12 US$ sedangkan China sebagai negara pertumbuhan GDP, beberapa negara seperti Singapura, Indonesia dan Korea, kontribusi net eksj or terhadap pertumbuhan GDP cukup tinggi. Momentum depresiasi nilai tukar domestik pada wakti krisis ekonomi tahun 1997 selayaknya terus besar hanya memiliki cadangan sebesar 11 US$. Adapun cadangan yang dimiliki Indonesia masih lebih baik dibandingkan Malaysia, Philipina dan Thailand. (IMF 18 Desember 2003, dipertahankan unutk meningkatkan daya saing produk domestik di pasar internasional. (IMF 18 Desember 2003, pubs). Ketergantungan yang tinggi terhadap pertumbuhan dari sisi permintaan domestik sebenarnya kurang menguntungkan karena efek penggandanya relatif kecil. Pertumbuhan yang didorong dari sisi investasi lebih baik pengaruhnya dibandingkan dengan dari sisi konsumsi karena efek penggandanya yang besar. Tingginya resiko di negara-negara Asia terutama di Indonesia, ditambah lagi dengan wabah penyakit SARS menyebabkan investor menunda investasinya. Semenjak krisis ekonomi tahun 1997, Negara-negara di Asia semakin membiarkan nilai tukar negaranya untuk bergerak bebas secara fleksibel sesuai dengan keseimbangan pasar nilai tukar dunia. Fleksibilitas dari nilai tukar dapat menguntungkan suatu Negara karen a akan menurunkan resiko untuk terjadinya krisis ekonomi yang akan dating, mengurangi biaya untuk menahan dari cadangan mata uang asing, meningkatkan permintaan domestic pada saat nilai tukar lebih rendah. Akan tetapi, fleksibilitas nilai tukar yang akan menyebabkan fluktuasi nilai tukar yang TINGKAT RESIKO DAN DAYA SAING INDONESIA DAN NEGARA-NEGARA DI ASIA Besarnya tingkat resiko suatu negara (country risk) dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dan dari luar negara yang bersangkutan. F aktor dari dalam (domestik) adalah faktor yang ekonomi yang besarannya banyak dipengaruhi oleh kemampuan negara tersebut dalam membangun perekonomiannya. Besarnya country risk yang berasal dari dalam negara tersebut diduga dipengaruhi oleh GDP Riil, pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan public sektor balance. Sedangkan country risk yang berasal dari luar perekonomian domestik suatu negara adalah besaran yang tergantung dengan hubung~n dan posisi negara tersebut dengan negara lainnya. Besaran ekonomi terse but adalah nilai tukar, persentase hutang luar negeri terhadap GDP, dan persentase hutang luar negeri terhadap nilai ekspor. Selain peubah-peubah ekonomi tersebut, terdapat beberapa faktor non ekonomiyang mempengaruhi country risk suatu negara, antara lain tingkat keamanan, kepastian hukum dan budaya masyarakat. Namun dalam bahasan ini, faktor non ekonomi tidak dibahas lebih lanjut. A6BIMEDLf. Volume 9, No.1 - Maret Tabel 3 ~enunjukkan beberapa Variable\L ~--- ekonomi yang mempengaruhi country risk negara-negara ASEAN dan beberapa negara Asia lainnya. Dari table tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki kecenderungan tingkat resiko yang tinggi dan cenderung meningkat dibandingkan dengan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dan beberapa negara Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari pertumbuhan GDP riil yang lebih rendah, tingkat inflasi yang lebih tinggi, tingkat hutang jasa dibandingkan ekspor yang lebih tinggi dan tingkat hutang dibandingkan dengan nilai GDP yang lebih tinggi dibandingkan dengan negaranegara Asia lainnya. Diantara sesajila negara di Asia, tingkat pertumbuhan GDP Riil China adalah yang tertinggi yang mencapai angka 8 persen pada tahun Negara lainnya di Asia rata-rata memiliki tingkat GDP Riil kurang dari tujuh persen. Pertumbuhan GDP Riil Singapura pada tahun 2003 adalah yang terendah, hanya mencapai 0,5 persen. Turunnya pertumbuhan GDP Riil Singapura pada tahun tersebut dipicu oleh wabah SARS yang melanda kawasan Asia sehingga meningkatkan tingkat country risk di Singapura yang tergntung pad a sektor jasa. Walaupun demikian, Singapura diprediksikan mempunyai pertumbuhan GDP riil yang cukup tinggi pada tahun Wabah SARS dengan penanganan yang baik dan efisien di Singapura diprediksikan mempu meningkatkan kembali GDP riil Singapura. Faktor domestik lain yang mempengaruhi resiko adalah tingkat inflasi. Secara umum hingga tahun 2003, tingkat inflasi negara-negara di Asia masih dibawah satu digit. Tingkat inflasi tertinggi dialami Indonesia yang mepcapai 7,3. persen. Seiring dengan adanya perbaikan ekonomi, diperkirakan pada tahun 2004 tingkat inflasi Indonesia ~ menjadi 6,5 persen. Tingkat inflasi terendah dialami China yang mencapai titik 0,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian negara-negara Asia hingga tahun ke depan relatif stabil. Pertumbuhan tingkat inflasi yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pendapatan riil menunjukkan daya beli yang semakin tinggi. Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia sebagai negara tujuan ekspor. Kemampuan Indonesia untuk meningkatkan daya saing sangat diharapkan untuk dapat memanfaatkan pasar potensial di negaranegara Asia terutama yang berpenduduk banyak seperti Cina dan India. Faktor ekonomi makro yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi di luar suatu negara dapat ditunjukkan oleh variable neraca perdagangan, persentase hutang luar negeri terhadap GDP, dan perseritase hutang luar negeri terhadap nilai ekspor. Tabel 4 juga menunjukkan bahwa neraca perdagangan negara-negara di Asia umumnya positif, kecuali Filipina yang bernilai negatif walaupun diperkirakan positif pada tahun Neraca perdagangan yang tertinggi adalah Cina. Peningkatan ekspor Cina ke negara-negara Asia terutama Jepang menunjukkan perkembangan yang pesat. Pangsa ekspor Cina di Jepang meningkat secara signifikan dari 8.1 % pada tahun 1992 menjadi 18.2 % pada tahun 2002 (Pangestu, 2003). Ekspor Cina kebanyakan adalah barangbarang yang mempunyai nilai tam bah yang tinggi. Barang ekspor Cina selain yang intensif tenaga kerja juga sudah mulai kepada barang-barang yan intensif modal dan teknologi. Krisis ekonomi yang melanda negaranegara Asia masih menyisakan tingakt hutang yang tinggi di beberapa negara Asia, terutama Indonesia. Pada tahun 2003, rasio hutang Indonesia terhadap nilai ekspor adalah yang tertinggi diantara negaranegara sekawasan. Bahkan diprediksi pada tahun 2004 terus meningkat. Demikian pula dengan rasio hutang luar negeri terhadap GDP Indonesia adalah yang tertinggi mencapai 60,9 persen pada tahun Tingkat ketergantungan hutang yang cukup masih tinggi di negara Indonesia dapat membahayakan kestabilan ekonomi maupun faktorfaktor lainnya di luar ekonomi. Dengan tingkat country risk yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara..:negara lain di Asia, Indonesia yang mempunyai keunggulan komparatif pada beberapa komoditas terutama komoditas pertanian ternyata mempunyai tingkat daya saing yang lemah (Tabel 3). Berdasarkan laporan dari IMD World Competitiveness Yearbook 2003, daya saing Indonesia di pasar dunia dari tahun 1999 hingga tahun 2003 tidak mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2003 a
Search Related
Previous Slide

Konstipasi

Next Slide

BAB 1

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks