Gaya Kepemimpinan, Kohesivitas Kelompok, Dan Komitmen Pada Partai Politik. Yos Budiharto Koentjoro Universitas Gadjah Mada

Please download to get full document.

View again

of 11
12 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
Gaya Kepemimpinan, Kohesivitas Kelompok, Dan Komitmen Pada Partai Politik Yos Budiharto Koentjoro Universitas Gadjah Mada Abstract Organizational commitment has been conceptualised and measured In various
Document Share
Document Transcript
Gaya Kepemimpinan, Kohesivitas Kelompok, Dan Komitmen Pada Partai Politik Yos Budiharto Koentjoro Universitas Gadjah Mada Abstract Organizational commitment has been conceptualised and measured In various ways. The current study was conducted to test aspects or three component model of organizational commitment which integrates the various concepts. The three component of organizational commitment in this study are affective, continuance and normative commitment. The proposed independent variables are transformational leadership, transactional leadership and group cohesiveness which were assumed to have significant relationship with organizational commitment. The data of this study were collected through questionnaires carried out to 120 cadres who were active in one political party, considered as nationalist - and secular party, in Yogyakarta. The study revealed that the three independent variables are empirically undifferentiated to the three components model of organizational commitment Specifically, this study found that transformational leadership, transactional leadership, group cohesiveness, age and length of cadre membership are positively and significantly related to continuance commitment. When tested individually, it shows that age does not have positive relationship with the three component model of commitment. Key Words : Leadership Styles, Group Cohesiveness Commitment Pendahuluan Dinamika keberadaan partai politik di In donesia diramaikan oleh banyaknya anggota kader partai a tau pengurus dari partai politik yang keluar masuk dari satu partai politik ke partai politik yang lainnnya atau bahkan keluar dari partai politik tertentu untuk kemudian mendirikan partai politik baru lagi. Berbagal kasus yang menyangkut hal tersebut di atas banyak dimuat dalam media massa. Sebagai contoh, beberapa kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan seperti Dimyati Hartono, Eros Djarot dan Giri Mulyooo keluar dari partai politik, kemudian mendirikan partal politik baru. Berbagai atasan telah dilontarkan sebagai alasan keluamya mereka dari partai (Anita, 2002). Permasalahan yang dialami POI Perjuangan sangat menarik untuk dikaji berdasarkan sudut pandang psikologi. Dari kilasan di alas penutis mencermati adanya tiga varlabel utama yang dapat dikaji secara psikologis. Kajian pertama berkaitan dengan komitmen terhadap organisasi, apapun bentuknya termasuk organisasi partai politik. Komitmen, menurut Hornby (1987), ialah suatu bentuk perjanjian yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan. Dari kasus berdirinya partal-partat politik baru oleh para mantan kader partai POI Perjuangan PSIKOLOGIKA Nomof 17 tahtln IX Jaruari Yos auemartc & xcenqccc dapat menandakan rendahnya komitmen terhadap partai. Namun demikian, kita tidak begitu saja menarik kesimpulan seclemikian mudahnya. Hal ini dikarenakan adanya faklorfaktor lain yang mempengaruhi tingkat komitmen anggota terhadap organisasi politiknya tersebut. Kajian kedua, berkaitan dengan kohesivitas kelompok da1am partai. Hampir sudah menjadi rahasia umum bahwa konnik te1ah melanda tubuh POI Perjuangan. Konflik kepentingan (conflict of interest), konfl1k horizontal, dan konfllk vertikal semuanya merupakan tipe konflik antar pnbadi. Banyaknya kader yang keluar dari tubuh partai ini menunjukkan bahwa konflik tersebut telah mengeskalasi ke arah konrnk destruktif. Hal yang tidak dapat dielakkan dari suatu konfl1k adalah berkenaan dengan arahnya yang bisa merusak (destructive) atau produktif (productive). Aspek destruktif di antaranya adalah kecurigaan. muslihat, seranga fisik, dan pemutusan hubungan, sedangkan aspek produktif pada umumnya tidaklah begitu je1as (Keashly, 1997). Adanya konflik yang tenacl dalam tubuh partai ber1ambang banteng ini menunjukkan bahwa kohesivitas kelompok dalam partai sangat rendah. Johnson (2000} menyatakan bahwa dalam kelompok yang sangat linggi kohesivitasnya saling ketergantungan antara satu anggota dengan anggota yang lam saling percaya, saling mengerti dan merasa aman di dalam kelompok, sangat tinggi. Kuatnya ikatan antara masing-masing anggota merqadean kelompok mempunyai hanya satu tujuan yang sesungguhnya merupakan integrasi dari tujuan-tujuan dan nilai-nilai dari para anggota kelompok. Apabila kohesivitas kelompok pada partai POI Perjuangan tinggl, keci1 kemungkinan tereskalasinya suatu konflik menjadi destruktif yang menyebabkan seseorang mengambi1 jalan pintas keluardari partai, melupakan komitmen yang telah dlsetulur bersama dahulu. Kajian ketiga, berk.enaan dengan leadership. Seperti telah diungkapkan oleh Haris, pengamat politik dari UPI, dalam liputan yang dilakukan Ismail (2002) dalam situs tempointeraktif.com, bahwa kepemimpinan Megawati cenderung ke arah otoriter. Kepemimpinan otoriter biasanya mempertahankan wewenangnya dengan cara memerintah dan memberitahu pengikutnya apa yang harus dikerjakan tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu (DuBrin, dkk., 1996). Pada jaman organisasi yang modern seperli sekarang ini. kepemimpinan otoriter biasanya tidak akan bertahan 1ama karena mengundang ke-tidakpuasan anggota organisasi tersebut (Daft, 1999). Terlebih dalam dunia politik, dinamikanya selalu berubah. Seorang pemimpin tidak dapat menghentikan peru bahan yang terjadi d1 dalam maupun di luar organisasi yang dip,mpinnya dalam rangka unluk memenangkan persaingan. Pemimpin saat ini masih haruslah memiliki ketrampilan yang adaptif dengan perubahan-perubahan di da1am ataupun di luar organisasi yang dipimpinnya. Tannenbaum dan Schmidtda\am Daft (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin harus mengikuti keadaan lingkungan orgamsasi. Organisasi yang dapat bertahan baik dalam perubahan-perubahan yang demuaen cepat nya ini harus memilik1 permmpin yang dapat membuat perubahan mterna1 menjadi seimbang dengan perubahan di luar organisasinya. Welch, CEO dari General Electric menyatakan bahwa apabda perubahan yang terjadi di luar organisasi kita lebih cepat atau tidak dapat dlikuti kecepatan perubahan di dalam organisasi kita maka akhir dari organisasi sudah sangat dekal (Daft, 1999) Salah satu gaya kepemimpinan yang memiliki dampak substansial dan dapat memperbaharui organisasi ialah ke-pemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional memiliki kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan dalam visi, strategi dan budaya organisasi. Sementara itu kepemimpinan transaksional lebih mengacu kepada keadaan saat ini dan memaksimalkan 52 PStKOLOGIKA Nomor 17 tahi.ri IX Januart 2004 GAYA KEPEMIMPINAN. KOHESIVITAS KELOMPOK DAN KOMITMEN organisasi untuk letap efisien seperti saat ini. Pemimpin lransaksional cenderung memperlahankan kestabilan dalam organisasi daripada memperomosikan perubahan. Dalam kehidupan berpolitik kedua gaya kepemimpinan lersebutdapat saja dilerapkan dalam memimpin partai polilik namun tentunya harus dilihal kepemimpinan seperti apakah yang lebih efektif di mata pengikutnya. Kepemimpinan yang tidak efektif dan tidak berpihak pada anggota atau bawahannya tentunya akan menyebabkan mereka melupakan kormtmen terhadap tugas-tugas partainya. Permasalahan Berdasarkan latar belakang per-ma salahan di alas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Apakah persepsi anggota kader partai terhadap gaya kepemimpln transfermasional dan transaksional serta koheslvllas kelompok dalam partal berhubungan dengan komitmen mereka terhadap partai? 2. Apakah usia anggota kader dan lama menjadi anggota kader dalam partai berhubungan dengan komitmen terhadap partai? Hipotesls Berdasarkan perumusan permasalahan di atas maka hipotesis pene1itian lnl ialah : Gaya kepemimpinan transformasiona1 dan transaksiona1, kohesivitas kelompok dalam partal, lama menjadi anggota kader dalam partai, dan usia berhubungan positif dengan komitmen terhadap partai . Oasar Teori Komitmen. Secara histons, menurut Becker dan Billings (dalam Greenberg dan Baron, 1997) ada dua pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan dasar pembentukan komitmen yaitu side orientation dan goal congruence orientation. a. Side-bets orientation. Orientasi ini memiliki fokus pada persepsi terhadap kumpulan investasi yang aka hilang apabila meninggalkan organisasi tersebut. Pendapat ini menyatakan bahwa meninggalkan orpanisasi akan lebih banyak merugikan karena orang takut akan kehilangan apa yang telah diinvestasikan pada organisasinya selama ini dan juga merasakan bahwa mereka belum tentu akan memperoleh gantinya. b. Goal-congruence orientation. Orientasi in! berfokus pada sejauh mana seseorang dalam organisasi mellhat adanya kesesuaian antara tujuan pribadl dan tujuan organisasi. Pendekatan ini merefleksikan keinginan orang untuk menerima dan mencapal tujuan organtsasl. Orientasi ini juga memandang komitmen organisasi sebagai suatu hasil dari 3 faktor yaitu : (1) penerlmaan terhadap nilainilai dan tujuan organisasi, (2) keinginan untuk menolong organisasi dalam pencapalan tujuannya, dan (3) keinginan untuk menetap dalam organisasl. Steven, dkk{steers. 1985) melihat komitmen melalui dua pendekalan, yaitu : pendekatan pertukaran (exchange approach) dan pendekatan pslkologis (psychologfcaf approach). Pendekatan pertama leblh menekankan kepada apa yang diperoleh oleh karyawan darl organisasi tempat ia bekene. Semakin besar apa yang diperoleh oteh karyawan dari organisasl tempat ia bekerja, maka komitmen yang ditunjukkan oleh karyawan juga semakln besar. Pendek.atan psikologis lebih menekankan pada pandangan karyawan terhadap organisasi tempat ia bekerja. Hal inl berarti semakin positif karyawan memandang organisasinya, maka akan memberikan tingkat komitmen lebih tinggi terhadap organisasi tersebut. Meyer dan Allen (1990) mengembangkan konsep tentang komitmen yang mencerminkan pendekatan PSIKOLOGIKA Nomor 17 lahun lxjanuari Yos Budlharto & Koentjoro dari Becker (1996) ke dalam tiga tema umum, yaitu affecijve attachment, perceived cost dan obligation. Menurut pandangan yang mendasarkan pada affective attachment, komitmen organisasi dirumuskan sebagai keterikatan emosional atau afektif terhadap organisasi sedemikian rupa sehingga karyawan mengidentifikasikan diri ter1ibat dan menikmati keanggotannya di dalam organisasi. Menurut pandangan berdasarkan perceived cost, komitmen dia pandang sebagai suatu kecenderungan untuk ter1ibat secara konsisten dalam rangkaian kegiatan berdasakan pengenalan individu terhadap kerugian yang akan dipikul jika menghentikan kegiatan. Obligation, memandang k.mt sebagai suatu keyakinan yang berkaitan dengan tanggung jawab seseorang terhadap organisasinya. Berdasarkan tiga tema umum tersebut, Meyer dan Allen (1990) menyusun komitmen organisasi ke dalam tiga dimensl yang diberi komitmen afeksi (affectve commitment), komitmen menerus (continuence commitment) dan komitmen normatif (nonnative commitment). Komitmen afeksi (affective commitment) merupakan kekuatan keinginan seseorang untuk tetap meneruskan bekena bagi organisasi karena ia merasa cocok dengan organisasi tersebut dan memang ingin melakukannya. Komitmen menerus {cont;. nuance commitment) merupakan kekuatan keinginan seseorang dalam organisasi untuk terus bekerja bagi organlsasl karena ia membutuhkannya dan tidak mampu untuk melakukan hal lainnya lagi. Setelah kedua komponen tersebut diteliti, para ahli menemukan komitmen baru yaitu komitmen nonnatif. Komitmen normatif mengacu kepada perasaan akan keharusan anggota organisasi untuk menetap dalam organisasi karena adanya tekanan dari luar individu misalnya nilai sosial. T,ga model komitmen Meyer dan Allen (1990) kemudian digunakan dalam penelitian ini. Gaya kepemimpin trans:formasional dan transaksiana/. Awalnya, konsep gaya kepemimpin transfonnasional dan transaksional difomulasikan oteh Burns (1978) melalui penelitian deskriptif pada para pemimpin politik. Bass, ditahun 1985 mulai mengembangkan ide dasar gay a kepemimpin transfonnasional dan transaksional dari Burn (1978). Masih dengan pengertian yang hampir serupa, Bass memandang gaya kepemimpin transaksional sebagai pertukaran imbalan (reward) atas kepatuhan bawahan. Sementara itu, gaya kepemimpin transformaslonal dijelaskan berdasarkan dampak yang dihasilkan oleh perilaku pemimpin terhadap bawahannya: kesetiaan, rasa percaya, penghormalan terhadap pemimpin dan termotivasi untuk melakukan hal yang jauh lebih baik darlpada apa yang diharapkan. Menurut Bass (1985), pemimpin transformasional mengubah dan memotivasi bawahannya melalui cara: (1) menyadarkan bawahan betapa pentingnya hasil dari tugas yang diemban, (2) mengarahkan mereka akan betapa penlingnya untuk mendahulukan kepentingan organisasi atau kelompok daripada kepentingan pribadi, dan (3) mengaktifkan kebutuhan pada level yang lebih tinggi. Formulasi awal perilaku transformasional Bass (1985) hanya mencakup tiga perilaku yaitu : karisma, perhatian lndlvidua1 dan stimulasi intelektual. Revisi teori tersebut akhirnya menambah satu lagi perilaku transformasional yaitu motivasi inspirasional (Bass dan Avolio, 1990). Sementara itu konsep gaya kepemimpin transaksional pada awalnya mencakup dua perilaku transaksiona1 yaltu : imba1an kontingensi (contingency reward) dan manajemen pasif dengan pengecualian (pas sive management by exception). Revisi terhadap teori transaksional tersebut menambahkan dua perilaku lagl yang mencakup manajemen aktif dan kepemimpinan laissez. faire. Perilaku kepemimpinan transformasional dan transaksional secara ringkas pada tabel 1 : 54 PSIKOl.OGIKA NOlnof 17 tati,...-. IXJanuan 2004 GAYA KEPEM!MPINAN. KOHESIVlTAS KELOMPOK DAN KOMITMEN Tabel 1 Aspek kepemimpinan transformasional Aspek Perilaku kepemimpinan bansforma:sional Kar1smatik Memberi visi dan misi, menumbuhkan rasa bangga anggota, mampu memperoleh kepercayaan dan respect darl bawahan. lnspi asional Mengkomunkaslkan hara pan yang tinggi, menggunakan slrrtlol unb.jk memfokuskan usaha bawahan, menyatakan tj.jjuan pentlng secara sederhana dan mudah dlmengerti stlmufasi I ntetektual Meningkatkan kecerdasan, rasionalitas dan pemecahan masalah yang cermat dari bawahan Perhatian lndlvidual Nlemberi perhatian secara pribadi, mempertakukan setlap bawahan secara pribadl, memberlkan bimblngan dan saran. Aspek Perilaku kepemlmplnan transakslonal lmbaten Kontingensl Menukar penghargaan atas usana bawahan. menjan)kan penghargaan untuk kj'ler/a yang balk, menghargai prestasl Manajemen dengan Eksepsl ( aktit Mengamati &mencarl penyi'npangan kiner]a sesuai ab.jran & standar kj'lerja yang ditentukan, ambil tlndakan korektif. Manajemen dengan Eksepsl ( pasitl Melakukan intbrvensl ketika standar kinerja tldak tarcapat (Sumber: Bass, da/am Steers dkk., 1996:630) PSIKOLOGIKA Nomor 17 tahun txjanuari Yos Buclihano & Koentfofo Kohesivitas kelompok. Berbagai ahli telah mencoba untuk mendefinisikan kohesivitas kelompokdalam kelompok. Sears. dkk. (1995) mendefinisikan kohesivilas kelompok sebagai kekuatan positif maupun negatif yang nenyebabkan para anggota tetap tinggal di dalam kelompok. Kekompakan anggota merupakan karakteristik kelompok sebagai suatu kesatuan, dan merupakan hast\ dari tingkat ikatan masing-maslng anggota tertiadap kelompoknya. Dalam kelompok yang kohesif, daya tarik antar pribadl yang terjadi pada antar anggota mrpk kekuatan positif. Bila anggota kelompok saling menyukai satu sama tain dan dieratkan dalam ikatan persahabatan. kohesivitas kelompok tersebut akan semakin tinggi. Kesesuaian tujuan pribadi anggota dengan tujua kelompok merupakan dasar motivasi bagi para individu untuk tetap linggal dalam kelompok tersebut. Kohesivitas juga dipengaruhi oteh kekuatan negatif yang menyebabkan anggota kelompok tidak berani untuk meninggalkan kelompoknya tersebut. Anggota kelompok ter1 .adang merasa akan memperoleh suatu kerugian yang akan ditanggungnya apabila ia menlnggalkan kelompokl'lya (Sears, dkk., 1995). Beberapa keadaan yang biasanya muncul sebagai akibal kelompok yang kohesif adalah meningkatnya kemauan anggota untuk menjadi anggota dalam segala bentuk aktivitas yang dilaksanakan kelompok. Kepuasan kerja biasanya juga merupakan hasil dari kelompok yang kohesif (Johnson and Johnson, 2000). Shaw (1981) melaporkan penelitian bahwa kelompok yang kohesif menghasilkan produktivitas dan kepuasan kerja yang tebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak kohesif. Hal serupa juga dilaporkan oleh Dion {1973) bahwa di dalam kelompok yang kohesif komunikasi dapal lebih lancar, kooperatif. dan dimungkinkan adanya koreksi dan masukan yang positif. Johnson and Johnson (2000) mendefinisikan kohesivitas ketompok sebagai daya saling ketertarikan antar anggota kelompok yang menyebabkan anggota- 56 anggota kelompok tersebut berkeinginan untuk tetap tinggal dalam kelompok tersebut dan juga daya tarik antar individu dengan kelompok a tau organisasinya. Ketompok yang memiliki koheslvitas tinggi bercirikan adanya keinglnan unluk menetapkan tujuan kelompok dan keinginan untuk menapai tujuannya dengan balk. Keinginan untuk saling mempengaruhi sesama anggota juga tinggi. Komitmen terhadap tujuan kelompok dan keinginan untuk menyelesaik.an tugas dengan sebaik-baiknya juga sangat tinggi. Hal lainnya yang merupakan dampak dari kohesivitas kelompok iatan rendahnya lingkat kehadiran dalam kegiatan-kegiatan kelompok (absenteeism) dan keinginan untuk keluar kelompok (turnover). Tanggung jawab pribadi terhadap kelompok juga akan menlngkat. Selain itu keinginan untuk mengambil dan mengerjakan tugas kelompok yang berat, motivasi dan keajegan usaha untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Kelngman untuk mermkut segala kesuk.aran yang dihadapi kelompok, keinginan untuk melakukan pembelaan terhadap krltlk dan ancaman eksternal, komitmen terhadap kesuksesan kerja sama anggota kelompok dan keinginan untuk mendengarkan dan mengikuti saran atau pendapat sesama anggota meningkat. Se1anjutnya untuk perumusan konsep kohesivitas kelompok yang akan digunakan dalam penelilian ini, penulis mengklasifikasikan perilaku-peri1aku tersebut di alas menjadi beberapa dimensi seperti yang dinyatakan oleh Johnson and Johnson (2000) bahwa kohesivitas merupak.an kekuatan atau dorongan untuk tetap menetap dan memelihara keanggotannya da1am ke\ompok atau organisasi tertentu. Kekuatan tersebut metiputi daya tarik an tar anggota dalam kelompok dan juga ketertarikan individu terhadap kelompok. Metode Penelitian Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel bebas (independent) yaitu persepsi terhadap gaya kepemimpin transformasional, gaya PSIKOl.OGIKA Nanor 17 tahoo IX JatMJar1 2004 GAYA KEPEMIMPLNAN. KOHESIVITAS KELOMPOK DAN KOMITMEN kepemimpin transaksional, dan kohesivitas partai: komitmen afeksi, komitmen menerus, dan komitmen normatif; dan dua variabel sertaan lamanya menjadi ang kaoer partai dan usia kader. Metode penelitian ini menggunakan analisis kuantitaif melalui anallsls statistiknya. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk melihat hubungan antara beberapa vanabel bebas penelitian ini dengan variabel tergantung. Alat bantu ana1isis regresi berganda ini akan menggunakan paket SPS-2000 edisl Sutrisno Hadi. Subjek penelitian ini adalah 120 anggota kader Partai Oemokrasi Indonesia Perjuangan Ranting Banguntapan Kabupaten Bantul yang terdaftar sebagal anggota kader. Subjek tersebut dikenakan skala penelitian gaya kepemimpin transformaslonal dan transaksional yang disusun oleh Bass dan Avolio (1990), skala kohesivitas dalam kelompok berdasarkan konsep dari Johnson and Johnson (2000) serta skala komilmen organisasi dari Meyer dan Allen (1990). Hasil Penelitlan Melaui analisis regresl berganda terhadap komitmen afeksl dlperoleh koefisien kore1asi Ry. (1,2,3,4,5) sebesar 0,728, F sebesar 25, 684 dan p 0,01. artlnya bahwa terdapat hubungan yang positif dan sangat signifikan antara gaya kepemimpinan transformasiona1, gaya kepemimpin transaksional, kohesivitas partai, usia dan lama menjadi kader dengan komilmen afeksi terhadap partal. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional, gaya kepemimpin transaksional, kohesivitas kelompok dalam partai dapat diteri
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x