ASPEK TEKNIS DAN KELAYAKAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU SEBAGAI BAHAN BAHAN BAKAR SUBSITUSI DI PABRIK SEMEN : STUDI KASUS DI PT.

Please download to get full document.

View again

of 53
249 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
ASPEK TEKNIS DAN KELAYAKAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU SEBAGAI BAHAN BAHAN BAKAR SUBSITUSI DI PABRIK SEMEN : STUDI KASUS DI PT. HOLCIM NAROGONG TEKAT DWI CAHYONO PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN KEHUTANAN
Document Share
Document Transcript
ASPEK TEKNIS DAN KELAYAKAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU SEBAGAI BAHAN BAHAN BAKAR SUBSITUSI DI PABRIK SEMEN : STUDI KASUS DI PT. HOLCIM NAROGONG TEKAT DWI CAHYONO PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN KEHUTANAN S E K O L A H P A S C A S A R J A N A INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 ASPEK TEKNIS DAN KELAYAKAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU SEBAGAI BAHAN BAHAN BAKAR SUBSITUSI DI PABRIK SEMEN : STUDI KASUS DI PT. HOLCIM NAROGONG TEKAT DWI CAHYONO Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN KEHUTANAN S E K O L A H P A S C A S A R J A N A INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Aspek Teknis dan Kelayakan Ekonomis Pemanfaatan Kayu sebagai Bahan Bakar Substitusi di Pabrik Semen : Studi Kasus di PT. Holcim Narogong adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal dan dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Maret 2008 Tekat Dwi Cahyono E SUMMARY Tekat Dwi Cahyono. E Technique Aspects and Economic Feasibility of Wood Utilization as Alternative Fuel at Cement Factory : Case Study at PT. Holcim Narogong Plant. Advisors: Zahrial Coto, Fauzi Febrianto. Coal is by far the main energy source for most industry in Indonesia. As one of the world nations with highest coal resources, Indonesia possesses coal deposit about 36,3 billion ton. There is only 7,6 billion ton of that number as reserve stock which almost 58,5% of it is young coal (lignite). The usage of young coal (lignite) as energy source has some disadvantages, due to its low heating value in burning process, and it also has high sulfur and moisture content. Moreover, the coal price, both domestic and international, is fluctuating, and has tendency to upraise too. PT. Holcim Indonesia (former name was PT. Semen Cibinong), is founded in 1971 and perform mining activity ever since. It is the biggest mining aggregate in Java with production capacity about 7,9 billion ton. This company has two cement factories at Naragong and Cilacap. Naragong factory is located in Sub district of Klapanunggal, Bogor District; it covers area about ,81 Ha. Until December 2006, the quarry of lime stone and clay had been opened were 214,69 Ha and 47,8 Ha, respectively, at the lowest elevation of 84 m above sea level. Mined area to this lowest elevation reach up to 78,9 Ha. This lowest elevation area has been used for reforestation 15,43 Ha, setting pond 8,19 Ha, reclamation 8 Ha, topsoil area 0,65 Ha, and building/factory site 46,63 Ha. The company has reclamation and re-vegetation plan for ten years ( ) already. This thesis interest is to observe technique and economic feasibility of wood plantation on cement mining area as alternative fuel in cement production. Since being proved to grow normally at marginal soil, sengon buto, waru, and gmelina woods were observed for their heating value based on wood species, ages, and horizontal position. Heating value was examined in air dry and oven dry condition. These values will be accumulated with biomass prediction of forest at mining area to determine the substitution proportion of wood to ordinary fuel, and eventually to determine the economic feasibility. Therefore, the result showed that average of wood heating value (based on wood proportion and bark) in oven dry condition for sengon buto, waru, and gmelina are kkal/kg, kkal/kg, and kkal/kg, respectively; meanwhile, in air dry condition it were kkal/kg, kkal/kg, and kkal/kg, respectively. The correlation between moisture content (MC) and heating value is presented as this equation: Heating value = -50,87 (MC) , whereas coefficient of determination (R 2 ) is 0,943. Financial analysis of re-greening activity at cement mining area for fulfilling the requirement of fuel substitution showed that capital of investment is Rp /Ha at 9% bank interest. If the average of fuel wood potency is 300 m 2 /Ha then the capital required is Rp /m 3. The calculation of investment criteria with NPV calculation on the interest 9% is Rp and BCR (Benefit Cost Ratio) is 2,07 at the rate interest. These values showed that this activity is economically feasible. The fuel wood planting program is planed to involve the community surround the company location. The program is aimed as participative action that will entail natives on their force, thought, and commitment optimally; and yield sharing. The economic analysis of this mutually action revealed that BCR for society is bigger as much as 8,37% than it is for the company which is 3,53%. Keywords : wood, heating value, feasible. RINGKASAN Tekat Dwi Cahyono. E Aspek Teknis dan Kelayakan Ekonomis Pemanfaatan Kayu sebagai Bahan Bakar Substitusi di Pabrik Semen : Studi Kasus di PT. Holcim Narogong. Dibimbing oleh : Zahrial Coto, Fauzi Febrianto. Batu bara selama ini masih merupakan sumber energi utama bagi sebagian besar industri di Indonesia. Indonesia termasuk negara dengan sumber tambang batu bara terbesar di dunia. Cadangannya diperkirakan 36,3 milyar ton. Dari total sumber daya tersebut, hanya 7,6 milyar ton yang dapat dikatakan sebagai cadangan pasti (reserve). Sekitar 58,5% dari cadangan batu bara tersebut tergolong batubara muda (lignite), sisanya tergolong pada sub-bituminous (26,6%), bituminous (14 %) dan antrasit (0,1%). Penyebaran terbesar berada di Kalimantan Timur (50,1 %), Kalimantan Selatan (23,5 %) dan Sumatra Selatan ( 23,2 ). Kendala yang dihadapi dalam pemakaian batu bara muda ini adalah nilai kalor yang rendah, sedangkan kadar sulfur dan air tinggi. Kendala lain yang dihadapi produsen dan pengguna batu bara adalah masalah harga yang fluktuatif namun cenderung naik, baik harga batu bara internasional maupun harga batu bara domestik. PT Holcim Indonesia (dulunya PT Semen Cibinong), telah berdiri dan aktif melakukan kegiatan pertambangan sejak tahun 1971 di Bogor. PT. Holcim Indonesia memiliki dua pabrik semen yang beroperasi di Narogong dan Cilacap serta tambang agregat terbesar di pulau Jawa dengan kapasitas produksi sebesar 7,9 juta ton semen. Holcim Indonesia adalah produsen terkemuka yang menghasilkan semen, beton jadi dan agregat, secara terintegrasi di pasar. Pabrik Narogong terletak di Kecamatan Klapanunggal Kabupaten Bogor menempati areal seluas ,81 Ha. Sampai bulan Desember 2006, luas quari batu gamping yang telah terbuka adalah 214,69 Ha, tanah liat 47,8 Ha dengan elevasi terendah 84 m dpl. Luas area yang sudah ditambang sampai elevasi terendah mencapai 78,9 Ha. Area dengan elevasi terendah tersebut telah dimanfaatkan antara lain untuk penghijauan 15,43 Ha, settling pond 8,19 Ha, reklamasi 8 Ha, area topsoil 0,65 Ha dan tapak pabrik/bangunan 46,63 Ha. PT. Holcim juga telah mempunyai rencana reklamasi serta rencana revegetasi untuk jangka waktu 20 tahun ( ). Sebuah penelitian telah dilaksanakan untuk melihat aspek teknis dan kelayakan ekonomis kayu yang ditanam di daerah pertambangan semen sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen. Kayu Sengon buto, Waru dan Gmelina yang mampu tumbuh normal didaerah miskin hara diteliti nilai kalornya berdasarkan faktor jenis kayu, umur dan posisi horisontal dari kayu. Nilai kalor diukur pada saat kering udara (KU) dan saat kering tanur (KT). Nilai kalor tersebut kemudian diakumulasi dengan prediksi potensi biomassa hutan di wilayah pertambangan untuk melihat persentasi bahan bakar yang dapat disubstitusi oleh kayu. Selain itu juga diteliti kelayakan ekonomisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai kalor kayu (sesuai proporsi kayu dan kulit) untuk jenis sengon buto pada kondisi KT adalah kkal/kg, waru kkal/kg dan gmelina sebesar kkal/kg. Sedangkan ratarata nilai kalor kayu (sesuai proporsi kayu dan kulit) pada kondisi KU (kadar air/ka 12%) untuk jenis kayu sengon buto adalah kkal/kg, waru kkal/kg dan gmelina kkal/kg. Model hubungan antara KA dan nilai kalor adalah nilai kalor = -50,87 (KA) dengan nilai koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0,943. Analisis terhadap harga ekonomis kayu bakar menunjukkan bahwa jika menggunakan harga batu bara Rp /ton dengan nilai kalor sebesar kkal/kg, maka harga yang sesuai untuk kayu dengan nilai kalor sebesar kkal/kg adalah Rp /ton. Satu ton kayu sengon buto KU (KA 12%) dengan kerapatan KU 0,55 g/cm 3 setara dengan 1,63 m 3 kayu sengon buto. Jika menggunakan asumsi harga kayu Rp /ton, maka harga kayu sengon buto per m 3 adalah Rp Analisis finansial kegiatan penghijauan lahan pada areal pertambangan semen untuk kebutuhan bahan bakar substitusi menunjukkan bahwa kebutuhan dana investasi adalah Rp /hektar pada suku bunga 9%. Jika menggunakan rata-rata potensi kayu bakar 300m 2 /ha, maka kebutuhan dana investasi adalah Rp /m 3. Nilai penghematan menjalankan program ini adalah Rp. 6,82 milyar per tahun. Perhitungan kriteria investasi dengan hasil perhitungan NPV pada suku bunga 9% sebesar Rp dan BCR (Benefit Cost Ratio) sebesar 2,07 pada suku bunga 9% menunjukkan bahwa kegiatan ini secara ekonomis layak untuk dijalankan. Program penanaman kayu energi direncanakan melibatkan masyarakat sekitar wilayah pabrik semen. Program ini dimaksudkan sebagai kegiatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara optimal baik tenaga, pikiran, komitmen dan berbagi hasil panen. Hasil analisis ekonomi kegiatan bersama masyarakat menunjukkan bahwa BCR untuk masyarakat lebih besar yaitu 8,37 dibandingkan dengan BCR untuk perusahaan sebesar 3,53. Perhitungan ini dapat dijadikan sebagai pendekatan kuantitatif dalam menetapkan dasar kegiatan penyediaan kayu energi bersama masyarakat. Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi undang-undang 1. Dilang mengutip sebagian atau seluruh karya ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Aspek Teknis dan Kelayakan Ekonomis Pemanfaatan Kayu Sebagai Bahan Bakar Substitusi di Pabrik Semen : Studi Kasus di PT. Holcim Narogong Nama Mahasiswa : Tekat Dwi Cahyono Nomor Pokok : E Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto, M.Sc Ketua Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Ujian : 26 Maret 2008 Tanggal Lulus : Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Prof. Dr. Ir. Tineke Mandang, MS RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Gunung Kelop, dusun kecil di Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang Jawa Timur pada hari Kamis, 01 Juli 1975, pukul WIB sebagai putra kedua dari 5 bersaudara, dari ayah bernama M. Kumari dan Ibu bernama Djasemi. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SDN 04 Dampit pada tahun 1988 dan Sekolah Menengah Tingkat Pertama di SMPN 01 Dampit pada tahun 1991, sedangkan Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas diselesaikan di SMUN 8 Malang pada tahun Melalui jalan yang sangat panjang selepas SMU, penulis merasakan pendidikan di berbagai tempat sebelum akhirnya sampailah penulis di Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun Penulis menikah dengan dr. Sri Andayani pada tanggal 15 Maret 2001, putri ke 7 dari 10 bersaudara dari ayah bernama Hamim dan ibu bernama Sumartini. Dari pernikahan tersebut, sampai karya ini dihadirkan, penulis masih menantikan kehadiran putra dan putri yang akan di amanahkan oleh Allah SWT. Setamat dari Pendidikan Sarjana di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif dalam berbagai kegiatan LSM, baik yang bergerak di bidang lingkungan maupun pembangunan masyarakat, pernah bekerja pada beberapa perusahaan baik di Jakarta maupun di Ambon. Mulai 1 Januari 2005 penulis bergabung dengan Departemen Pendidikan Nasional sebagai Dosen Kopertis XII Maluku, Maluku Utara Irian Jaya Barat dan Papua, ditempatkan pada Universitas Darussalam Ambon. Pada tahun 2006 penulis diberi kesempatan untuk melanjutkan Pendidikan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor dengan Biaya Pendidikan Pascasarjana dari Dirjen Dikti. Untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Magister Sains IPB, penulis melakukan penelitian berjudul Aspek Teknis dan Kelayakan Ekonomis Pemanfaatan Kayu sebagai Bahan Bakar Alternatif di Pabrik Semen : Studi Kasus di PT. Holcim Narogong dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto, M.Sc dan Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS. KATA PENGANTAR Kayu memiliki sifat dasar istimewa yang tidak dimiliki oleh bahan lain. Diantaranya adalah sifatnya yang spesifik terhadap panas dan pembakaran. Sifat inilah yang dimanfaatkan oleh manusia dalam pemilihan kayu sebagai bahan bakar. Penyediaan kayu sebagai bahan bakar secara dalam jumlah besar juga terkendala dengan sifat tumbuh kayu yang relatif lama dibandingkan dengan bahan lain yang tersedia. Namun pemanfaatan kayu sebagai alternatif energi perlu dikembangkan untuk menjawab kajian teknologi dan khasanah keilmuan bidang sifat dasar kayu. Segala Puji Bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga pada akhirnya penulis menyelesaikan laporan penelitian dengan judul Aspek Teknis dan Kelayakan Ekonomis Pemanfaatan Kayu Sebagai Bahan Bakar Substitusi di Pabrik Semen : Studi Kasus di PT. Holcim Narogong tanpa hambatan yang berarti. Laporan penelitian ini ditulis untuk memberikan alternatif teknologi pemanfaatan kayu yang ditanam di sekitar tambang sebagai bahan substitusi dalam salah satu proses produksi semen. Ucapan terimakasih penulis haturkan yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto, M.Sc selaku Ketua Komisi Pembimbing. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS selaku Anggota Komisi Pembimbing. 3. Ibu Prof. Dr. Ir. Tineke Mandang, MS selaku Peguji Luar Komisi. 4. Ketua Program Studi IPK, Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc selaku moderator dan Penguji dari Program Studi IPK. 5. Pak Lilik, Pak Ichsan dan Pak Wiyono, staf EQS PT. Holcim Pabrik Narogong atas bantuan dan kerjasama yang baik selama penulis melaksanakan penelitian. 6. Mas Arya dari SKI Indosat atas bantuan dan kerjasama yang baik selama penelitian. 7. Mbak Lastri, Mbak Esti, Pak Kadiman dan Pak Adang, staff laboran Lab. Kayu Solid Fakultas Kehutanan atas bantuan dan kerjasama yang baik selama penulis melakukan penelitian. i 8. Sri Andayani, dr. atas seluruh kerelaan dan kesabarannya dalam memberikan yang terbaik bagi penulis. 9. Rekan-rekan Program Studi IPK Sekolah Pascasarjana angkatan 2006 dan rekan-rekan Sekolah Pascasarjana pada umumnya atas bantuannya, baik secara langsung maupun tidak baik melalui moril maupun materi kepada penulis. Setiap pekerjaan manusia tidak lepas dari kesalahan, oleh karena itu, saran, kritikan dan dukungan moril akan selalu penulis harapkan dalam memperbaiki bidang kajian keilmuan dan sikap pada masa mendatang. Akhirnya penulis berharap agar karya ini dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Institut Pertanian Bogor pada khususnya dan masyarakat pada umumya sesuai dengan kebutuhan. Bogor, Maret 2008 Penulis ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.... DAFTAR ISI DAFTAR TABEL.... DAFTAR GAMBAR.... DAFTAR LAMPIRAN.... Halaman I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Manfaat Hipotesis... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA Kayu Sebagai Energi Sifat Kayu terhadap Perubahan Suhu Konduktifitas Panas Panas Spesifik Sifat Bakar Kayu Nilai Kalor Jenis Kayu yang digunakan dalam Penelitian Sengon Buto (Enterolobium cylocarpum) Waru (Hibiscus tiliaceus) Gmelina (Gmelina arborea) Proses Produksi Semen Investasi Pengusahaan Hutan III. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan Penetapan Berat Jenis, Nilai Kalor dan Kadar Abu Pembuatan Contoh Uji Pengujian Berat Jenis Pengujian Nilai Kalor Pengujian Kadar Abu Metode Analisis Analisis Persentasi Bahan Bakar yang dapat di Substitusi oleh Kayu Analisis Ekonomis. 23 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Berat Jenis, Nilai Kalor dan Kadar Abu i iii v vi vii iii Berat Jenis Kayu dan Kulit Nilai Kalor dan Kadar Abu Analisis Hubungan antara Kadar Air dengan Nilai Kalor Nilai Kalor Kayu dan Kadar Abu berdasarkan Proporsi Kayu dan Kulit Analisis Persentasi Bahan Bakar yang dapat di Substitusi oleh Kayu Analisis Teknis Kayu sebagai Bahan Bakar di Pabrik Semen Analisis Ekonomis Pengusahaan Hutan Analisis Ekonomis Kegiatan Sosial Masyarakat V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN iv DAFTAR TABEL Halaman 1 Nilai kalor kayu dibandingkan dengan bahan bakar fosil alternatif di Amerika pada tahun Analisis proksimat dari beberapa jenis bahan bakar Analisis proksimat dan ultimat beberapa jenis kayu Indonesia Rata-rata nilai kalor kayu dibandingkan dengan kulit Pendapatan Acacia mangium sejak umur komersial (4-8 tahun) Nilai kalor dan kadar abu tanaman yang ditanam di sekitar lokasi tambang dibandingkan dengan batu bara Proyeksi perhitungan kayu yang dapat mensubstitusi batu bara Hasil percobaan pembakaran kayu Rata-rata volume kayu yang ditanam di sekitar lokasi tambang (m 3 /ha) Perbandingan harga kayu dan batu bara berdasarkan nilai kalornya Arus kas hutan tanaman sengon buto rotasi 5 tahun (x Rp.1.000/Ha) Perhitungan NPV dan BCR Kebutuhan investasi dan nilai penghematan menjalankan program penanaman kayu energi BCR (15%, 5 tahun) dengan berbeda harga dan produksi Nama desa dan jumlah petani yang terlibat penanaman kayu energi tahap pertama (September sampai Desember 2007) v DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Penurunan nilai panas kayu pada berbagai kadar air Proses produksi semen Diagram alir penelitian Berat jenis kayu sengon buto, waru dan gmelina pada umur dan posisi horisontal kayu yang berbeda Nilai kalor kayu sengon buto, waru dan gmelina pada umur dan posisi horisontal kayu yang berbeda Kadar abu kayu sengon buto, waru dan gmelina pada umur dan posisi horisontal kayu yang berbeda Regresi linier antara nilai kalor dan kadar air Persentasi nilai kalor kayu dibandingkan dengan nilai kalor batu bara per tahun Potongan kayu sengon buto umur 4 tahun Wood chipper tipe CH260HF (inset : chip kayu) Gudang penyimpanan kayu Tempat penimbunan batu bara vi DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Rata-rata pengukuran nilai kalor (nilai kalor tertinggi), berat jenis dan kadar abu Hasil analisis sidik ragam nilai kalor, kadar abu dan berat jenis Jenis tanaman, riap dan nilai kalor beberapa jenis kayu energi di Indonesia Data pengukuran nilai kalor pada beberapa kondisi kadar air Analisis sidik ragam regresi antara kadar air dengan nilai kalor Contoh perhitungan persentasi kebutuhan kayu dibandingkan dengan batu bara (Contoh untuk kayu sengon buto) Contoh perhitungan penetapan harga kayu yang berdasarkan nilai kalornya Peta lokasi penelitian vii I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang PT Holcim Indonesia (dulunya PT Semen Cibinong), telah berdiri dan aktif melakukan kegiatan pertambangan sejak tahun 1971 di Bogor. PT. Holcim Indonesia memiliki dua pabrik semen yang beroperasi di Narogong dan Cilacap serta tambang agregat terbesar di pulau Jawa dengan kapasitas produksi sebesar 7,9 juta ton semen. Pabrik Narogong memiliki 2 buah tanur semen, yaitu NR3 dan NR4 dengan kapasitas total terpasang sebesar 4,1 juta ton semen/tahun (Bertschinger, 2006). Secara umum, kegiatan pabrik semen terdiri atas tiga tahap, yaitu penambangan bahan baku, proses produksi semen dan proses pemasaran. Proses produksi secara khusus terdiri dari 4 tahap yaitu penggilingan bahan baku, pembakaran, penggilingan akhir dan pengantongan semen. Kegiatan pembakaran dalam proses produksi merupakan proses inti, karena sebagian besar energi diperlukan dalam proses ini. Kegiatan pembakaran mengguna
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks