ADEGAN SATU TAMAN. BANGKU. ORANG TUA MASUK, BATUK-BATUK, DUDUK DI BANGKU. MASUK LAKI-LAKI SETENGAH BAYA, DUDUK DI BANGKU. : Mau hujan.

Please download to get full document.

View again

of 16
40 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
PETANG DI TAMAN KARYA PRODUKSI SUTRADARA : IAN SIMATUPANG : TEATER KENCANA : EFRIADI 24 OKT 1991, jam di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Dalam rangka Festival Teater se-jakarta 1991.
Document Share
Document Transcript
PETANG DI TAMAN KARYA PRODUKSI SUTRADARA : IAN SIMATUPANG : TEATER KENCANA : EFRIADI 24 OKT 1991, jam di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Dalam rangka Festival Teater se-jakarta Itulah celakanya dari setiap taman. Setiap orang yang datang atau lewat, menganggap merdeka dirinya untuk mencampuri setiap pembicaraan. Ya, setiap penghidupan yang kebetulan sedang berlaku di situ. PARA PEMAIN FIKRYOSEPH sebagai ORANG TUA RIZZAL sebagai LELAKI SETENGAH BAYA BACHRUDIN sebagai PENCINTA BALON AYU ERLITA sebagai ANITA RINGKAS CERITA Dalam cuaca yang tidak menentu. Seorang Tua terbatuk-batuk menyeret langkahnya menuju Taman. Seorang Lelaki Setengah Baya yang entah dari mana asalnya, juga memasuki Taman. Terjadilah perdebatan antara kedua orang asing tersebut, tentang cuaca yang mereka sendiri tidak mengetahui secara pasti musim apa sebenarnya kini. Perdebatan belum lagi mendapatkan hasil yang memuaskan bagi mereka, datanglah Seorang Pencinta Balon yang mereka kira Penjual Balon. Si Pencinta Balon menjadi terganggu oleh kesalah tafsiran tersebut. Dan ini pun dialami oleh Seorang anita yang datang kemudian bersama Bayinya. Kejadian di Taman merupakan konflik-konflik yang tidak ada hubungannya satu sama lain, yang menceritakan pergulatan Manusia dalam kehadirannya melawan kesepian dan ketidakmengertian. Yang sangat ironis dari cerita ini ialah dimana Taman yang seharusnya merupakan tempat kenyamanan dan ketenangan bagi orang-orang yang mengunjunginya justru di sini menjadi sebaliknya. (Efr.) 1 ADEGAN SATU TAMAN. BANGKU. ORANG TUA MASUK, BATUK-BATUK, DUDUK DI BANGKU. MASUK LAKI-LAKI SETENGAH BAYA, DUDUK DI BANGKU. : Mau hujan. : Apa? : Hari mau hujan. Langit mendung. : Ini musim hujan? : Bukan, musim kemarau. : Di musim kemarau, hujan tak turun. : Kata siapa? : Ini bulan apa? : Entah. : Kalau begitu, saya benar. Ini musim hujan. : Bulan apa kini rupanya? : Entah. : Kalau begitu saya benar. Ini musim kemarau. : Salah seorang dari kita musti benar. : Kalau begitu, baiklah saya mengalah. Ini musim hujan. : Tidak, tidak. Yang lebih muda musti tahu menghormati yang lebih tua. Ini musim hujan. (SUARA GEMURUH) : Kita sama-sama salah. : Maksudmu, bukan musim hujan dan bukan pula musim kemarau? : Habis mau apa lagi? : Beginilah kalau gila hormat. : Kamu bagaimana? : Ah, kita boleh lebih kasar sedikit. : Lantas? : Akan lebih jelas, musim apa sebenarnya kini. : Dan kalau sudah bertambah jelas? 2 : (DIAM) : (MERENUNG) Dan kalau segalanya sudah bertambah jelas, maka kita pun sudah saling bengkak-bengkak, atau tewas, karena barusan saja telah cakarcakaran. Dan siapa tahu, salah seorang dari kita tewas pula dalam cakar-cakaran itu, atau keduanya. Dan ini semua, hanya karena kita telah mencoba mengambil sikap yang agak kasar terhadap sesama kita (TIBA-TIBA MARAH) Bah! Persetan dengan segala musim. BUNYI GEMURUH. TAK LAMA KEMUDIAN, MASUK PENCINTA BALON. BALON-BALONNYA BERANEKA ARNA. : (KEPADA ) Silahkan duduk. : (BIMBANG, MASIH SAJA BERDIRI) : Ayo. Silahkan duduk (MENEPI KE BANGKU) : Tentu saja bapak telah membuat dia menjadi ragu-ragu. : Kenapa? : Pakai dipersilahkan segala. Ini... kan taman. (TIBA-TIBA MARAH) Dia duduk kalau dia mau duduk. Dan dia tidak duduk, kalau dia memang tak mau duduk. Habis perkara. BAH! (MELIHAT GERAM KEPADA ) : (DUDUK) : (MASIH MARAH) Mengapa kau duduk? : Eh... Saya mau duduk. : (TIBA-TIBA TERTAA TERPINGKAL-PINGKAL) : (SANGAT MARAH) KENAPA BAPAK TERTAA? : (DALAM TAA) Karena... saya mau ketawa. (TERTAA TERBAHAK- BAHAK) ADEGAN DUA BERBUNYI GEMURUH, BERHEMBUS ANGIN. BALON-BALON KENA HEMBUSAN ANGIN. SEBUAH BALON MAU LEPAS. CEPAT-CEPAT MENANGKAPNYA. MENERKAM BALON ITU, INGIN SUPAYA IA LEPAS SEMUA. DARI TANGAN, TERBANG KE UDARA. DAN BERGUMUL, BALON-BALONNYA KINI TERBANG SEMUANYA DARI TANGAN. SEBUAH BALON DAPAT DITANGKAP OLEH ORANG TUA, YANG KEMUDIAN DAPAT PERMAINAN GEMBIRA SEPERTI KANAK-KANAK ATAU ANAK KECIL SAJA. 3 / : (DUDUK DI TAMAN SAMBIL MENANGIS) : (MASIH GEMBIRA BERMAIN-MAIN DENGAN BALON) : (KEPADA ) Mengapa... hey, kau menangis? : (SAMBIL BERMAIN-MAIN TERUS DENGAN BALON) Karena memang dia mau menangis. : Bukan, bukan karena itu (TIBA-TIBA) : (TERCENGANG) Em? : Kalau begitu, kau menangis karena apa? : Karena balon-balon saya terbang. : (MENGERTI) Oooooo, dia pedagang yang merasa dirugikan. : Ooooo, itu (MEROGOH DOMPET DARI SAKU CELANANYA) Nah, ini sekedar pengganti kerugianmu. : (MENGGELENG SAMBIL BERDIRI) Tidak (DUDUK DIBANGKU) * (TANGISNYA MENJADI-JADI) Saya tak mau dibayar. / : (SEREMPAK) Tak mau? : Saya lebih suka balon. : Kenapa? : (MENGGELENGKAN KEPALANYA) : (TAK MENGERTI) Tapi, kau kan menjualnya? : Itu hanya alasan saya saja untuk memegang balon-balon. Saya pencinta balon. : Apa-apaan ini?! : Mengapa merasa aneh? Dia pencinta balon, seperti juga orang lain pencinta harmonika, pencinta mobil balap, pencinta perempuan-perempuan cantik. Apa yang aneh dari ini semuanya? : (MASIH HABIS HERANNYA) Jadi, kau sebenarnya bukan penjual balon? : (KEPADA ) Ini, terima balonmu kembali. : Tidak, bapak pegang sajalah terus. : (HERAN) Saya pegang terus? : Karena saya lihat bahwa bapak juga menyukainya. Saya suka melihat orang yang suka balon. 4 : (TERTAA KECIL) Ah, ini bukan lagi kesukaan namanya, tapi kenangan. Kenangan kepada dulu. Tidak, anak. Sebaiknya bila kau sudi menerima kembali balon ini. : Saya tak sudi, dan tidak berhak menerima kenangan orang. : (MASUK. MENGGAPAI KE ARAH BALON) Berilah kepada saya, kalau tak seorang pun menghendakinya. : (TIBA-TIBA MEMECAHKAN BALON ITU, LALU MELIHAT DENGAN GELI PADA ANITA ITU) : Kenapa bapak pecahkan? (SANGAT MARAH) : Karena saya memang mau memecahkannya. Jelas? (TERTAA) : Jahanam. Orang tua keparat. (MENERKAM ORANG TUA) : (MELERAI) Sudah, sudah. Jangan berkelahi hanya karena itu. Bukan itu maksud saya dengan meminta balon itu. : Lepas, lepaskan saya, biar saya hajar dulu dia. : Jangan, jangan. (MENANGIS) : (KESAL MELIHAT ANITA ITU MENANGIS) Ah, air mata lagi, persetan. Mengapa nyonya datang kemari? : (TIBA-TIBA SANGAT MARAH) Siapa bilang saya nyonya? : O, baik, baik. Jadi nyonya bukanlah nyonya. Kalau begitu nyonya apa? Nona barang kali? : (GUGUP) Ti... (MENANGIS) : Ahaaaaa, nyonya bukan... nona pun bukan. Ahaaaaaaaaa (KETAA) : Sungguh kasar, sungguh biadab kalian. (MENUNTUN ANITA ITU SUPAYA DUDUK DIBANGKU) Sudahlah bu,. Jangan hiraukan mereka. Sebaiknya ibu lekas-lekas saja pergi dari sini sebelum mereka menghina ibu lebih parah lagi nanti. Pergilah. : (KEPADA ) Ahaaaaa, pergi dengan kau? Ahaaaaa, akhirnya sang putri bertemu sang pangerannya di tengah taman. Dan... ahaaaaa, sianakpun akhirnya bertemu dengan sang ayah (TERTAA TERBAHAK-BAHAK) : (TIBA-TIBA MENYADARI MAKNA KATA-KATA ORANG TUA ITU) Siapa bilang saya... (MELIHAT SILIH BERGANTI KEPADA ORANG TUA, ANITA DAN KE DALAM KERETA BERISI OROK) Tidak, tidak... saya bukan... : (CEPAT-CEPAT NYELETUK) Bukan apanya, nak? : (KEPADA ORANG TUA) Bapak mau menuduh saya? 5 : Menuduh apa, bung? Kau nampaknya begitu bernafsu untuk berbicara tentang sesuatu dan tuduhan yang sebenarnya tidak ada. Kemudian, kau tampaknya begitu bernafsu menolak tuduhan itu, ingat. Tuduhan yang tidak ada itu, hingga... (TERTAA) Saya ini benar-benar mulai curiga, dan benar-benar menuduh kau tentang sesuatu yang dengan terus terang saja aku katakan belum jelas bagiku sendiri... : (BINGUNG) Tidak, tidak. : (DENGAN BERNAFSU SEKALI DATANG MENDEKAT PADA, MEMPERHATIKAN AJAH DENGAN SANGAT TELITI) : (SEMAKIN GUGUP DENGAN SIKAP ANITA ITU) Tidak, tidak. Bukan saya. (MENCOBA MENUTUPI AJAHNYA DENGAN KEDUA TANGANNYA) : (GERAM) Ayo, buka tanganmu. Aku mau melihat kau, ayo!!! (MERENGGUT TANGAN DARI MUKANYA) : Tidak! Bukan saya. Bukan saya. : Jahanam. Ayo, buka tanganmu kataku. Buka. Buka! : Kurang ajar. Kau telah lari, ha! Lari, dan kau tinggalkan aku sendiri dengan seluruh keadaan kedalah mana kau tempatkan aku dengan perbuatanmu. Aku sendirian harus menanggung semuanya. Aku seorang wanita, sendirian. Bah! (MERENGGUT DENGAN SANGAT KUAT KEDUA TANGAN DARI MUKANYA) Ayo, bukaaaaaaaa!!! : Bukan saya. Bukan saya. Saya Cuma berbuat sekali saja. : (NYELETUK) Itukan sudah cukup, tolol. : (MENINGKAH ) Belum tentu, menurut ilmu kedokteran modern. : Ayo, buka tanganmu (KEPADA DAN ) Tolonglah saya tuan-tuan. : Bukan saya tak mau menolong. Tapi secara prinsipiil, saya tak sudi ikut campur dalam urusan yang bukan yang bukan urusan saya. : (KEPADA ) Ayo, pak, tolonglah saya. : Saya orang tua. : Bah! Apa pula dengan maksudmu itu, dengan kalimat kotor serupa itu. Saya orang tua. Kami semua melihat bahwa bapak memang orang tua, dan tidak ada tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa bapak adalah kebalikan dari ucapan itu. : (GELI) Katakanlah saya ingin mempertegas kedudukan saya dalam peristiwa yang sedang kita hadapi ini, yakni: ketuaan saya melarang saya terlibat sedikit pun di dalamnya. Dan kalau kalian tanyakan bagaimana pendirian saya dalam peristiwa kalian yang sedikit rumit ini, maka jawab saya: saya pro kalian berdua. 6 Lepas dari pertanyaan apakah benar apakah tidak peristiwa itu telah benar-benar terjadi. Tegasnya, saya pro setiap peristiwa beginian. : Kata-kata, hanya kata-kata muluk. Sedang yang diminta dari bapak sekarang ini adalah perbuatan. : Kata-kata saya yang mengemukakan pendirian saya itu adalah perbuatan saya. : Bagus. Bagus. Berkatalah terus dan persaksikanlah betapa kedua mereka ini sebentar lagi bakal saling telan menelan. : (SANGAT DAHSYAT) Bukan sayaaaaaaaa! Bukan saya, sungguh mati saya hanya melakukan sekali saja, tak lebih... : (GELI)... dan tak kurang! : Diam, bangsat! Cuma sekali itu kan sudah cukup. Maumu berapa kali, ha? Serakah! Jadi, kau mengaku sekarang? : (HISTERIS) Aku... aku ditinggalkannya, dan dia meninggalkan aku dan dia menghilang. Dan aku menghadapi akibatnya. (BUAS) Ayo, buka tanganmu! / : (SANGAT DAHSYAT) Buka! Buka! (SETELAH BERGUMULAN SEBENTAR BERHASIL MERENGGUTKAN DUA TANGAN DARI AJAHNYA HINGGA TE SEDANG KEDUA TANGANNYA TERUS DIKEMPIT OLEH KE BELAKANG PUNGGUNGNYA) : Bukan saya, bukan saya. : (MAJU DEKAT SEKALI, MELIHAT AJAH ) Bangsat, laki-laki jahanam. Kurang ajar! (KETIKA SUDAH MELIHAT AJAH, ANITA ITU TERKEJUT) Bukan...? Bukan kau (PINGSAN, TAPI CEPAT-CEPAT DIPEGANG OLEH ORANG TUA) : (SEREMPAK) Bukan dia? : Bukan saya, bukan saya. Cuma sekali, cuma sekali. : (GEMAS, MELEPASKAN TANGAN ) Huh, bukan kau...! : Bukan saya, bukan, bukan saya. Cuma sekaliiiiiiiii : ( REP MENGIPASI ANITA YANG DALAM PADA ITU SAYA TERGOLER KAN DI BANGKU) Sudah cukup. Biar kau melakukannya lebih dari sekali, sekarang ini soal itu sudah tak penting lagi. Mari, daripada kau berteriak-teriak tak berguna itu lebih baik kau... (MELIHAT KE ) Kalian... menolong saya dengan dia ini (TERUS MENGIPAS ANITA) : Menolong bagaimana? : (SANGAT KESAL) Ya, menolong apa saja yang lajim dikerjakan. : Saya merasa agak segan? 7 : Segan? Kenapa? : Dia, eh... perempuan. :... Dan kau laki-laki. BAH! Laki-laki ucapannya complang. Semua orang melihat bahwa dia ini memang wanita dan kau laki-laki. Lalu, mau mu apa? : Maksud saya..., saya... eh, segan bersentuhan dengan perempuan. : Apa? Apa-apaan ini, ayo... lupakan kelaki-lakianmu itu dan tolonglah aku. : Saya adalah jenis laki-laki yang bila bersentuhan dengan tubuh wanita, bisa saja terus... : (CEPAT MEMONG) Saya tahu, saya tahu. Tapi laki-laki mana yang tidak... : O, jadi bapak menganut prinsip yang sama? : (SANGAT TERCENGANG) Prinsip? Ah, kata siapa ini soal prinsip. Aku malah lebih cenderung menyebutnya sebagai penyakit. Ah, persetan dengan semuanya. Bukankah setiap prinsip penyakit juga? Hentikan kesukaan yang agak berlebihan itu, sadarlah bahwa dalam peristiwa seperti ini, yang sangat segera dibutuhkan adalah perbuatan tindakan cepat. Dan tindakan cepat itu disini adalah perbuatan tindakan cepat. Dan tindakkan cepat itu disini adalah menolong atau berbuat sesuatu dengan wanita yang pingsan ini. :Kalau aku tidak salah, dengan orang pingsan, entah dia perempuan entah dia laki-laki, kita tak dapat berbuat apa-apa selain menantikan pingsannya lewat dengan sendirinya. : Ya, ya. Tapi bagaimana bila pingsannya ini tak bakal lewat? : Dalam hal yang demikian, maka dalam arti yang sesungguhnya kita telah berhadapan lagi dengan seorang wanita pingsan tapi.... : (SANGAT TAKUT) Tapi apa? : Ya, bisa saja dengan wanita yang... : (SANGAT TAKUT) Yang...??? SUARA OROK DALAM KERETA MENANGIS : (MENDENGAR OROK MENANGIS, ANITA ITU TIBA-TIBA BERDIRI, LALU CEPAT-CEPAT MENUJU KERETA) Anakku, anakku. (BERUSAHA MENYURUH DIAM OROKNYA DENGAN CARA MENGGOYANGKAN KERETANYA) Kalian telah membuat dia bangun, BAH! Laki-laki kasar kalian semua (SUARA OROK MENANGIS TERUS) (,,, SALING BERPANDANGAN) : Sungguh laki-laki kasar, kasar... (KEPADA OROKNYA DALAM KERETA) 8 Ssssst, ssst, ssst... diamlah, anak, diam. Laki-laki semua sama saja, kasar. Tanpa terkecuali. (MENANGIS) : Stop, stop, stop dengan air matamu, mau apa kau? (OROK DALAM KERETA TAMBAH KUAT MENANGIS, MAU MENYERBU KE KERETA OROK) Stop menangis, stooooop!!! : (MENCEGAH ) Jangan... jangan apa-apakan anakku. : (BERHASIL MENAHAN ) Apa-apaan ini? Kau mau membunuh orok ini? Barangkali kau gila, benar-benar telah gila kau. : (DALAM RANGKULAN KASAR DARI ) Sudah aku katakan stop! Berhenti. Jangan menangis, jangan ada yang menangis. Jangan lagi ada yang menangis... aku tak kuat melihatnya. Aku tak kuat (MENANGIS TERSENDU.,, MELIHAT TERHARU KEPADA YANG MENCOBA MENINDAS TANGIS ISAKNYA. MEREKA TERHARU. DAN DIANTARA ISAKNYA, MEMISAHKAN) Jangan... lagi ada yang menangis... aku tak kuat... tak kuat melihatnya... : Sebaiknya ibu pergi sekarang (KEPADA ANITA) : Ya, sebenarnya kau telah menyebutkan kata yang sebenarnya. Yakni, ibu. (KEPADA ANITA) Ya, sebaiknya ibu pergi saja. : (GUGUP) Ibu... saya ibu... (MELIHAT KEPADA BAYINYA DALAM KERETA) Baik, baik, saya kira juga lebih baik bila saya pergi. : Nah, bagus dan jagalah. (MELIHAT KE DALAM KERETA) Baik-baik dia. ( LALU BERDIRI DI SAMPING ANITA, MELIHAT KEPADA OROK DI DALAM KERETA) Sungguh manis. Anak yang sehat. (MENGITIK-ITIK OROK KEDENGARAN SUARA OROK TERTAA) : (BERDIRI DI SAMPING IT, DAN, IKUT MELIHAT OROK DENGAN LUCUNYA) : (BERHENTI ISAKNYA DAN JUGA MELIHAT OROK ITU DI SAMPING, DAN MELIHAT TERSENYUM KEPADA OROK TERSEBUT) : (TERUS MENGITIK OROK YANG TERUS TERTAA DENGAN GELINYA) (BUNYI GURUH) Nak, dengan itu, hujan bakal datang. Lekaslah ibu pulang. : Nanti dia... (MENUNJUK KEPADA KERETA)... dia basah, bisa sakit. : Kalau ibu berjalan cukup cepat, ibu masih bisa kering sampai di rumah. : Baiklah. (MELIHAT TERHARU PADA KETIGANYA) Terima kasih banyak, kawan-kawan. Berkat kalian bertiga, aku telah menemui diriku kembali. Pertemuan dengan kali ini tak akan mudah dapat aku lupakan (MENJABAT TANGAN ) Maafkan aku, aku telah menempatkan diri saudara tadi dalam kedudukan yang sangat memalukan. 9 (MENJABAT TANGAN KEMUDIAN TANGAN ) Harap saudarasaudara sudi memaafkan aku dan semoga kita saling bertemu lagi (PERGI) // : Sampai bertemu lagi... lagi bu. (KEMUDIAN MEREKA SALING BERPANDANGAN PENUH ARTI) ADEGAN KETIGA BUNYI GURUH : Langit telah gelap benar. Hari mau hujan. : Kata siapa? : Alaaaaa, mau main pencak dengan kata-kata lagi? : Siapa yang mau main pencak dengan kata-kata? Lihat itu, langit justru mulai terang. : (HERAN) Dan guruh yang barusan? : (TAMBAH JENAKA) Ya, tetap guruh. Soalnya sekarang adalah... bahwa guruh yang barusan saja kita dengar itu, sedikitpun tak ada sangkut pautnya dengan hujan. Hujan tak bakal turun lagi. Jelas? : Sungguh saya tak memahami lagi (GELENG-GELENG KEPALA DUDUK DI BANGKU MEMUNGUT BALON-BALON) : Dan saya... sekiranya ditanyakan secara jujur kepada saya. Sedikit pun saya tak memahaminya apa yang sebenarnya yang ada di antara kalian berdua. (DUDUK DI BANGKU, MEMUNGUT BALON-BALON YANG DIPECAHKAN DARI TANAH. MENIUP SOBEKKANNYA MENJADI BALON-BALON KECIL) : Itulah celakanya dari setiap taman. Setiap orang yang datang atau lewat, menganggap merdeka dirinya untuk mencampuri setiap pembicaraan. Ya, setiap penghidupan yang kebetulan sedang berlaku di situ. : Habis... ini kan taman. Ini adalah tempat terbuka untuk umum. Di setiap tempat umum, ada pembicaraan umum. Oleh sebab itu setiap orang terus berbicara. Demi pendapat umum, kalau bapak mau mendapatkan tersendiri... yah jangan ke taman. : Lalu saya harus ke mana? : Ke mana saja, asal jangan ke taman. : Kau enak saja bicara. Ke mana saja... (SEDIH, PILU) Jadi saya tak dapat ke taman. : Mengapa? 10 : (TIBA-TIBA MENANGIS) Tak ada seorang pun yang menginginkan saya. Seorang pun tidak. : Anak-anak bapak? : Delapan orang. Tapi tak seorang pun yang menginginkan saya. Seorang pun tidak. : Terlalu. Dan... istri bapak, bagaimana? : (TIBA-TIBA MERAUNG) Mince... Mince! : (DALAM SAAT ITU TELAH SIAP MEMBUAT BEBERAPA BALON- BALON KECIL DARI SOBEKKAN-SOBEKKAN BALONNYA TADI) Siapa Mince? : Sssst... ibu. Maksud saya, istri bapak kita ini. : (TERPERANJAT) Ibu?! : Istri bapak kita ini. : Oooo, katakan sejak tadi dong. Hhhh, saya benar-benar dibikin kaget oleh perkataan ibu itu tadi. Eh... mengapa ibu... Eeee, istri bapak kita ini rupanya? : Ssssst, jangan kuat-kuat. Saya sendiri belum tahu. : (MERAUNG-RAUNG) Mince... Mince! : Siapa Mince, pak? : Mince... oh, Mince. : Apakah Mince itu istri bapak? : Mince, Mince. Mengapa kau tinggalkan aku setelah kita hidup delapan tahun. : ah, delapan tahun. Kalau begitu, dia setiap tahun dapat seorang anak. : Hebat juga di Mince, eh... istri bapak kita ini maksud saya. : Hebat? Itu kau katakan hebat? Huh, begitu rupanya tanggapanmu tentang manusia dan kemanusiaannya, ya? Itu tafsiranmu rupanya wanita, ya? Aku menyebutnya iseng. Manusia yang tak punya fantasi, lalu meronggong tubuh manusia lain. : Meronggong gimana, ah. Kalau si perempuan tak mau dirongrong, saya kira seluruh persoalan dan filsafat iseng itu tak pernah ada. : Ah, tahu apa. Seolah filsafat iseng itu hanyalah filsafat ranjang dan hormon yang berlebihan saja. Seandainya, bapak kita ini punya fantasi, maka apa yang aku katakkan adalah: Alangkah bahagianya alangkah baiknya, sekiranya selama delapan tahun dia berumah tangga dengan istrinya yang bernama Mince itu cukup membuat anak dua orang saja dan enam buah novel misalnya. 11 : Ahaaa, kau seorang pengarang rupanya. Pengarang gagal yang kemudian terdampar di taman untuk menganalisa peristiwa-peristiwa kecil sebagai hiburan untuk melupakan kegagalanmu itu. : Tahu apa pula kau tentang makna sebenarnya dari kegagalan? Betapa banyak kejadian, bahkan kegagalan itu merupakan penampilan yang paling prinsipiil terhadap karya-karyanya yang tak punya mutu kepalang tanggung. Dan jangan lupa, tidak ada yang lebih dapat merasakan apa arti berhasil selain daripada dia yang mengalami kegagalan. : Mince! O, Mince. Telah kucari-cari kau ke mana-mana. Di mana kau Mince. : Apakah salah seorang anak dari anak bapak yang delapan orang itu tak ada di rumah? : Tidak. : Apakah bapak sudah pasang iklan dikoran? : Soal-soal itu tak layak dikorankan. : Soal-soal itu tak layak dikorankan. : Banyak saja iklan-iklan yang demikian. Seperti yang saya baca pagi tadi disalah satu koran berbunyi: Adinda, Nur... Kembalilah kepada kakanda, pintu rumah kakanda selalu terbuka lebar untuk kau, karena kakanda telah memaafkan semuanya : (MARAH) Laki-laki bubur, ha! Setelah istri yang bernama Nur itu berbuat jahanam dengan laki-laki lain, kemudian lari karena ketahuan berbuat begitu,. Nah, sekarang suami berwatak daun pisang pembukus itu mau mengambil seorang pahlawan dari roman-roman abad pertengahan, dan sikap ini dipertontonkan pada kita, masyarakat dari abad XX ini dengan medium komunikasi yang paling prinsipiil paling vulgar, surat kabar. BAH! : Vulgar? Melalui iklan surat kabar adalah cara yang paling praktis. Dan jangan lupa, bukan suami si Nur itu saja yang telah berbuat begitu. : Pada abad XX ini akan lebih tertolong apabila mereka menolak iklan-iklan bergaya si suami si Nur itu. Dan tahu kita... berapa lagi lelaki yang berkeliaran macam suami si Nur itu di luar kantor iklan surat kabar? Bayangkan, sekiranya semua senasib dengan suami si Nur ini berbuat hal yang sama. : (NYELETUK) Saya juga telah menyuruh menyiarkan kehilan
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks